Tribun Seleb
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Eksklusif Tribunnews

Besarnya Dampak Covid-19 Terhadap Industri Perfilman: Kru Film Memilih Bertani Hingga Bisnis Kuliner

Jika pun bioskop dibuka, maka jumlah kursi mungkin akan lebih sedikit dari biasanya, karena harus ada jarak untuk menghindari penularan virus corona.

Besarnya Dampak Covid-19 Terhadap Industri Perfilman: Kru Film Memilih Bertani Hingga Bisnis Kuliner
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Produser, sutradara, dan penulis naskah Andibachtiar Yusuf saat wawancara khusus dengan Tribunnews, di Jakarta, Sabtu (13/6/2020). Wawancara Andibachtiar dengan tribunnews terkait perkembangan pelaku industri perfilman Indonesia di tengah pandemi Covid-19. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Waktu itu sempat kita bikin series Netflix, yang kemudian Netflix di Singapura saja masih pada di rumah. Akhirnya tidak bisa di follow up. Akhir tahun sudah ada dalam level develop sesuatu sama Visinema. Begitu pandemi segala macem, kita mau bikin untuk ngisi bioskop online.

Baca: Merek Dagangnya Bermasalah, Pihak Ruben Onsu Klaim Masih Bisa Buka Gerai Ayam Geprek, Kok Bisa?

Itu mengganggu jadwal untuk artisnya, krewnya, dan lain-lain?

Pasti mengganggu, karena kita ngomongin di atas kertas. Itu saya syuting April, harusnya sama Aurelie, terus Tanta Ginting. Ini kalau diundur jadi Juni, ya mereka belum tentu bisa karena bentrok dengan jadwal lain. Sekarang Juni aja belum tentu juga bisa. Sementara Juni itu mungkin dia sama PH (Production House) lain.

Itu susah jawabnya. Karena kontraknya force majeur (sesuatu yang tidak terduga). Pasal yang belum tentu dibaca kan sama orang. Sampai akhirnya terjadi. Ya sampai hari ini Multivision belum hubungi, salah satunya karena kantornya sendiri belum buka. Yang pasti proyek mundur. Katanya mereka baru mulai proyek itu Januari 2021

Dampaknya sebesar apa?

Dampaknya gede. Sekarang bioskop saja sudah beberapa Minggu. Misal 15 Minggu tutup. Per Minggu ada 2 film. Berarti ada 30 film, ada 30 pekan diundur. Beberapa produser tahan sampai tahun depan.

Praktis income atau pendapatan berkurang, lalu bagaimana 'mengakali' situasi ini?

Itu memang harus asosiasi produser yang harus duduk bareng untuk mencari solusi. Tapi tetap saja film nonton di bioskop, selain prestige, pertarungan sesungguhnya film ya di situ. Kayak kita lihat film Dylan sampai tembus 6 juta penonton. Tapi di Netflix belum tentu.

Orang di Netflix, yang paling banyak ditonton di Indonesia itu The Night Comes for Us, yang kedua Love for Sale. Love for Sale dibanding Dylan di bioskop ya jauh. Mungkin karakter penontonnya beda. Tapi kalau berbicara revenue, nilainya sekali pukul. Netflix angkanya lumayan oke.

Tapi tetap saja tidak sebanding dengan pendapatan 1 juta penonton. Dibanding dibeli sama tv gede. Kalau berbicara 'ngakalin' tidak ada. Ya bioskop harus buka normal. Kalau dibilang OTT berarti kan mindset awalnya nurunin budget.

Baca: Video TikTok Wanita saat Rekam Aksi di Hotel Viral dan Mengaku Selingkuh, Ini Fakta Sebenarnya

Halaman
1234
Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas