Krisis Sampah, Warga Kuala Tanjung Sumut Ubah Limbah Jadi Harapan dan Sumber Ekonomi
Warga Desa Kuala Tanjung, Sumatera Utara, bergerak mandiri mengolah sampah yang selama ini terabaikan menjadi sesuatu yang bernilai.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Masalah sampah di Indonesia belum tertangani optimal, mendorong warga Desa Kuala Tanjung bergerak mandiri sejak 2021 mengolah limbah dengan maggot hingga kini mampu memproses 1–2 ton per hari
- Inisiatif ini melibatkan kelompok rentan, membuka kerja, pendidikan, dan ekonomi berbasis daur ulang
- Namun, keterbatasan infrastruktur dan minimnya sistem terintegrasi membuat beban masih bertumpu pada masyarakat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Persoalan sampah di Indonesia belum menunjukkan perbaikan signifikan. Di banyak daerah, pengelolaan limbah masih terbatas, sementara volumenya terus meningkat setiap hari.
Di tengah situasi itu, warga Desa Kuala Tanjung, kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara dipaksa bergerak mandiri mengolah sampah yang selama ini terabaikan menjadi sesuatu yang bernilai.
Tanpa sistem pengelolaan yang memadai, inisiatif itu dimulai sejak 2021 oleh Didi Saputra (41), yang akrab disapa Untung.
Ia mengajak warga mengolah sampah organik menggunakan maggot atau larva Black Soldier Fly, metode sederhana yang kini menjadi tulang punggung pengelolaan limbah di desanya.
Baca juga: Kementerian Lingkungan Hidup Tekankan Peran Kolaborasi untuk Mencapai Pengelolaan Sampah 100 Persen
“Kalau tidak kami kelola sendiri, sampah akan terus menumpuk. Tidak ada pilihan lain,” ujarnya dalam keterangan dikutip, Senin (27/4/2026).
Dari langkah kecil tersebut, lahirlah kelompok Sari Larva Berdaya (SLB) yang kemudian berkembang menjadi Bank Sampah Berseri pada 2024.
Kini, mereka mampu mengelola hingga 1–2 ton sampah per hari—angka yang mencerminkan besarnya volume limbah yang sebelumnya tidak tertangani.
Namun, di balik capaian itu, tersimpan realitas yang lebih besar: beban pengelolaan sampah masih banyak bertumpu pada inisiatif masyarakat, bukan sistem yang terintegrasi.
Dari Limbah Menjadi Harapan
Di Kuala Tanjung, sampah bukan hanya soal lingkungan—tetapi juga tentang manusia dan kesempatan kedua.
Sebanyak 17 warga kini terlibat aktif dalam kegiatan ini, termasuk penyandang disabilitas dan anak-anak putus sekolah. Mereka bekerja memilah sampah, mengolah limbah, hingga membuat produk daur ulang.
“Ada yang tuna netra dan punya keterbatasan lain, tapi mereka tetap bisa berkontribusi,” kata Didi.
Bagi sebagian dari mereka, ini adalah pekerjaan pertama. Bagi yang lain, ini adalah jalan untuk kembali merasa berdaya.
Tak berhenti di situ, kelompok ini juga membantu anak-anak putus sekolah untuk melanjutkan pendidikan melalui ujian Paket B dan C—membuka kembali akses terhadap masa depan yang sempat tertutup.
“Ini bukan hanya soal uang, tapi soal membantu satu sama lain,” ujar Didi.
Baca tanpa iklan