Banjir dan Longsor di IMIP Morowali, DPR Dorong Evaluasi Tata Kelola Lingkungan Tambang
Robert J. Kardinal mengatakan peristiwa di IMIP tidak dapat dipandang semata sebagai bencana alam.
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Banjir dan longsor melanda kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, menyebabkan 1 orang tewas.
- Peristiwa serupa juga terjadi pada tahun lalu, tepatnya 22 Maret 2025, yang mengakibatkan tiga pekerja tertimbun longsor.
- DPR RI mendorong pemerintah segera melakukan pembenahan dan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banjir dan longsor menelan korban jiwa manusia di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Bencana ini dinilai menjadi alarm nasional atas lemahnya tata kelola lingkungan di kawasan industri tambang.
DPR RI mendorong pemerintah segera melakukan pembenahan dan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
Anggota Komisi IV DPR RI, Robert J. Kardinal, mengatakan peristiwa di IMIP tidak dapat dipandang semata sebagai bencana alam.
Politisi senior Partai Golkar ini menilai perlu ditelusuri keterkaitan antara kondisi daerah aliran sungai (DAS), aktivitas pertambangan, serta efektivitas pengawasan izin lingkungan di kawasan tersebut.
“Kalau sampai ada korban jiwa di kawasan industri strategis, berarti ada masalah serius dalam tata kelola lingkungan. Ini harus menjadi alarm nasional agar peristiwa seperti ini tidak terus terulang," kata Robert kepaa wartawan di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Hal itu disampaikannya menyoroti longsor yang menelan korban jiwa di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Dalam peristiwa ini terdapat 1 pekerja tewas dan beberapa alat berat ikut tertimbun.
Berdasarkan catatannya, peristiwa serupa juga terjadi pada tahun lalu, tepatnya 22 Maret 2025.
Dalam peristiwa tersebut, tiga pekerja tertimbun longsor di kawasan PT IMIP.
Dua orang diantaranya ditemukan tewas di lokasi kejadian.
Fokus solusi pencegahan
Robert menegaskan fokus utama Pemerintah dan pelaku usaha saat ini harus diarahkan pada solusi pencegahan.
Pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) yang berkelanjutan menjadi kunci untuk menekan risiko banjir dan longsor, khususnya di wilayah dengan intensitas aktivitas tambang yang tinggi.
Robert menyebut rehabilitasi DAS di sekitar Morowali harus menjadi prioritas.
Penanaman kembali, penguatan sempadan sungai, serta pengendalian erosi tidak bisa ditunda karena kerusakan di wilayah hulu berpotensi meningkatkan risiko bencana, terutama saat cuaca ekstrem.
Baca tanpa iklan