Banjir dan Longsor di Bone Bolango Gorontalo: Warga Terseret Arus hingga ke Laut
Banjir dan longsor terjang Bone Bolango, 35 rumah terdampak. Satu warga selamat usai terseret arus hingga ke laut.
Editor:
Glery Lazuardi
Data sementara mencatat sebanyak 35 kepala keluarga atau sekitar 105 jiwa terdampak akibat bencana banjir dan longsor tersebut.
BPBD Bone Bolango kini masih melakukan pendataan lanjutan terkait kerusakan rumah dan kebutuhan mendesak warga di lokasi pengungsian. Bantuan yang dibutuhkan antara lain makanan siap saji, logistik darurat, selimut, serta perlengkapan kebutuhan dasar lainnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga tengah mengupayakan pengerahan alat berat untuk membersihkan material longsor yang menutup sebagian akses menuju permukiman warga.
"Ada material longsor yang menutup sebagian akses permukiman warga. Kami sedang berkoordinasi agar alat berat segera masuk untuk mempercepat proses pembersihan," jelasnya.
Hingga Rabu siang, warga bersama aparat gabungan masih melakukan kerja bakti membersihkan lumpur, kayu, dan material longsor yang menumpuk di sekitar rumah.
BPBD mengingatkan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan longsor maupun bantaran sungai agar meningkatkan kewaspadaan karena hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Bone Bolango dalam beberapa hari ke depan.
Petugas gabungan juga terus melakukan pemantauan di lokasi bencana guna mengantisipasi kemungkinan banjir maupun longsor susulan apabila curah hujan kembali meningkat.
Penjelasan BNPB
Banjir bandang menerjang lima desa di Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, Selasa (26/5/2026) sore. Derasnya arus banjir menghanyutkan berbagai perabot rumah tangga milik warga dan merendam permukiman setelah Sungai Didingga meluap akibat hujan lebat berkepanjangan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan banjir bandang terjadi sekitar pukul 16.00 WITA dan berdampak pada ratusan kepala keluarga di wilayah terdampak.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam waktu lama menjadi pemicu utama bencana tersebut.
"Peristiwa itu dipicu oleh hujan lebat dengan durasi lama dan mengakibatkan meluapnya Sungai Didingga hingga mencapai ketinggian muka air 40 hingga 200 sentimeter," ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Rabu (27/5/2026).
Dalam rekaman video yang diterima BNPB, banjir bandang tampak menerjang kawasan permukiman warga dengan arus yang sangat deras.
Material bangunan seperti seng atap dan potongan kayu terlihat hanyut terbawa arus. Tidak hanya itu, sejumlah perabot rumah tangga seperti lemari, kursi, hingga mesin cuci juga ikut terseret banjir.
Suara kepanikan warga juga terdengar dalam video saat mereka berusaha menyelamatkan diri dan mengamankan barang-barang yang masih bisa diselamatkan.
Menurut BNPB, sedikitnya lima desa terdampak banjir bandang tersebut, yakni Desa Biau, Desa Bualo, Desa Omuto, Desa Didingga, dan Desa Luhuto.