Gamelan Hidupkan Desa Sawahan Karanganyar: Sanggar Madhangkara Satukan Warga dan Anak Muda
Sanggar Madhangkara di Sawahan hidupkan lingkungan lewat gamelan, satukan warga, dan jadi alternatif positif bagi anak di tengah maraknya game online.
Penulis:
Falza Fuadina
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah padatnya permukiman warga Desa Sawahan, Kelurahan Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, bunyi gamelan kini menjadi penanda kehidupan baru di lingkungan tersebut.
Sejak berdirinya Sanggar Madhangkara, suasana kawasan Sawahan berubah menjadi lebih hidup dengan berbagai aktivitas seni dan budaya yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa.
Sanggar Madhangkara secara resmi didirikan oleh dalang wayang kulit, Ki Cahyo Kuntadi, pada 24 Oktober 2020.
Nama Madhangkara merupakan singkatan dari Mangesthi Dharmaning Kabudayan Rahayu, yang bermakna perbuatan baik melalui kebudayaan dapat membawa manfaat dan keselamatan.
Pengelola Harian Sanggar Madhangkara, Surya menuturkan, kehadiran sanggar membawa perubahan nyata.
“Ada perubahan lingkungan. Sekarang lebih terasa hidup karena sering ada aktivitas positif,” ujar Surya, saat diwawancarai Tribunnews di kawasan Jaten, Jumat (30/1/2026).
Aktivitas rutin di sanggar bukan hanya menghadirkan kesenian tradisional, tetapi juga menciptakan ruang pertemuan sosial bagi warga lintas Rukun Tetangga (RT).
Latihan gamelan, diskusi, dan kolaborasi kegiatan membuat warga yang sebelumnya jarang berinteraksi menjadi lebih saling mengenal.
“Warga jadi lebih mengenal antar-RT. Ada interaksi yang sebelumnya tidak terlalu sering terjadi,” kata Surya.
Salah satu dampak paling terlihat adalah pada anak-anak dan remaja.
Baca juga: Sanggar Madhangkara, Cara Ki Cahyo Kuntadi Mendekatkan Wayang ke Generasi Muda
Di tengah maraknya ketergantungan pada gawai atau gadget dan permainan daring atau game online, sanggar menjadi alternatif kegiatan yang lebih membumi.
Ketertarikan terhadap gamelan tumbuh, bahkan pada anak-anak yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan alat musik tradisional.
“Ada perubahan. Anak-anak sekarang tertarik pada kegiatan gamelan. Yang biasanya banyak main game online, mulai diarahkan ikut kegiatan di sanggar,” jelas Surya.
Tak hanya bergerak di bidang latihan seni, Sanggar Madhangkara juga aktif berkolaborasi dengan masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya tingkat kampung.
Keterlibatan ini memperkuat posisi sanggar sebagai bagian dari kehidupan warga, bukan sekadar tempat latihan tertutup.
Baca tanpa iklan