Pedagang Sambat Daya Beli Terompet Tahun Baru Alami Penurunan
Jelang pergantian tahun, ada asa para penjual terompet yang tetap terjaga di berbagai kota. Ini cerita pedagang di Sukoharjo dan Bogor.
Penulis:
Wahyu Gilang Putranto
Editor:
Tiara Shelavie
Wastono menambahkan, dirinya sudah berjualan terompet sejak tahun 2002, jauh sebelum pandemi Covid-19.
Namun, ia mengakui kondisi penjualan saat ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu pernah ramai sekali, sekarang tidak terlalu ramai, tapi tetap disyukuri,” pungkasnya.
Cuaca Jadi Faktor
Sementara itu di penjual terompet dan kembang api juga cukup banyak dijumpai di kawasan Stadion Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Salah satu pedagang, Bayu (37), mengatakan, sudah menjajakan dagangannya sejak dua hari lalu di lokasi tersebut.
Harga terompet dijual mulai dari Rp10 ribu hingga Rp35 ribu.
"Saya itu jualan cuma momen tahun baru doang, kalau bulan puasa jualannya di rumah, itu juga yang jualan ade ipar," ujarnya saat dijumpai TribunnewsBogor.com, Rabu (31/12/2025).
Ia telah berjualan pernak pernik tahun baru sejak tahun 2014.
Menurutnya, menjual pernak pernik tahun baru dari segi pendapatan cukup menjanjikan meskipun hanya setahun sekali.
Sehingga Ia tak pernah melewatkan momen pergantian tahun untuk berjualan dan bahkan istrinya ikut berkecimpung di lapak yang berbeda.
"Karna emang jualan dari dulu, jadi momen tahun baru itu sayang saya lewatin, dari cuma punya lapak satu sampe sekarang punya tiga," katanya.
Kendati demikian, Bayu menyebut penghasilannya pada momen tahun baru ini cenderung menurun dibanding tahun sebelumnya.
Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh faktor cuaca yang selalu turun hujan sehingga penjualannya menurun.
"Masih landai aja dari kemaren, engga kayak tahun kemaren, sekarang lebih anyep, jauh banget. Kayaknya cuaca, soalnya kemren cuaca gak bagus ujan terus, sebenernya saya mau buka lapak dari tanggal 28, karna ujan terus akhirnya dari 30 aja," katanya.
(Tribunnews.com/Gilang Putranto) (TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani) (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)
Baca tanpa iklan