Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

5 Populer Regional: Anak Ferdy Sambo Selamatkan Remaja Hanyut - Siswa SD Akhiri Hidup 

Aksi heroik Tribrata Putra Sambo menyelamatkan remaja hanyut di Aceh. Kemudian tragedi meninggalnya siswa SD di NTT yang mendapat perhatian publik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Endra Kurniawan
Editor: Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
  • Populer regional merupakan berita yang paling banyak dibaca selama 24 jam terkahir
  • Mulai Tribrata Putra Sambo bersama tujuh taruna Akpol melakukan aksi heroik dengan menyelamatkan seorang remaja yang hanyut di Aceh Tamiang saat bertugas dalam pemulihan pascabencana.
  • Kemudian ada Seorang siswa SD berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur ditemukan meninggal diduga mengakhiri hidupnya, dan kasus ini menarik perhatian pengamat politik Rocky Gerung.

 

TRIBUNNEWS.COM - Berita populer regional dimulai dari aksi heroik anak Ferdy Sambo yang bernama Tribrata Putra Sambo.

Ia bersama 7 rekannya sesama taruna Akpol menyelamatkan remaja hanyut di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Kala itu, Putra Sambo sedang ditugaskan guna pemulihan pascabencana.

Kemudian ada tragedi siswa SD akhiri hidup di Nusa Tenggara Timur (NTT).

YBS (10), ditemukan meninggal karena mengakhiri hidupnya, Kamis (29/1/2026).

Kasus kematian YBS mendapat perhatian dari pengamat politik, Rocky Gerung.

Rekomendasi Untuk Anda

Berikut rangkuman berita populer regional selama 24 jam terakhir:

1. Sosok Tribrata Putra Sambo, Taruna Akpol Anak Ferdy Sambo Selamatkan Remaja Hanyut di Sungai Aceh

ANAK FERDY SAMBO - Anak terpidana penjara seumur hidup kasus pembunuhan Brigadir J, Ferdy Sambo, yakni Tribrata Putra Sambo terlibat dalam penyelamatan remaja hanyut. Tribrata diketahui merupakan taruna Akpol yang lolos pada 2023.
ANAK FERDY SAMBO - Anak terpidana penjara seumur hidup kasus pembunuhan Brigadir J, Ferdy Sambo, yakni Tribrata Putra Sambo terlibat dalam penyelamatan remaja hanyut. Tribrata diketahui merupakan taruna Akpol yang lolos pada 2023. (Instagram @ferdysambo_official, Div Propam Polri)

Aksi heroik dilakukan Brigadir Kepala Taruna, Tribrata Putra Sambo dan enam taruna Akademi Kepolisian (Akpol) lainnya di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Tujuh Taruna Akpol itu berhasil menyelamatkan remaja bernama Haikal (15), yang hanyut di Sungai Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat (30/1/2026).

Tribrata Putra Sambo merupakan anak Ferdy Sambo, jenderal asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dilansir Tribun-Timur.com.

Peristiwa bermula saat para Taruna Akpol sedang melaksanakan bakti sosial di Masjid Al-Ikhsan Kuala Simpang, Aceh Tamiang, sekira pukul 16.45 WIB.

Saat itu, tujuh Taruna Akpol termasuk Tribrata mendengar teriakan warga yang meminta pertolongan karena seorang remaja dilaporkan hanyut di Sungai Kuala Simpang sejauh sekira 20 meter.

Dengan sigap, para Taruna Akpol langsung mengevakuasi korban ke daratan.

Setibanya di tepi sungai, korban diberikan pertolongan pertama hingga berhasil memuntahkan air cokelat Sungai Tamiang yang tertelan.

"Korban katanya kepeleset lagi main," kata Danyon Taruna TK 3 Akademi Kepolisian (Akpol), AKBP Evon Fitrianto dalam keterangannya, Minggu (1/2/2026).

Baca selengkapnya.

2. Dicap Pembohong, Anak Penjual Es Gabus Minta Maaf, Sebut Ayahnya Alami Gangguan Kejiwaan Pascatrauma

VIRAL DI MEDIA SOSIAL - Seorang pedagang es gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat, diintimidasi dua pria berseragam TNI dan polisi karena dituduh menjual es berbahan spons cuci piring. Kejadian ini bermula dari laporan seorang warga Kemayoran bernama Arief Fadillah, Sabtu (24/1/2026). Arief menuduh pedagang bernama Suderajat itu menjual es gabus berbahan spons cuci piring.
VIRAL DI MEDIA SOSIAL - Seorang pedagang es gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat, diintimidasi dua pria berseragam TNI dan polisi karena dituduh menjual es berbahan spons cuci piring. Kejadian ini bermula dari laporan seorang warga Kemayoran bernama Arief Fadillah, Sabtu (24/1/2026). Arief menuduh pedagang bernama Suderajat itu menjual es gabus berbahan spons cuci piring. (HO/IST/X/@iPopBase)

Polemik yang menyeret Suderajat (49), pedagang es gabus asal Kecamatan Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, berkembang menjadi perhatian nasional.

Tak hanya viral di media sosial, tapi juga menyangkut cara publik memandang kejujuran, kemiskinan, dan kesehatan mental warga kecil.

Suderajat sempat dicap pembohong saat diwawancarai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Cap pembohong tersebut keluar setelah Suderajat memberikan keterangan yang tidak konsisten saat diwawancarai.

Misalnya seperti ia mengaku tinggal di kontrakan, padahal punya rumah pribadi.

Akhirnya, keluarga Suderajat pun angkat bicara meluruskan tuduhan tersebut.

Anak Suderajat, Andi, menegaskan bahwa pernyataan ayahnya yang dinilai tidak konsisten bukanlah bentuk penipuan.

Ia menuturkan, ayahnya saat ini alami gangguan kejiwaan pascatrauma yang memengaruhi kemampuan komunikasinya.

"Kami mewakili bapak, kami mohon maaf sebesar-besarnya,"

"Terima kasih kepada seluruh donatur yang sudah menyisihkan rezeki untuk bapak saya. Semoga Allah membalas kebaikan, saya hanya bisa berdoa," kata Andi.

Mengutip TribunJakarta.com, diagnosis tersebut didasarkan pada tinjauan awal pihak Kecamatan Bojonggede.

Baca selengkapnya.

3. Oknum Perwira di Polda Sumut Disebut Perintahkan Bawahan Jual Sabu, Ini Identitasnya

ILUSTRASI SABU - Ajun inspektur dua (Aida) Erina Sitapura mengaku disuruh atasannya berpangkat inspektur dua (Ipda) berinisial JN menjual narkoba jenis sabu
ILUSTRASI SABU - Ajun inspektur dua (Aida) Erina Sitapura mengaku disuruh atasannya berpangkat inspektur dua (Ipda) berinisial JN menjual narkoba jenis sabu (Istimewa)

Ajun inspektur dua (Aipda) Erina Sitapura mengaku disuruh atasannya berpangkat inspektur dua (Ipda) berinisial JN menjual narkoba jenis sabu.

Keduanya bertugas pada unit pada Subdit I Reserse Narkoba Polda Sumut.

Keterangan tersebut diungkapkan Erina Sitapura saat diperiksa di Pengadilan Negeri Binjai, Sumatra Utara, Senin (2/2/2026). 

Erina Sitapura pada kasus tersebut duduk sebagai terdakwa dan telah dipecat dari Polri.

"Perintah Pak J biar ada uang operasional, karena saya siap perintah, tertekan atas perintah JN," ujar Erina Sitapura dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua, Fadel Pardamean. 

Erina mengungkapkan JN berperan sebagai perancang untuk menjual sabu seberat satu kilogram tersebut. 

"Harganya Rp260 juta dijual Rp320 juta," ujar Erina. 

Keuntungan Rp60 juta itu akan dibagi rata. Oknum polisi Brigadir AH, Ipda JN, terdakwa dan kurir yang mencari pembeli, masing-masing mendapat Rp15 juta.

Terkait asal sabu tersebut, Erina menjawab tidak tau. 

Erina hanya menyebut, AH yang menyerahkan sabu satu kilogram itu dengan dibungkus paper bag warna cokelat.

"Perintah Pak JN jualkan," ucap terdakwa Ngatimin menguatkan keterangan Erina.

Dalam perkara ini, ada empat terdakwa yang duduk di kursi pesakitan.

Baca selengkapnya.

4. Nasib PJ 'Orang Penting' yang Tendang Kucing hingga Mati di Blora, Terancam 1,6 Tahun Penjara

KUCING DITENDANG - Tangkap layar video detik-detik saat seorang pria tendang kucing di Lapangan Kridosono Blora, Jawa Tengah, pada 25 Januari 2026 sekira pukul 09.00 WIB.
KUCING DITENDANG - Tangkap layar video detik-detik saat seorang pria tendang kucing di Lapangan Kridosono Blora, Jawa Tengah, pada 25 Januari 2026 sekira pukul 09.00 WIB. (Istimewa/Kolase: Instagram @faridaarz)

Kasus kekerasan hewan, khususnya kucing kembali menjadi sorotan di Indonesia.

Pada Agustus 2025, warganet digegerkan dengan video dua orang diduga bekerja di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) menyiksa kucing.

Dalam video viral tersebut, terlihat seorang pria menginjak kepala seekor kucing hingga kucingnya berontak kesulitan bernapas.

Kasus ini sempat menjadi perhatian Finalis Miss Earth 2019 Lirabica yang ikut turun tangan.

Terbaru, kekerasan terharap kucing dilaporkan terjadi di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Seorang pria berinisal PJ (69) yang mengaku sebagai 'orang penting' tega menendang kucing milik warga.

Insiden terjadi di Lapangan Kridosono Blora, Jawa Tengah, pada 25 Januari 2026 sekira pukul 09.00 WIB.

PJ kini harus berusuan dengan polisi karena aksi kejinya.

Kasat Reskrim Polres Blora AKP Zaenul Arifin membenarkan telah memintai keterangan PJ, pada Senin (2/2/2026) kemarin.

"Pagi ini (Senin, red) saya bersama penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap pemilik kucing."

"Sosok terduga pelaku penendangan juga kami minta keterangan hari ini. Prosesnya masih berlangsung," ujar AKP Zaenul Arifin, dikutip dari Instgaram @polres_blora.

Berdasarkan hasil klarifikasi, kucing tersebut dikonfirmasi telah mati sekitar satu minggu setelah insiden terjadi. 

Baca selengkapnya.

5. Tragedi Siswa SD Akhiri Hidup di NTT, Rocky Gerung: Keberhasilan yang Dibanggakan Prabowo Gugur

ANAK SD AKHIRI HIDUP - Penyidik Polres Ngada olah TKP temuan jasad siswa SD di pohon cengkeh, Ngada, NTT, Kamis (29/01/2026). Sepucuk surat terakhir korban untuk ibunda, di TKP, menyentuh hati warga dan membuka luka pendidikan.
ANAK SD AKHIRI HIDUP - Penyidik Polres Ngada olah TKP temuan jasad siswa SD di pohon cengkeh, Ngada, NTT, Kamis (29/01/2026). Sepucuk surat terakhir korban untuk ibunda, di TKP, menyentuh hati warga dan membuka luka pendidikan. (TribunFlores.com)

Kasus seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena, mengguncang nurani publik.

Menanggapi peristiwa tersebut, pengamat politik, Rocky Gerung menilai, kejadian ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan negara.

Di antaranya, kebijakan pemerintah pusat yang memangkas anggaran Transfer ke Daerah (TKD) secara signifikan.

Belum lagi anggaran pendidikan yang dipangkas untuk membiayai program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Rocky, negara sejak awal mengetahui banyak daerah-daerah, termasuk NTT, tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menopang daerahnya sendiri.

Pendapatan daerah yang minim, keterbatasan akses terhadap sumber daya ekstraktif, serta tidak adanya sumber ekonomi berkelanjutan membuat daerah-daerah ini sangat bergantung pada bantuan pusat. 

Ketika hak daerah untuk menerima dukungan itu diputus atau dipersempit, maka konsekuensi sosial yang serius menjadi tak terelakkan.

"Jadi semua itu ada konsekuensi dari kebijakan di pusat. Kita mau lihat itu sebagai hasil negative impression terhadap prestasi-prestasi pemerintahan ini," katanya, dikutip Tribunnews dari YouTube Rocky Gerung Official, Selasa (3/2/2026).

Rocky menyebut, pemerintah boleh saja memamerkan capaian perumahan rakyat, yang bahkan sering kali baru sebatas proposal.

Atau membanggakan Proyek Strategis Nasional (PSN), hilirisasi, dan berbagai rencana besar lainnya.

Akan tetapi, semua itu kehilangan makna ketika di hulu persoalan justru diabaikan.

Baca selengkapnya.

(Tribunnews.com)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas