Pertanian Jadi Tulang Punggung Penopang Ekonomi Masyarakat Jawa Kuno
Pertanian merupakan sektor vital yang menyangga perekonomian masyarakat Jawa kuno pada era klasik Hindu-Buddha.
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Informasi yang termaktub di dalam prasasti, relief candi, hingga kitab-kitab kuno mengindikasikan bahwa pertanian merupakan sektor vital yang menyangga perekonomian masyarakat Jawa kuno pada era klasik Hindu-Buddha.
Arkeolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Andi Putranto berkata pertanian erat kaitannya dengan sawah atau tanah basah yang menjadi tempat budidaya tanaman pangan. Adapun tanah kerap disebut dalam prasasti yang menginformasikan penetapan sima, yaitu tanah yang dibebaskan atau dikurangi pajaknya.
“Salah satu yang biasa kami ambil untuk data arkeologi yang tercantum dalam prasasti, sawah itu biasanya akan digunakan sebagai salah satu yang nanti diberikan sebagai anugerah sima,” kata Andi dalam sarasehan bertajuk "Budaya Pertanian: Warisan Masa Lalu, Tantangan Masa Kini" yang digelar oleh Komunitas Kandang Kebo, sebuah komunitas pelestari budaya, di Dusun Ngalian, Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu, 25 April 2026.
Menurut Andi, tanah sima biasanya diberikan kepada suatu desa atau suatu kelompok. Hasil dari tanah sima umumnya digunakan untuk merawat bangunan suci keagamaan, misalnya candi.
Arkeolog berambut gondrong itu menyebut terdapat ribuan prasasti yang ada di Indonesia. Sebanyak 90 persen dari prasasti-prasasti tersebut bisa dikatakan berisi informasi tentang sima.
Dia menyampaikan kemunculan prasasti yang menetapkan sima bisa menjadi tolok ukur kekayaan suatu kerajaan pada masa Jawa kuno. Di satu sisi, kerajaan tidak mendapat pajak dari sima. Namun, di sisi lain, kerajaan tidak perlu memikirkan biaya perawatan bangunan suci dan lainnya.
Adapun prasasti yang mencatat tentang sima misalnya prasasti Harinjing yang ditemukan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Prasasti ini dirinci menjadi Harinjing A (804 M), B (921 M), dan C (927 M). Semuanya menginformasikan sima.
Pertanian yang Maju pada Zamannya
Meskipun bukti tertulis tentang pertanian di Jawa baru ada pada masa Hindu-Buddha, Andi menyebut praktik pertanian sebenarnya sudah dilakukan pada era sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan data arkeologis yang ditemukan pada masa Megalitikum.
Menurut Andi, sawah umumnya dibagi dua berdasarkan irigasinya, yaitu sawah dengan irigasi teratur dan sawah dengan irigasi musiman yang mengandalkan air hujan.
“Data kita tidak lengkap, tetapi kebanyakan sawah irigasi ini sudah ada banyak di Jawa, khususnya di era masa Jawa kuno, dan menghasilkan padi,” ujar dia.
“Di Nusantara, khususnya Jawa, beras menjadi komoditas yang sangat luar biasa besarnya, menjadi andalan, dikenal dalam catatan-catatan asing. Ini menjadi penghasilan terbesar.”
Andi kemudian mengutip pernyataan Tome Pires, orang Portugis yang pernah tinggal di Malaka pada penghujung era Hindu-Buddha (awal abad ke-16), mengenai beras sebagai komoditas utama pertanian.
Pires menyebut Jawa, terutama Gresik, Tuban, dan Surabaya, sebagai penghasil beras yang diekspor ke Malaka, Maluku, hingga Tiongkok. Beras ini dihargai murah sehingga menandakan berlimpahnya produksi di Jawa.
Baca juga: Selayang Pandang Ikhtiar Konservasi Alam Indonesia Masa Hindu-Buddha
Adapun tata kelola pertanian era Hindu-Buddha juga bukan ala kadarnya, melainkan sudah bisa dikatakan maju atau kompleks pada masanya. Dia menyebut warisan atau jejak pertanian Jawa kuno masih terlihat hingga saat ini, misalnya dengan keberadaan sistem subak di Pulau Bali.
Baca tanpa iklan