Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Giliran Bali Dilanda Banjir, Warga Curhat: Lebih Menakutkan Hujan 3 Jam daripada Hantu

Bali diterjang banjir usai Sumatera, Ubud terendam, penerbangan terganggu, WNA tewas, warga ketakutan hujan ekstrem.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Giliran Bali Dilanda Banjir, Warga Curhat: Lebih Menakutkan Hujan 3 Jam daripada Hantu
Kompas/Raditya Helabumi
ILUSTRASI BANJIR - Genangan banjir di kawasan wisata Ubud, Gianyar, Bali, Kamis (18/12/2025), menghambat aktivitas warga dan wisatawan. 

“Jujur ini ya sebagai warga Bali sekarang saya sudah tidak takut lagi dengan hantu malam-malam, kenapa? karena lebih menakutkan hujan. Teman saya punya dia cerita, dia takut dengan penampakan hantu 3 meter di malam hari sampai kepikiran sekarang saya tidak takut dengan hantu tetapi takut dengan hujan 3 jam lebih berbahaya. Soalnya banjir itu tidak bisa ditebak. Rumah mana jalan mana tiba-tiba banjir saja. Saya takutnya kan tidur 3 jam bangun-bangun surfing di Sanur. Maunya tidur malah surfing. Takut,” kata seorang pria berkacamata di video tersebut. 

Banjir Karena Drainase Jalan Tak Mampu Tampung Debit Air

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Bali, Nusakti Yasa Wedha, memaparkan penyebab utama banjir yang kembali melanda Pulau Dewata. Menurutnya, sistem drainase jalan sejatinya berfungsi dengan baik, namun curah hujan ekstrem membuat kapasitasnya tidak mampu menampung limpasan air.

“Drainase jalan dirancang untuk menampung run off dari badan jalan sebelum dialirkan ke sungai terdekat. Namun tingginya volume air dari catchment area yang luas, ditambah perubahan tata guna lahan, membuat drainase tidak mampu menampung sesuai kapasitas perencanaan,” ujar Nusakti, Kamis (18/12).

Ia menambahkan, di sejumlah lokasi terjadi luapan air dari saluran irigasi ke drainase jalan karena debit air irigasi melebihi kapasitas. Nusakti juga menyoroti masih adanya penggabungan fungsi antara saluran irigasi dan drainase, yang secara prinsip seharusnya dipisahkan.

“Saluran irigasi berfungsi menaikkan muka air untuk sawah, sementara drainase justru menurunkan muka air untuk mencegah genangan. Jika digabung, tentu berpotensi menimbulkan banjir,” jelasnya.

PU Bali menegaskan perlunya pembangunan sistem drainase permukiman dan perkotaan yang terpisah, serta perbaikan saluran rusak dan pembersihan sedimen secara berkala.

Baca juga: Penanganan Pasca-Bencana Banjir Sumatra, BNPB Sebut Aceh sebagai PR: 6 Kabupaten Tanggap Darurat

Akademisi Soroti Tata Ruang dan Politik Anggaran

Pengamat isu perkotaan sekaligus akademisi Universitas Warmadewa, Gede Maha Putra, menilai banjir di Bali hampir terjadi setiap tahun, namun penanganannya belum selaras dengan siklus musim hujan.

Rekomendasi Untuk Anda

“Cuaca ekstrem ini seharusnya sudah bisa diantisipasi. Siklus hujan umumnya Oktober–Maret, sehingga persiapan menghadapi dampak terburuk perlu dilakukan sejak awal,” ujarnya.

Ia menyoroti proyek drainase yang sering kali baru dikerjakan di akhir tahun karena pola politik anggaran, bukan kebutuhan mitigasi bencana. Dari sisi tata ruang, pembangunan di Bali dinilai belum cukup sensitif terhadap risiko banjir, ditambah alih fungsi lahan sawah yang mengurangi ruang resapan.

Menurutnya, Bali membutuhkan proyek besar mitigasi banjir seperti pembangunan danau buatan, kanal pengendali banjir, serta taman kota yang lebih porous. “Jika tidak ada perubahan serius, banjir akan terus menjadi masalah tahunan,” tegasnya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas