Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Ilmuwan Indonesia Menembus Batas Riset, Padukan Sains, Hukum dan Etika

Perjalanan ilmiahnya dimulai dari riset di NASA tentang kesehatan astronot, lalu berlanjut di University of California San Francisco. 

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Ilmuwan Indonesia Menembus Batas Riset, Padukan Sains, Hukum dan Etika
ISTIMEWA
Raymond R. Tjandrawinata, Ilmuwan tanah air menunjukkan kiprahnya di panggung dunia. 
Ringkasan Berita:
  • Perjalanan Ilmuwan Indonesia menunjukkan jika riset tak terbatas di laboratorium.
  • Polanya mirip dengan sejumlah tokoh dunia yang juga menolak berhenti di batas laboratorium.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perjalanan ilmuwan Indonesia, Prof. Raymond menunjukkan jika riset, tak sekadar dari dalam laboratorium namun selesai begitu saja.

Lebih dari itu, Prof Raymond R Tjandrawinata bisa menempatkan riset lebih dari batasan dinding laboratorium akan membuat sains yang kuat dengan landasan hukum dan etika akan berhenti.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Planet Mirip Bumi Berpotensi Layak Huni Berjarak 146 Tahun Cahaya

Pada 20 April 2026, Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) menerbitkan Piagam No. 12691/R.MURI/IV/2026 dan menetapkan Prof. Raymond sebagai peneliti Indonesia dengan publikasi Scopus dan paten terbanyak di bidang ilmu biomedis interdisipliner. Rekor itu sendiri sudah sangat besar. 

Ada satu kalimat dalam piagam MURI yang mungkin tidak langsung menjadi perhatian, tercetak dalam tanda kurung di bawah judul rekor utama: “dengan Mengintegrasikan Aspek Hukum, Farmasi, dan Etika.”

Baca juga: Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya Ada di Sumatra hingga Andaman

Aspek inilah yang membedakan Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica ini. 

Bukan sekadar ilmuwan produktif bukanlah volume karyanya, melainkan keyakinan yang membentuk seluruh pendekatannya pada dua aspek itu. 

Ada perjalanan riset yang cukup menarik dari perjalanan ini. Bahkan, kisah Prof. Raymond punya pola yang mirip dengan sejumlah tokoh dunia yang juga menolak berhenti di batas laboratorium.

Rekomendasi Untuk Anda

Dari NASA ke Laboratorium

Perjalanan ilmiahnya dimulai dari riset di NASA tentang kesehatan astronot, lalu berlanjut di University of California San Francisco. 

Prof. Raymond pernah meneliti di NASA tentang osteoporosis pada astronot. 

Pengalaman ini mengingatkan pada kisah Dr. Joseph Kerwin, astronot sekaligus dokter yang membawa perspektif medis ke riset luar angkasa. 

Keduanya menunjukkan bahwa sains lintas disiplin bisa membuka wawasan baru: kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari konteks lingkungan ekstrem.

Baca juga: MIPA Bukan Sekadar Jadi Ilmuwan, GO dan FMIPA UI Kupas Strategi Lulus dan Prospek Karier Masa Depan

Kembangkan Biodiversitas

Titik balik datang ketika ia memutuskan kembali ke Indonesia. Di tengah peluang untuk melanjutkan karier ilmiah di Amerika Serikat, Prof. Raymond memilih pulang karena melihat persoalan yang jauh lebih penting untuk dikerjakan di dalam negeri.

Ia melihat peluang, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar, tetapi riset farmasi berbasis biodiversitas lokal masih tertinggal jauh dari potensinya.

Keputusan Prof. Raymond kembali ke Indonesia demi mengembangkan riset berbasis biodiversitas lokal mirip dengan langkah Tu Youyou, peneliti Tiongkok yang menemukan artemisinin dari tanaman tradisional. Sama seperti Tu Youyou, Prof. Raymond melihat potensi besar dalam kekayaan hayati negaranya, lalu mengubahnya menjadi inovasi farmasi yang teruji secara ilmih.

Keputusan Prof. Raymond kembali ke Indonesia demi mengembangkan riset berbasis biodiversitas lokal mirip dengan langkah Tu Youyou, peneliti Tiongkok yang menemukan artemisinin dari tanaman tradisional. 

Sama seperti Tu Youyou, Prof. Raymond melihat potensi besar dalam kekayaan hayati negaranya, lalu mengubahnya menjadi inovasi farmasi yang teruji secara ilmiah.

Integrasi Hukum dan Etika

Kini, Prof. Raymond menempuh doktor hukum di UPH untuk memperkuat riset farmasi dengan regulasi dan etika.

Langkahnya ini mengingatkan pada Dr. Frances Kelsey, ilmuwan FDA yang menolak persetujuan obat thalidomide karena alasan keamanan. 

Keduanya menegaskan bahwa inovasi tanpa landasan hukum dan etika bisa berbahaya, meski secara saintifik menjanjikan.

“Pengembangan fitofarmaka bukan hanya soal sains, tetapi juga soal bagaimana memastikan setiap inovasi dapat diterapkan secara bertanggung jawab dan memberi manfaat nyata,” katanya.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya Ada di Sumatra hingga Andaman

Pengembangan OMAI dan Fitofarmaka Sejajarkan Indonesia dan Jepang 

Pengembangan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) oleh Prof. Raymond menempatkan Indonesia di jalur serupa dengan Jepang dan Korea Selatan, yang berhasil mengintegrasikan riset herbal ke dalam sistem kesehatan modern. 

Bedanya, Prof. Raymond menekankan pembuktian klinis dan kepatuhan regulasi agar OMAI tidak sekadar jadi “jamu modern,” melainkan fitofarmaka yang diakui dunia.

Keanggotaannya di Sigma Xi dan AD Scientific Index menempatkan Prof. Raymond dalam jajaran ilmuwan global, mirip dengan George Whitesides, kimiawan Harvard yang dikenal produktif sekaligus lintas disiplin. Keduanya menunjukkan bahwa produktivitas ilmiah bukan sekadar angka publikasi, melainkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas