Teori Multiverse dan Inflasi Abadi Big Bang Masih Jadi Konspirasi, Adakah Alam Semesta Lain?
Teori Multiverse dan Inflasi Abadi Big Bang masih jadi konspirasi, apakah ada alam semesta lain? Apakah ada 'Bumi' lain di luar Galaksi Bima Sakti?
Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Tiara Shelavie
Dunia yang tumpang tindih muncul dalam mitologi Nordik serta kosmologi Buddha dan Hindu.
Gagasan tentang banyak alam semesta yang bersentuhan muncul di media cetak sejak novel Edwin A. Abbott "Flatland: A Romance of Many Dimensions" (Seeley & Co., 1884), dan masih dapat dilihat di film-film terbaru seperti 2016 Film Marvel "Doctor Strange."
Seluruh genre novel grafis Jepang, yang disebut isekai, berhubungan dengan karakter yang dipindahkan ke dunia paralel, seperti yang dijelaskan oleh Perpustakaan Umum New York.
Baca juga: 6 Rekomendasi Anime Isekai: Ada Sword Art Online, No Game No Life, hingga Spirited Away
4. Alam semesta tak terbatas
Para ilmuwan tidak dapat memastikan apa bentuk ruang-waktu itu, tetapi kemungkinan besar membentang tanpa batas.
Tetapi jika ruang-waktu berlangsung selamanya, maka itu harus mulai berulang di beberapa titik, karena ada sejumlah cara partikel dapat diatur dalam ruang dan waktu.
Alam semesta yang dapat diamati meluas hanya sejauh 13,7 miliar tahun cahaya.
Selain teori ruang-waktu tanpa batas, alam semesta lain dapat muncul dari teori yang disebut "inflasi abadi", seperti yang telah dijelaskan di atas.
5. Alam Semesta Paralel
Gagasan lain yang muncul dari teori string adalah gagasan "braneworlds", yaitu gagasan alam semesta paralel yang melayang-layang di luar jangkauan kita.
Teori ini diusulkan oleh Paul Steinhardt dari Universitas Princeton dan Neil Turok dari Perimeter Institute for Theoretical Physics di Ontario, Kanada.
Idenya datang dari kemungkinan lebih banyak dimensi di dunia kita daripada tiga ruang dan satu waktu yang kita ketahui.
Selain "bran" ruang tiga dimensi kita sendiri, bran tiga dimensi lainnya mungkin mengapung di ruang dimensi yang lebih tinggi.
Jadi, alam semesta itu seolah bertumpuk ke atas, seperti lempengan, menurut Fisikawan Universitas Columbia Brian Greene.