Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Seleb
LIVE ●

Perjalanan Karier Nano Riantiarno, Wartawan dan Pendiri Teater Koma yang Meninggal Dunia

Simak perjalanan karier pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno yang meninggal dunia dalam artikel ini.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Katarina Retri Yudita
Editor: Salma Fenty
zoom-in Perjalanan Karier Nano Riantiarno, Wartawan dan Pendiri Teater Koma yang Meninggal Dunia
Kolase Tribunnews / Instagram @nanoriantiarno
Inilah perjalanan karier pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno. 

Tahun 1997, Nano pernah menjadi konseptor dari Jakarta Performing Art Market/Pastojak (Pasar Tontonan Jakarta I) yang berlangsung selama satu bulan penuh di Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Pernah Jadi Wartawan

Tak hanya aktif di dunia teater, Nano ternyata pernah menjadi wartawan.

Ia turut mendirikan Majalah Zaman tahun 1979 dan menjadi redaktur pada 1979 hingga 1985.

Selain itu, Nano juga mendirikan Majalah Matra pada 1986 dan menjadi pemimpin redaksi.

Ia pun pensiun dari wartawan tahun 2001.

Pernah Jadi Penulis dan Dapat Berbagai Penghargaan

Rekomendasi Untuk Anda

Selain membuat naskah teater, Nano juga pernah menulis buku kumpulan puisi, novel, serta naskah film dan televisi.

Ia pun mendapat piagam penghargaan dari Menteri Pariwisata dan Budaya sebagai Seniman dan Budayawan Berprestasi tahun 1999.

Pemain Teater Koma mementaskan lakon berjudul Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat yang disutradarai Nano Riantiarno di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (9/11/2017). Pementasan ke-150 Teater Koma yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation itu digelar hingga Minggu (19/11). TRIBUNNEWS/HO
Pemain Teater Koma mementaskan lakon berjudul Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat yang disutradarai Nano Riantiarno di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (9/11/2017). Pementasan ke-150 Teater Koma yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation itu digelar hingga Minggu (19/11). TRIBUNNEWS/HO (TRIBUN/HO)

Pada tingkat internasional, ia meraih Sea Write Award dari Raja Thailand di Bangkok berkat karyanya Semar Gugat pada 1998.

Diketahui, karya skenario Nano, yakni Jakarta Jakarta meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia di Ujung Pandang tahun 1978.

Sementara itu, karya sinetronnya, yakni Karina meraih Piala Vidia pada Festival Film Indonesia di Jakarta tahun 1987.

Beberapa novel yang pernah ditulis Nano antara lain Cermin Merah, Cermin Bening, dan Cermin Cinta yang diterbitkan oleh Grasindo pada 2004, 2005, dan 2006.

Kemudian ada beberapa tulisan lain, seperti 'Ranjang Bayi' dan 18 fiksi, kumpulan cerita pendek, diterbitkan Kompas, 2005. Roman Primadona, diterbitkan Gramedia 2006.

Selain itu, Nano juga menulis dan menyutradarai empat pentas multi media kolosal, di antaranya Rama-Shinta (1994), Opera Mahabharata (1996), Opera Anoman (1998), dan Bende Ancol (1999).

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas