Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mengetahui Matahari Sebagai Pusat Tata Surya Kita

Matahari merupakan objek terbesar di tata surya dengan volume yang membutuhkan 1,3 juta Bumi untuk mengisinya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Mengetahui Matahari Sebagai Pusat Tata Surya Kita
techradar.com
ilustrasi matahari 

TRIBUNNEWS.COM -- Matahari merupakan sumber energi di tata surya kita ini.

Berusia 4,5 miliar tahun, Matahari merupakan bola hidrogen dan helium yang sangat panas di pusat tata surya.

Matahari berjarak sekitar 150 juta kilometer dari Bumi.

Tanpa energinya, kehidupan seperti saat ini mungkin tidak akan ada di Bumi.

Matahari merupakan objek terbesar di tata surya dengan volume yang membutuhkan 1,3 juta Bumi untuk mengisinya.

Baca juga: Teleskop Hubble Temukan Komet Terbesar di Tata Surya, Terbang Menuju Matahari

Dilansir dari NASA, gravitasi Matahari menyatukan tata surya, menjaga segala sesuatu, mulai dari planet terbesar hingga puing-puing terkecil, tetap berada di orbit di sekitarnya.

Bagian terpanas Matahari adalah intinya yang memiliki suhu 15 juta derajat Celcius.

Rekomendasi Untuk Anda

Aktivitas Matahari, dari letusannya yang kuat hingga aliran partikel bermuatan yang dikirimnya, memengaruhi sifat ruang di seluruh tata surya.

NASA dan badan antariksa internasional lainnya terus memantau Matahari dengan armada pesawat ruang angkasa untuk mempelajari segala sesuatu mulai dari atmosfer hingga permukaannya, dan bahkan mengintip ke dalam Matahari.

Baca juga: Cerita Munjilah Ketika Rumahnya Kejatuhan Benda Keras, Ternyata Meteorit, Tetangga Dengar Ledakan

Mengapa Matahari yang menjadi pusat tata surya?

Matahari adalah satu-satunya bintang di tata surya. Matahari menjadi pusat tata surya karena gravitasinya mampu menyatukan tata surya.

Segala sesuatu di tata surya berputar di sekitar Matahari, mulai dari planet, asteroid, komet, dan serpihan kecil di ruang angkasa.

Mengikuti teori heliosentrisme, diketahui bahwa Bumi dan planet-planet lain di tata surya mengorbit mengelilingi Matahari.

Dilansir dari Space.com, Nicolaus Copernicus mengusulkan model heliosentris dalam karyanya yang diterbitkan pada tahun 1543, menurut NASA Earth Observatory.

Teori yang mengatakan bahwa Matahari sebagai pusat adalah benar, namun model secara keseluruhan dianggap memiliki banyak ketidakakuratan.

Baca juga: Hari Tanpa Bayangan Matahari Terjadi di Indonesia, Ini Cara Melihat dan Daftar Wilayahnya

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas