Superskor

Liga Spanyol

Upaya Barcelona Tambal Utang Lewat Trik Jual Aset Bikin Presiden PSG Cemburu

Presiden PSG cemburu melihat Barcelona tak masuk dalam tim yang melanggar regulasi Financial Fair Play (FFP), padahal utang Barca di mana-mana.

Penulis: Drajat Sugiri
Editor: Claudia Noventa
zoom-in Upaya Barcelona Tambal Utang Lewat Trik Jual Aset Bikin Presiden PSG Cemburu
KERSTIN JOENSSON / AFP
Para pemain Barcelona berpose untuk foto tim sebelum pertandingan sepak bola Grup C Liga Champions UEFA antara FC Bayern Munich dan FC Barcelona di Munich, Jerman selatan pada 13 September 2022- Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi, mengkritik kebijakan Barcelona yang menggunakan tuas ekonomi. 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Paris Saint-Germain (PSG), Nasser Al-Khelaifi, menyoroti kebijakan Barcelona yang menjual sejumlah asetnya untuk belanja jor-joran sekaligus menambal utang.

Geliat Barcelona dalam mendatangkan banyak pemain pada bursa transfer musim panas lalu mengundang perhatian.

Bagaimana tidak, di tengah timbunan utang menggunung, Barcelona sanggup merekrut pemain-pemain kelas wahid seperti Robert Lewandowski, Andreas Christensen hingga Raphinha.

Baca juga: Syarat Mutlak Barcelona Terima Lionel Messi Lagi, La Pulga Harus Datang Secara Gratis

Pelatih Prancis Christophe Galtier (kiri) dan Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi (kanan) memegang jersey saat mereka berpose di akhir konferensi pers setelah Galtier ditunjuk sebagai pelatih kepala klub sepak bola L1 Prancis Paris Saint-Germain (PSG), di stadion Parc des Princes di Paris pada 5 Juli 2022.
Pelatih Prancis Christophe Galtier (kiri) dan Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi (kanan) memegang jersey saat mereka berpose di akhir konferensi pers setelah Galtier ditunjuk sebagai pelatih kepala klub sepak bola L1 Prancis Paris Saint-Germain (PSG), di stadion Parc des Princes di Paris pada 5 Juli 2022. (BERTRAND GUAY / AFP)

Bukan menjadi rahasia lagi jika finansial Barcelona menjadi masalah utama.

Terhitung sejak era kepemimpinan Jose Maria Bartomeu sebagai presiden klub saat itu, utang raksasa catalan itu sangatlah besar.

Joan Laporta, sebagai presiden anyar Barcelona mengungkapkan utang yang dimiliki timnya mencapai 1,3 miliar euro.

Berbagai upaya telah ditempuh oleh Barca. Mulai dari pemotongan gaji hingga melepas sejumlah pemain dengan gaji tinggi.

Pun kebijakan transfer pemain berubah dengan banyak mendekati pemain yang berstatus gratisan.

Strategi pun diubah begitu manajemen tim sadar sangat tidak mungkin untuk menutup utang dalam waktu singkat.

Satu di antara cara yang dilakukan Barca adalah melepas sejumlah aset.

Diwartakan ESPN, Barca menjual berbagai aset, seperti Barca Licensing and Merchandising (BLM), hak siar televisi, Barcelona Studios, dan kesepakatan sponsorship dengan Spotify.

Pro kontra pun kemudian muncul dengan cara Barca mengeruk keuntungan ini. Satu di antaranya ialah Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi.

Sangking berangnya terhadap tindakan Barca, Nasser meminta pihak UEFA untuk melakukan penyelidikan terhadap keabsahan dan legalitas dari cara yang ditembuh Blaugrana.

"Apakah ini adil? Tidak, itu tidak adil. Apakah itu sah? Saya tidak yakin mengenai itu," ungkapnya dalam sebuah wawancara bersama Politico.

"Ini menjadi hal yang tak baik jika di tiru oleh banyak klub. UEFA Memiliki aturan tersendiri soal finansialnya. Saya menyarankan agar UEFA segera melakukan penyelidikan," imbuh Presiden PSG.

"Tingkat utang yang berbahaya dan kesepakatan ekuitas magis bukanlah jalan yang berkelanjutan," sambung Nasser.

Meski dibilang menyalahi aturan, Barcelona nyatanya tak termasuk dalam 8 klub yang melanggar regulasi Financial Fair Play (FFP) yang dirilis UEFA pada awal September ini.

PSG justru menjadi salah satu tim yang melanggar FFP.

(Tribunnews.com/Giri)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
1
Barcelona
14
12
1
1
33
5
28
37
2
Real Madrid
14
11
2
1
33
14
19
35
3
Atletico Madrid
12
7
2
3
20
12
8
23
3
Real Sociedad
14
8
2
4
19
17
2
26
4
Athletic Club
14
7
3
4
24
14
10
24
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas