Nasib Dosen di Makassar Ludahi Kasir: Dipecat, Terancam Penjara, Kini Minta Damai
Dosen UIM viral meludahi kasir, dipecat kampus, terancam penjara, kini minta damai. Publik geram, korban lapor polisi, drama etika jadi sorotan.
Penulis:
Abdul Qodir
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ancaman pidananya berupa penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda.
Baca juga: Kaleidoskop 2025: 6 Figur Viral Jalur Aib, Ada yang Manfaatkan Momen Dulang Cuan hingga Masuk Bui
Klarifikasi Amal Said
Amal Said membantah menyerobot antrean. Menurutnya, kasir di sebelah tempat ia berdiri sudah kosong sehingga ia berpindah.
“Tidak ada aturan yang melarang pelanggan berpindah antrean,” ujarnya.
Ia mengaku tersinggung ditegur pembantu kasir, merasa dilecehkan, lalu spontan meludah.
“Saya salah. Itu perbuatan spontan karena emosi,” ucapnya.
Minta Maaf dan Ingin Damai
Setelah video viral dan korban melapor, Amal Said menyatakan khilaf dan meminta damai. Ia berharap kasus diselesaikan secara kekeluargaan.
Amal juga mengungkapkan dampak besar terhadap reputasi dan kariernya.
“Satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya pegawai, mengajar, ribuan mahasiswa saya selesaikan, masa sedetik itu rusak segalanya,” ujar Amal .
Ia berharap korban juga mengakui adanya kekhilafan agar masalah tidak berlarut. “Kalau bisa diselesaikan baik-baik saja, dosa-dosa saya tanggung sendiri,” katanya.
Kampus Pilih Pecat
Terlepas dari permintaan damai, Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Ghazali melalui sidang Komisi Disiplin dan Etik pada 29 Desember 2025 resmi memberhentikan Amal Said dari tugas mengajar.
Rektor UIM Prof Muammar Bakry menegaskan tindakan tersebut melanggar kode etik dosen dan nilai akhlak kampus.
Amal Said adalah dosen ASN (Aparatur Sipil Negara) di bawah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX.
“Sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang rahmatan lil alamin, nilai kemanusiaan, dan kearifan lokal, kami menilai tindakan tersebut tidak dapat ditoleransi,” ungkapnya.
Setelah dipecat dari UIM, statusnya dikembalikan ke LLDIKTI untuk pemeriksaan etik lebih lanjut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa perilaku tidak etis sekecil apa pun bisa berujung konsekuensi besar. Publik berharap keadilan ditegakkan, korban mendapat perlindungan penuh, dan etika publik dijunjung tinggi oleh aparatur negara maupun tenaga pendidik.