MDMC Minta Bantuan Bencana Sumatera Tak Didominasi Makanan Instan
Ketua MDMC Budi Setiawan mengatakan bantuan korban bencana Sumatera belum memperhatikan kebutuhan anak masih menjadi tantangan.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Wahyu Aji
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Budi Setiawan mengatakan bantuan korban bencana Sumatera belum memperhatikan kebutuhan anak masih menjadi tantangan.
MDMC adalah lembaga resmi di bawah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berfokus pada penanggulangan bencana, kesiapsiagaan, dan respon darurat.
Lembaga ini dibentuk pada tahun 2007 sebagai wujud komitmen Muhammadiyah dalam aksi kemanusiaan, dan kini dikenal sebagai salah satu organisasi relawan bencana terbesar di Indonesia.
Ia pun khawatir akan dampak jangka panjang terhadap anak-anak.
“Kami melihat langsung di Aceh Tamiang, bantuan yang banyak datang itu mie instan dan makanan praktis lain. Kalau itu terus-menerus dikonsumsi, tentu kurang sehat untuk anak-anak,” kata Ketua MDMC PP Muhammadiyah Budi Setiawan, melalui keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).
Budi mengaku sebagian besar bantuan yang datang masih bersifat seragam. Makanan untuk orang dewasa dan balita disamakan, tanpa mempertimbangkan kebutuhan gizi berbeda, terutama bagi balita yang belum bersekolah.
Berdasarkan pemantauan informasi di media sosial, jenis bantuan pangan yang disalurkan ke wilayah terdampak bencana didominasi makanan instan, seperti mie instan dan produk kental manis yang memiliki daya simpan panjang.
Padahal, produk-produk tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak buruk dalam jangka panjang, terutama kental manis yang rendah kandungan gizi dan tinggi gula.
Pemberian kental manis dalam bantuan bencana juga berisiko melanggengkan kesalahan persepsi yang selama ini berkembang di masyarakat, seolah-olah kental manis dapat diperlakukan sebagai susu.
Faktanya, kandungan susu dalam produk tersebut sangat minim.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak kesehatan, mulai dari gangguan jangka pendek seperti kerusakan gigi hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular, termasuk diabetes.
“Untuk balita yang belum sekolah, ini jadi lebih repot. Mereka belum banyak mendapat perhatian, sementara yang datang justru makanan instan,” kata Budi.
Situasi ini diperparah oleh keterbatasan logistik dasar.
Tabung gas, kompor, dan peralatan memasak masih sulit diperoleh dalam jumlah memadai.
Akibatnya, keluarga tidak memiliki pilihan selain mengandalkan makanan siap saji yang tersedia.
Baca tanpa iklan