Emergency Response Team Bantu Pemulihan Fisik dan Mental Korban Bencana di Aceh dan Sumatera
Bantuan dikirim melalui jalur darat dan udara untuk menjangkau daerah yang sulit diakses
Penulis:
Wahyu Aji
Editor:
Eko Sutriyanto
Sementara itu Direktur PT MHU, Kemal Djamil Siregar, juga menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dalam membantu penanganan bencana di Indonesia.
“MHU secara rutin menyiapkan tim ERT untuk merespons bencana di berbagai daerah. Dalam kejadian banjir bandang Sumatra, tim kami bergerak cepat untuk membantu evakuasi, distribusi bantuan, serta memberikan dukungan psikososial dan kesehatan. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk selalu siap hadir di tengah masyarakat ketika dibutuhkan,” jelasnya.
UPDATE DATA BENCANA SUMATERA 2025
Tiga provinsi di Sumatra, yakni Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh dilanda banjir bandang dan tanah longsor yang disebabkan hujan lebat yang mengguyur sejak Senin (24/11/2025).
Puncak intensitas tinggi hujan terjadi pada Selasa hingga Kamis (25-27/11/2025).
Peristiwa ini pun menyebabkan ratusan orang meninggal dunia maupun dilaporkan hilang, serta ribuan orang lainnya luka-luka.
Menurut data dari dashboard Update Bencana Sumatra 2025 di laman resmi BNPB, sejauh ini ada 1.005 orang meninggal dunia dan 217 orang dilaporkan hilang, dikutip Sabtu (13/12/2025) sore pukul 16.00 WIB.
Sementara itu, sekitar 5.400 orang mengalami luka-luka.
Di 52 kabupaten terdampak, tercatat setidaknya kerusakan baik berat maupun ringan menimpa 158.000 rumah, 1.200 fasilitas umum, 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 145 jembatan, 290 gedung/kantor, dan 219 fasilitas kesehatan.
Terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra dipicu oleh deforestasi dan Siklon Tropis Senyar yang saling berkaitan.
Munculnya siklon tropis di area Khatulistiwa diduga kuat dipicu oleh pemanasan global dan krisis iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil sehingga suhu global Bumi naik.
Selain itu, banjir bandang dan tanah longsor terjadi karena faktor manusia, yakni maraknya deforestasi atau penggundulan hutan untuk tambang maupun perkebunan, serta kerusakan tata ruang (penyempitan dan pendangkalan Daerah Aliran Sungai atau DAS), hingga rusaknya ekosistem.
Salah satu indikasi terjelas adalah anomali pada arus air banjir bandang di Sumatra, yang tidak hanya membawa lumpur, tetapi juga ribuan meter kubik kayu gelondongan, beraneka ukuran dan terlihat terpotong rapi dengan kulit sudah dikupas, sampai menumpuk di berbagai titik.
Kayu gelondongan terlihat di area banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Tapanuli Selatan, hingga Kota Sibolga. Gelondongan kayu teronggok di rumah-rumah warga maupun bangunan.
Sebuah video viral di media sosial menunjukkan, gelondongan kayu juga terbawa arus banjir di Jembatan Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Di sisi lain, tumpukan kayu gelondongan juga terlihat memenuhi area muara sungai dan bibir pantai di Kota Padang.
Baca tanpa iklan