Tribun Seleb
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Wawancara khusus dengan Once Mekel: Job Musik Sepi, Banting Stir Buka Kedai

Penyanyi Elfonde Mekel atau akrab disapa Once menyiasati pembatasan aktivitas di tengah pandemi Covid-19 dengan menggeluti usaha kuliner.

Wawancara khusus dengan Once Mekel: Job Musik Sepi, Banting Stir Buka Kedai
Tribunnews/Irwan Rismawan
Penyanyi Once Mekel berpose usai wawancara khusus dengan Tribun Network di studio musiknya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (23/6/2021). Tribunnews/Irwan Rismawan 

Yang punya kebijakan menyangkut harkat hidupnya musisi. Pernah mengundang Pak Dirjen Hak Cipta, Menteri Pariwisata Pak Sandiaga Uno.

Banyak seperti itu dilakukan. Tapi yang masih kita tunggu langkah yang tegas dan koordinatif antara lembaga-lembaga pemerintah yang terkait soal profesi musik.

Penyanyi Once Mekel saat wawancara khusus dengan Tribun Network di studio musiknya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (23/6/2021). Tribunnews/Irwan Rismawan
Penyanyi Once Mekel saat wawancara khusus dengan Tribun Network di studio musiknya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (23/6/2021). Tribunnews/Irwan Rismawan (Tribunnews/Irwan Rismawan)

Ada banyak peraturan di masing-masing lembaga ini. Kadang-kadang itu tidak bisa dipegang.

Kita pikir ada aturan dari Pariwisata sudah oke, wah kita bisa panggung, tapi dari sisi kepolisian, Pemda bagaimana. Wah panjang urusannya.

Kita masih tunggu koordinasi yang lebih baik dan tegas. Akhirnya kan show-show digital online berharap dapat sumbangan dari penonton. Tapi itu kadang-kadang menurun juga animo orang.

Karena energi orang yang menonton online kan beda. Dengan nonton langsung. Saya masih berharap dalam batas-batas tertentu, protokol ketat, kita masih bisa lihat penampilan itu dilakukan.

Ya mungkin bisa dimulai jenis musik tertentu.

Misalnya musik klasik, jazz, pop. Teman-teman yang di ranah musik, rock, metal, punk, mesti menunggu. Karena jenis penontonnya lebih agresif. Kecuali bisa dibuat kalem.

Bagaimana musisi memanfaatkannya?

Sekarang ini ya dalam masa pandemi ini, musisi yang masih baru mulai sebaiknya manfaatkan periode ini untuk memantapkan kemampuan. Misal dipakai latihan sebanyak mungkin, kreasi, untuk menghasilkan album bagus.

Begitu periode selesai, teman-teman musisi sudah lebih hebat. Jangan sama dong. Kita sebenarnya semua tiarap.

Penyanyi Once Mekel berpose usai wawancara khusus dengan Tribun Network di studio musiknya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (23/6/2021). Tribunnews/Irwan Rismawan
Penyanyi Once Mekel berpose usai wawancara khusus dengan Tribun Network di studio musiknya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (23/6/2021). Tribunnews/Irwan Rismawan (Tribunnews/Irwan Rismawan)

Saya rasa masa periode Covid ini kita bisa lihat siapa yang akan menjadi musisi berdedikasi, survive, dan mana yang duluan menyerah.

Bagaimana cerita asal mula Anda terjun ke bisnis kuliner?

Saya kan sebenarnya bukan pengusaha yang sudah hebat atau gimana. Beberapa waktu lalu saya coba buka usaha di bidang kuliner. Yang pertama saya buka bersama Ridho Slank di M Bloc Space.

Namanya Kedai Katong. Kami menjual makanan Manado dan menjual Kopi Ambon. Lalu saya buat lagi di BSD namanya Mayosi.

Mayosi itu konsepnya terbuka, pemandangan enak, karena di depan danau besar.Udaranya nyaman, sebetulnya itu dibuat setelah sudah periode Covid.

Mengantisipasi orang-orang yang datang khawatir di dalam ruangan. Syukur-syukur dapat tanggapan positif.

Satu hal yang saya belajar di bisnis kuliner, sekalipun kita bisa bikin suasana enak dan desain, makanan tetap harus enak. Sebenarnya Mayosi Kafe itu segmentasinya keluarga. Family Restaurant. Harganya juga tidak terlalu mahal.

Jualnya makanan Indonesia, makanan Barat, tapi kita punya specialty makanan Manado. Mayosi itu dari nama ibu saya Mama Yosi.  Almarhumah Ibu saya itu jago banget masak waktu masih hidup. Menu itu (resepnya) dapat dari dia.

Pilih mana, eksis di dunia musik atau jadi pengusaha kuliner?

Oh saya sih kalau masih bisa bertahan di dunia musik pasti saya tekuni. Sampai saya tua. Sampai saya tidak bisa manggung lagi. Karena saya pikir panggilan hidup saya di situ.

Orang harus percaya dengan panggilan hidupnya.Saya percaya panggilan hidup saya adalah menjadi penyanyi dan harus menekuni dunia musik.

Dunia usaha lain, itu sekunder atau nomor dua buat saya. Meskipun saya percaya manusia itu diberi bakat itu katanya ya lima kemampuan utama.

Yang sebetulnya kita miliki. Tapi kadang-kadang kita hanya mengenal dua atau tiga saja. Sebenarnya kita punya sesuatu yang ajaib dalam diri kita lima.

Ya kita kan harus tetap berusaha supaya selain yang kita kenal apa yang bisa dimanfaatkan dari kemampuan kita.

Kemampuan yang benar-benar natural, yang sudah diciptakan untuk kita. Dan kita manfaatkan. Mungkin saya sebagai penyanyi punya bakat, tapi mungkin saja saya punya kemampuan di bidang lain.

Saya mencoba untuk mengenalnya. Itu karunia dari Maha Kuasa. Kalau kita manfaatkan kita sedang mengagungkan pencipta kita. (tribun network/denis destryawan)

Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas