Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Nenek 85 Tahun di Makassar Digotong Warga Naik Bentor Ambil Sembako ke Kelurahan

Nenek Wahbah (85) warga Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) digendong tetangganya ke kantor kelurahan mengambil bantuan beras

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Erik S
zoom-in Nenek 85 Tahun di Makassar Digotong Warga Naik Bentor Ambil Sembako ke Kelurahan
HO/IST/Kompas.com/Reza Rifaldi
AMBIL SEMBAKO- Nenek Wahbah (85) yang terbaring lemah didampingi anaknya Ahmad (56) dan istrinya Emmi (65) ditemui awak media di kediamannya di Jalan Inspeksi Kanal Monginsidi Baru, Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Selasa (16/12/2025) malam. 

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR – Nenek Wahbah (85) warga Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) digendong tetangganya ke kantor kelurahan mengambil bantuan beras dari pemerintah.

Hal itu disebabkan pengambilan beras tidak bisa diwakilkan atau harus diambil langsung.

Kejadian berlangsung di Jl Monginsidi Baru, Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, Selasa (16/12/2025).

Baca juga: Pemprov Aceh Surati UNDP, Legislator Minta Pusat Tak Persulit Bantuan Masuk

Saat ditemui di rumahnya, Wahbah tampak terbaring di kasur yang diletakkan di lantai rumahnya.

Rumah itu berada di dalam gang sempit, sekitar 100 meter dari ruas Jalan Inspeksi Kanal.

Di samping Wahbah, tampak putranya Ahmad (56) dan menantunya, Emmi (65).

Emmi yang sesekali memijat dan mengusap rambut mertuanya menceritakan kronologi kejadian tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

Sehari sebelumnya, Emmi mengaku mendapat informasi adanya pembagian sembako di Kantor Lurah Maricaya Baru.

Siang harinya, ia mempercayakan adiknya, Ati, yang merupakan mantan RT sekaligus tetangga, mengambil bantuan tersebut.

“Dia bilang saya ambil beras tapi tidak bisa. Saya tanya kenapa, katanya ditolak, harus yang bersangkutan,” ujar Emmi menirukan perkataan adiknya.

Emmi kemudian meminta Ati kembali ke kantor lurah dengan membawa KTP Wahbah.

Namun, menurut Emmi, KTP tersebut belum dianggap cukup oleh petugas kelurahan.

Baca juga: Beda Sikap Wakil Ketua & Anggota Komisi II DPR soal Aceh Minta Bantuan PBB Tangani Banjir

“Balik lagi adikku bilang tidak bisa. Saya ke sana, mama ini sudah mau dibawa, tapi saya larang karena hujan,” kata Emmi.

Saat tiba di kantor lurah, Emmi mengaku mendapat sambutan yang kurang baik.

Ia kembali mempertanyakan apakah pengambilan bantuan bisa diwakili.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas