Pengrajin Pahat Batu Muntilan Hadapi Kenaikan Harga Bahan Baku dan Persaingan: Laba Tidak Banyak
Pengrajin pahat batu asal Muntilan, Novianto (35 tahun) bercerita tantangan menghadapi kenaikan harga bahan baku dan persaingan, laba tidak besar.
Penulis:
Nurkhasanah
Editor:
Febri Prasetyo
Novi menjual cobek secara luring dengan mengandalkan pelanggan tetap, sementara produk lain bergantung pada pesanan yang datang.
"(Dijual) offline, kalau cobek sudah ada pelanggan. Walau kadang sepi atau ramai, itu wajarlah dalam usaha," kata bapak satu anak itu.
Namun, perjalanan usahanya tidak selalu mulus.
Tantangan terbesar justru datang dari bahan baku. Novi mengatakan harga batu semakin mahal, sementara kualitasnya tak selalu sebanding.
Di sisi lain, keterbatasan modal juga turut menekan ruang geraknya sebagai pengrajin kecil.
"Tantangan pertama, dari bahan baku. Harga bahan baku semakin naik, sedangkan kualitas batu terkadang semakin menurun karena banyaknya penambang. Akses untuk penambang batu pun sekarang dibatasi."
"Selain bahan baku, ya modal," kata pria 35 tahun itu.
Novianto juga tak menampik bahwa laba yang didapat dari penjualan kerajinan pahat batu tidaklah besar.
Persaingan yang semakin ketat dengan pengrajin lain juga membuat keuntungannya sulit meningkat.
"Laba tidak banyak."
"Pemahat batu semakin banyak, terus harganya susah naik," katanya.
Meski begitu, ada alasan kuat yang membuatnya bertahan.
Novi merasa memiliki kebebasan dan kepuasan pribadi selama menekuni profesi sebagai pengrajin pahat batu.
"Yang bikin bertahan karena kerja yang enak itu usaha sendiri," ujar Novi.
Bagi Novianto, memahat batu bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menghadirkan nilai seni dan kepuasan batin.
Baca tanpa iklan