Solusi Bau Kandang Ayam: Peternak Manfaatkan Biogas dan Maggot untuk Kelola Limbah
Inilah cara peternak ayam di Kabupaten Boyolali untuk kelola kotoran ayam. Mulai dari jadi biogas hingga diurai pakai maggot
Penulis:
Muhammad Renald Shiftanto
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Sri Handayani (46) mengolah kotoran ayam jadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga, meski tekanannya terbatas.
- Sisa kotoran yang tak tertampung sempat menimbulkan bau dan dikeluhkan warga sekitar.
- Sri memanfaatkan maggot BSF untuk mengurai kotoran, lalu maggot dipanen jadi pakan ayam
TRIBUNNEWS.COM - Bau tanah selepas hujan masih kuat tercium di udara sekitar rumah Sri Handayani.
Wanita berusia 46 tahun itu baru saja berdandan rapi selepas mengurus peternakan ayam yang berada di belakang rumahnya Dusun Jatisari, Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Ia tengah bersiap untuk panen ribuan ayam pedaging pada Sabtu (10/1/2025) sore.
"Nanti sore panen, mas," ujarnya sambil menunjukkan ribuan ayam di kandang dua tingkat yang sudah siap diangkut.
Ada dua lantai peternakannya, di lantai atas, ayam dibiarkan "lesehan" tanpa adanya sekat atau kandang, hanya dinding dan pintu yang mencegah ayam untuk keluar kandang.
Di bawah ceker mungil ayam berbulu putih tersebut, ada sekam yang digunakan sebagai penyerap kelembaban, menjaga suhu, menjaga kenyamanan ayam, hingga memisahkan ayam dengan kotorannya.
Berbeda dengan yang berada di lantai bawah, ayam diternakkan dengan menggunakan sekat.
Tak ada sekam, kotoran jatuh di tempat yang sudah disiapkan.
Berbeda dengan lantai atas yang tidak berbau kotoran, di lantai bawah masih ada bau kotoran ayam, namun tersamarkan karena sirkulasi udara dengan kipas besar yang mengusir baunya.
Baca juga: Edukasi Cinta Bumi, Siswa di Sukoharjo Ubah Limbah Kantin Jadi Produk Lewat Maggot
Kotoran-kotoran tersebut nantinya akan dibersihkan dua hari sekali.
Bukan dibuang, kotoran tersebut dijadikan biogas oleh Sri.
Kotoran tersebut nantinya akan disimpan di digester atau wadah untuk proses menjadikan kotoran menjadi gas yang bisa dimanfaatkan.
Kotoran murni tersebut dimasukkan ke digester dengan diameter 1,5 meter dan kedalaman 2 meter, lalu gasnya digunakan untuk kebutuhan domestik.
Meski begitu, volume tekanannya masih belum maksimal untuk kebutuhan berat, seperti untuk produksi Ecoprint yang membutuhkan perebusan berjam-jam.
"Kapasitas gas belum mencukupi untuk proses produksi Ecoprint yang membutuhkan perebusan kain selama 2 jam non-stop," ujarnya Sri Handayani.
Baca tanpa iklan