Mahasiswa UGM Tanggapi Ajakan Sudaryono dan Nusron Wahid untuk Pergi ke Papua
Ketimbang menuruti ajakan ke Papua, perwakilan mahasiswa UGM mendesak pemerintah membuka akses seluas-luasnya kepada jurnalis.
Penulis:
Febri Prasetyo
Sejumlah petugas keamanan turun tangan untuk mengadang para mahasiswa yang berusaha menemui ketiga ketiga pejabat itu. Aksi saling dorong pun terjadi.
Setelah situasi panas mereda, Nusron dan Sudaryono mendapat kesempatan berdialog dengan mahasiswa dan aktivis. Dia memperkenankan mahasiswa bertanya apa saja kepadanya.
“Kita ini datang untuk menjawab semua kegundahan Anda. Anda boleh ngomong apa saja, tapi kita sudah buka di dalam forum ini sehingga Anda boleh tanya masalah kemiskinan, masalah Makan Bergizi Gratis (MBG), masalah apa saja. Boleh bertanya dan kita jawab,” ujar Sudaryono.
Kemudian, dia mengajak mahasiswa untuk membicarakan pesta babi, sebuah tradisi budaya di Papua. Tradisi itu diangkat dalam film kontroversial berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
“Bahkan, nanti kalau ada yang kurang baik, kita ajak Anda semua untuk ikut, misalnya orang ngomongin pesta babi di Papua,” ujar Sudaryono.
“Ini saya kasih tahu misalnya pesta babi di Merauke. Kalau mau ayo kita pergi, misalnya gitu.”
Baca juga: UGM Masih Bungkam soal Mahasiswa Geruduk Diskusi Nusron, Sudaryono dan Budiman Sudjatmiko
Sementara itu, seorang mahasiswa mengklaim ada ratusan ribu hektare tanah di Papua yang difungsikan menjadi food estate atau lumbung pangan.
“Ratusan ribu hektare habis buat food estate. Bayangkan. Kita lihat saja tanah itu. Siapa yang menentukan tata ruang itu? Bapak, kan? Bayangin, Pak,” tanya mahasiswa itu.
Mahasiswa itu berkata gara-gara proyek food estate, banyak orang Papua harus tergusur dari tanahnya.
Nusron yang menjadi Menteri ATR/BPN kemudian menimpali pernyataan mahasiswa.
“Sekarang gini, Mas, kalau Anda mengatakan saya menggusur orang Papua, kapan kamu mau tak ajak ke sana lihat?” tanya Nusron.
Sejumlah mahasiswa menjawab, “Ngapain?” Mereka balik bertanya apakah Nusron sudah menonton film Pesta Babi.
Sementara itu, dalam unggahan di akun Instagram miliknya, Selasa, Sudaryono menjawab tudingan tentang program lumbung pangan di Papua.
"Banyak orang berkumpul, melempar protes penuh ragu. Wajar, warga berhak menagih jawaban. Saya duduk bersanding sahabat saya, Gus Nusron selaku Menteri ATR BPN. Tudingan datang bertubi-tubi soal program Food Estate di Merauke," kata Sudaryono.
"Sangat gampang melempar tuduhan saat kita duduk nyaman di pulau seberang. Gus Nusron tidak mau membalas pakai teori panjang lebar. Mungkin beliau pikir bakal percuma. Beliau mengajak penanya itu melihat langsung Papua. Tiket bisa diatur. Tapi responsnya sungguh disayangkan. “Ngapain loh ngapain!” sergah mereka menolak."
Sudaryono mengatakan kritik selalu dibutuhkan. Namun, dia menilai para pengkritik harus melihat langsung kondisi di lapangan.
(Tribunnews/Febri/Tribun Jogja/Almurfi Syofyan)