Soal Perawatan Kulit, Aktris Astrid Tiar Merasa Tak Perlu Jauh-jauh ke Luar Negeri
Faktor lingkungan seperti paparan polusi atau debu halus di kota-kota besar Indonesia secara klinis memicu pembentukan lentigines
Penulis:
Willem Jonata
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Aktris Astrid Tiar tak lagi muda, usianya tahun ini 39 tahun
- Di usia tersebut diakui Astrid banyak tawaran untuk perawatan anti aging hingga ke luar negeri
- Namun, Astrid belum tertarik karena percaya dengan kualitas dan keamanan treatment di Indonesia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Melakukan perawatan hingga ke luar negeri merupakan hal lumrah bagi pesohor di Tanah Air. Mulai dari biaya sendiri hingga endorse.
Aktris Astrid Tiar mengakui mendapat banyak tawaran perawatan ke luar negeri Khususnya treatment anti penuaan dini mengingat usianya kini 39 tahun.
Namun, ia pribadi tak tertarik karena sudah kadung percaya treatment plasma VSELs yang menggunakan darah sendiri.
Perawatan seperti itu sudah ada di Indonesia.
“Ketika mendengar tentang Plasma VSELs yang menggunakan darah kita sendiri—tanpa bahan kimia aneh, tanpa rekayasa genetik—saya langsung yakin," ucap Astrid Tiar, yang mempercayakan soal perawatan kulitnya di Natasha Skin Clinic Center.
Menurut dia, perawatan tersebut cukup masuk akal. Ia juga merasa aman.
"Ini membuktikan bahwa kita tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk dapat teknologi terbaik dunia. Kualitasnya ada di sini, di Indonesia," lanjut dia.
Baca juga: Tampil di JFW, Astrid Tiar Rayakan Transformasi dan Kecantikan Sejati
Dokter Fredi Setyawan, founder Natasha Skin Clinic Center, mengatakan tantangan dalam perawatan kulit kini berbeda. Bukan lagi jerawat atau flek.
“Kini tantangannya berbeda. Musuh kita tidak terlihat: polusi mikro dan penuaan selular. Kami menyadari bahwa krim dan laser saja tidak cukup. Kita butuh revolusi. Plasma VSELs adalah jawaban kami. Ini bukan sekadar perawatan, ini adalah upaya mengembalikan 'waktu' dengan memperbaiki mesin regenerasi tubuh itu sendiri," ucap dr. Fredi Setyawan.
Faktor lingkungan seperti paparan polusi atau debu halus di kota-kota besar Indonesia secara klinis memicu pembentukan lentigines atau bintik penuaan, jauh lebih cepat pada kulit Asia dibandingkan ras lainnya.
Namun, menurut dia, ancaman terbesar justru datang dari dalam. Tubuh manusia secara alami memproduksi senescent cells atau yang populer disebut "zombie cells".
Ini adalah sel-sel rusak yang menolak untuk mati, menumpuk, dan meracuni sel sehat di sekitarnya. Mengejutkannya, tubuh memproduksi hingga 15 juta zombie cells setiap menit.
Akumulasi sel zombie ini memicu peradangan kronis tingkat rendah (inflammaging), yang bermanifestasi pada kulit kusam, hilangnya elastisitas, dan kerutan mendalam .
Pada usia muda, sistem imun mampu membersihkannya, namun kemampuan ini menurun drastis seiring usia. Di sinilah Natasha Plasma VSELs berperan.
Plasma VSELs menggabungkan presisi teknologi medis Jerman dengan inovasi estetika Korea Selatan.
Baca tanpa iklan