Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pengrajin Pahat Batu Muntilan Hadapi Kenaikan Harga Bahan Baku dan Persaingan: Laba Tidak Banyak

Pengrajin pahat batu asal Muntilan, Novianto (35 tahun) bercerita tantangan menghadapi kenaikan harga bahan baku dan persaingan, laba tidak besar.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Nurkhasanah
Editor: Febri Prasetyo
zoom-in Pengrajin Pahat Batu Muntilan Hadapi Kenaikan Harga Bahan Baku dan Persaingan: Laba Tidak Banyak
Tribunnews.com/Nurkhasanah
PENGRAJIN PAHAT BATU - Cobek batu buatan pengrajin pahat batu asal Muntilan, diambil Senin (19/1/2026). Pengrajin pahat batu asal Muntilan, Novianto (35 tahun) bercerita tantangan menghadapi kenaikan harga bahan baku dan persaingan, laba tidak besar. 

Novi menjual cobek secara luring dengan mengandalkan pelanggan tetap, sementara produk lain bergantung pada pesanan yang datang.

"(Dijual) offline, kalau cobek sudah ada pelanggan. Walau kadang sepi atau ramai, itu wajarlah dalam usaha," kata bapak satu anak itu. 

perajin pahat batu Novianto
Pengrajin pahat batu asal Muntilan, Novianto (35 tahun) saat ditemui pada Senin (19/1/2026).

Namun, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. 

Tantangan terbesar justru datang dari bahan baku. Novi mengatakan harga batu semakin mahal, sementara kualitasnya tak selalu sebanding. 

Di sisi lain, keterbatasan modal juga turut menekan ruang geraknya sebagai pengrajin kecil.

"Tantangan pertama, dari bahan baku. Harga bahan baku semakin naik, sedangkan kualitas batu terkadang semakin menurun karena banyaknya penambang. Akses untuk penambang batu pun sekarang dibatasi." 

"Selain bahan baku, ya modal," kata pria 35 tahun itu.

Rekomendasi Untuk Anda

Novianto juga tak menampik bahwa laba yang didapat dari penjualan kerajinan pahat batu tidaklah besar. 

Persaingan yang semakin ketat dengan pengrajin lain juga membuat keuntungannya sulit meningkat. 

"Laba tidak banyak."

"Pemahat batu semakin banyak, terus harganya susah naik," katanya.

Meski begitu, ada alasan kuat yang membuatnya bertahan. 

Novi merasa memiliki kebebasan dan kepuasan pribadi selama menekuni profesi sebagai pengrajin pahat batu.

"Yang bikin bertahan karena kerja yang enak itu usaha sendiri," ujar Novi.  

Bagi Novianto, memahat batu bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menghadirkan nilai seni dan kepuasan batin. 

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas