Sarapan Sate Kambing di Solo: Dari Tradisi Kuliner hingga Alasan Pedagang Buka Pagi
Di Solo, aroma sate kambing sudah mengepul sejak pagi. Bukan sekadar kebiasaan unik, sarapan sate menyimpan cerita budaya dan kesegaran daging.
Penulis:
Muhammad Renald Shiftanto
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Sate menjadi salah satu kuliner Indonesia yang cukup dikenal di dunia.
Para pedagang olahan daging yang dipanggang ini banyak membuka warungnya pada siang atau malam hari.
Namun kondisi tersebut berbeda di Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Khususnya sate kambing, banyak pedagang yang sudah buka sejak pagi.
Tak jarang, banyak pelanggan yang dari pagi sudah mengonsumsi sate kambing Solo untuk sarapan.
Bahkan, banyak wisatawan yang cukup kaget karena warga Solo sudah tak asing lagi dengan sarapan sate kambing.
Youtuber Tanboy Kun pada tahun lalu pernah mengunggah konten tentang sarapan daging kambing yang penjualnya sudah buka dari subuh.
"Biasanya yang jualan ini tuh siang atau enggak sore atau enggak malam sekalian,"
"Tapi gue belum pernah dengar orang yang jual makanan ini pagi guys, pagi Subuh atau parak siang seperti ini nih," ujar Tanboy Kun di depan Sate Kambing Pak Parjo Brengos.
Tim Tribunnews.com mencoba menelusuri, apakah dari dulu penjual sate kambing di Solo memang berjualan pada pagi hari.
Seorang profesor Filolofi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum menjelaskan bahwa secara tradisional, daging kambing biasanya dikonsumsi pada siang atau malam hari.
Sementara sarapan khas Solo adalah Jenang Tumpang (Bubur Tumpang) atau nasi liwet.
Namun, dengan berkembangnya ekonomi dan budaya, jam makan jadi lebih fleksibel.
"Sebenarnya, khusus di Solo karena memang menjadi kota kuliner, jadi apapun yang dijual, laku di Solo," ujar Prof. Bani.
"Jadi, makanannya tidak selalu daging olahan kambing," lanjutnya.
Baca juga: Resep Sate Kambing Bumbu Kecap dan Cara Membuatnya, Sajian Spesial Idul Adha
Baca tanpa iklan