Tribun Sport

Titik Terendah Jonatan Christie, Kalah Berkali-kali Sampai Ingin Gantung Raket di Usia Muda

Jonatan Christie pernah mengalami titik terendahnya, jauh sebelum menjuarai Piala Thomas di Aarhus, Denmark, bersama Hendra Setiawan dan kolega. 

Penulis: Lusius Genik Ndau Lendong
Editor: Toni Bramantoro
zoom-in Titik Terendah Jonatan Christie, Kalah Berkali-kali Sampai Ingin Gantung Raket di Usia Muda
Alexander NEMENOV / AFP
Jonatan Christie 

Laporan wartawan tribunnews.com, Lusius Genik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Atlet bulutangkis Indonesia, Jonatan Christie pernah mengalami titik terendahnya, jauh sebelum menjuarai Piala Thomas di Aarhus, Denmark, bersama Hendra Setiawan dan kolega. 

Ada momen di mana Jonatan mengalami kekalahan beruntun, yang membuatnya ingin gantung raket di usia muda. 

Andreas Adi Siswa, ayah Pebulutangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie
Andreas Adi Siswa, ayah Pebulutangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie (tribunnews.com/genik)

Kisah itu dibagikan oleh Andreas Adi Siswa, ayah Jonatan kepada Tribunnews.com saat ditemui di kediamannya, Jakarta, Senin (18/10/2021). 

Adi menceritakan, putranya ingin gantung raket akibat mengalami kekalahan beruntun menjelang Asian Games 2018 di Jakarta, Indonesia.

"Sebelum Asian Games (2018), dia selalu kalah di kejuaraan dunia, dimana dia sudah bersiap dengan baik tapi selalu kalah di babak pertama, seperti di All England dulu kalah di babak pertama," tutur Andreas. 

"Sampai di suatu titik dia bilang, 'Pa apa Jonatan itu atlet kebetulan ya. Apa sebaiknya Jonatan gantung raket saja, berhenti bulutangkis?," Kata Andreas mengenang perbincangannya dengan Jonatan. 

Saat putranya terpuruk, Andreas memainkan peranan sebagai ayah dengan baik. 

Pada saat Jojo, sapaan akrab Jonatan, ingin pensiun dini, Andreas memberikan sebuah pengertian bahwa prestasi itu datang silih berganti. 

Tidak semua bisa selalu menjadi juara, ada kalanya seorang atlet mengalami kekalahan, juga memperoleh kemenangan.

"Di titik itu saya minta dia memenangkan diri dulu, saat dia tenang baru saya beritahu bahwa prestasi itu semua itu datangnya silih berganti," kenang Andreas.

"Ada yang kalah ada menang. Tapi semua itu membutuhkan konsistensi, selama kamu masih mau berlatih sungguh-sungguh, pasti akan ada jalan," sambung dia. 

Hingga akhirnya, Jojo memutuskan untuk bertahan dan menyabet medali emas Asian Games 2018. 

"Dan waktu itu, Tuhan menunjukkan kemurahanNya, sampai akhirnya kalau dia punya kemauan kuat, dia bekerja baik, Tuhan kasih jalan dia bisa juara. Dan memang puncaknya di Asian Games," kata Andreas. 

Menurut Andreas, putranya memiliki jalan berliku untuk menjadi juara. 

Sebelum membantu Tim Bulutangkis Indonesia menjuarai Piala Thomas, Jonatan juga tidak melulu menang. 

Dia juga merasakan kekalahan di sejumlah kompetisi bergengsi.

"Tapi titik terendah Jonatan ya pada saat dia mau gantung raket itu (sebelum Asian games)," kata Andreas.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas