Giliran Bali Dilanda Banjir, Warga Curhat: Lebih Menakutkan Hujan 3 Jam daripada Hantu
Bali diterjang banjir usai Sumatera, Ubud terendam, penerbangan terganggu, WNA tewas, warga ketakutan hujan ekstrem.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Setelah banjir besar melanda Sumatera, kini Bali diterjang hujan deras yang memicu banjir di sejumlah kawasan.
- Ubud terendam, penerbangan di Bandara Ngurah Rai terganggu, seorang WNA tewas terseret arus di Tibubeneng, dan warga mengaku ketakutan karena hujan ekstrem sulit diprediksi.
- PU Bali menyoroti kapasitas drainase yang tak mampu menampung debit air, sementara akademisi mengingatkan perlunya tata ruang sensitif terhadap risiko banjir.
TRIBUNNEWS.COM - Setelah banjir besar melanda Pulau Sumatera, meliputi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, kini Provinsi Bali diterjang hujan deras yang memicu banjir di sejumlah kawasan.
Warga mengaku ketakutan karena curah hujan ekstrem selama berjam-jam terasa semakin menakutkan dan sulit diprediksi, membuat ancaman banjir seolah tak bisa ditebak.
Pada November lalu bencana banjir di tiga provinsi di Pulau Sumatera menelan 1.068 orang korban jiwa hingga Kamis (18/12/2025).
Selain korban meninggal dunia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban hilang tercatat sebanyak 190 orang, mengalami penurunan dibandingkan data Rabu (17/12) yang mencapai 192 orang.
Baca juga: Banjir Sumatra, Feri Amsari: Prabowo Turun Langsung pun Tak Sembuhkan Total Luka Psikologi Warga
Bali Dikepung Banjir: Ubud Terendam, Penerbangan Terganggu, WNA Tewas Terseret Arus
Cuaca ekstrem kembali melanda Bali dalam sepekan terakhir. Hujan deras disertai angin kencang sejak Kamis (18/12/2025) menyebabkan banjir di kawasan wisata Ubud, gangguan penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, serta menelan korban jiwa seorang warga negara asing (WNA) di Tibubeneng, Badung.
Ubud Dikepung Banjir
Kawasan wisata Ubud, Gianyar, dikepung banjir setelah hujan deras mengguyur sejak petang. Genangan air merendam jalur utama menuju Ubud, termasuk Jalan Desa Lodtunduh, hingga menyebabkan sejumlah kendaraan mogok.
Di jalan-jalan kecil seperti Jalan Sandat dan Jalan Sri Wedari, ketinggian air mencapai betis orang dewasa, memaksa pengendara menepi dan menimbulkan kemacetan.
Selain banjir, longsor juga dilaporkan terjadi di beberapa titik Gianyar.
BPBD masih melakukan pendataan dan mengimbau masyarakat serta wisatawan untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.
Penerbangan Terganggu di Ngurah Rai
Cuaca ekstrem yang terjadi sekitar pukul 14.09 WITA di kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mengakibatkan sejumlah penyesuaian operasional penerbangan.
General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ahmad Syaugi Shahab, menjelaskan jarak pandang sempat turun di bawah 500 meter.
Demi keselamatan penerbangan dan penumpang, pihak bandara melakukan pengaturan terhadap pesawat yang akan mendarat maupun lepas landas.
“Sekitar pukul 14.28 WITA jarak pandang berangsur normal menjadi 800 meter, sehingga operasional penerbangan kembali berjalan,” ujar Syaugi.
Akibat kondisi tersebut, sebanyak 17 penerbangan menuju Bali terdampak.
Rinciannya, 13 penerbangan sempat holding di udara sebelum akhirnya mendarat dengan aman, satu penerbangan kembali ke bandara asal, dan tiga penerbangan dialihkan ke Lombok.