Tribun Seleb
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Bergabungnya Kelompok Aktivis Hacker dan Organisasi Teroris Tradisional Bikin Takut CEO Kaspersky

Sony Pictures Entertainment memutuskan untuk membatalkan perilisan film kontroversial “The Interview” yang menggambarkan pembunuhan

Bergabungnya Kelompok Aktivis Hacker dan Organisasi Teroris Tradisional Bikin Takut CEO Kaspersky
agungmohmd.blogspot.com
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sony Pictures Entertainment memutuskan untuk membatalkan perilisan film kontroversial “The Interview”, yang menggambarkan pembunuhan fiksi pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un.

Pihak Sony Pictures mengatakan keputusan tersebut diambil setelah jaringan bioskop terbesar di Amerika Serikat menarik diri untuk menayangkan film tersebut dikarenakan adanya ancaman dari hacker.

Sebuah kelompok hacker yang menamakan diri Guardians of Peace telah menyerang Sony Pictures Entertainment dan merilis email internal melalui eksekutif senior perusahaan. Kelompok tersebut mengatakan penonton akan mengalami "nasib buruk" dan orang-orang yang tinggal dekat dengan bioskop yang menayangkan tersebut film harus meninggalkan rumah mereka.

Memang, insiden ini merupakan yang pertama kalinya ancaman cyber bisa dikatakan berhasil. Peretasan ini merupakan contoh nyata situasi dimana hacker benar-benar dianggap sangat serius atau bagaimana ancaman online dapat meningkat ke dunia nyata.

Menanggapi insiden peretasan kepada Sony Pictures Entertainment, CEO Kaspersky Lab, Eugene Kaspersky memberikan opininya :

"Insiden peretasan Sony Pictures Entertainment mungkin yang pertama yang sangat dipublikasikan secara global. Aspek yang paling mengkhawatirkan bagi saya adalah bahwa kelompok hacker ini mengancam akan melancarkan serangan teror. Saya tidak tahu apakah memang ada hubungan antara kelompok ini dan teroris, namun ancaman tersebut tidak menunjukkan bahwa hacker yang bermotivasi politik dapat mempergunakan metode yang digunakan para teroris. Bergabungnya antara kelompok aktivis hacker (hacktivists) dan organisasi teroris tradisional menjadi ketakutan terbesar saya selama bertahun-tahun.

Tentu saja, serangan seperti di industri hiburan juga sangat merusak dan mahal, tapi itu mungkin tidak seberbahaya seperti serangan terhadap infrastruktur kritis. Dalam setiap kasus hal tersebut merupakan sinyal yang sangat kuat bahwa bahkan perusahaan hi-tech yang paling canggih pun tidak kebal terhadap serangan hacker, dan kita harus mempersiapkan diri untuk serangan yang sangat serius dan menyakitkan di masa depan. Sayangnya, hal tersebut tidak mudah untuk mengatakan industri atau perusahaan mana yang akan menjadi target berikutnya. "

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Toni Bramantoro
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas