3 Penyebab Piala Dunia 2026 Terancam Batal Sebelum Pertandingan
Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko terancam bubar menyusul munculnya seruan boikot,
Editor:
Hasanudin Aco
Padahal Meksiko adalah salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 mendatang.
Pada 3 Januari 2026, Trump melancarkan serangan militer di Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Hal ini membuat negara-negara tetangga di daratan Amerika resah.
Dalam beberapa hari terakhir, pembunuhan Renee Good di Minneapolis oleh seorang petugas ICE semakin memper exacerbated ketegangan.
Di kancah internasional, Gedung Putih telah berulang kali menyatakan keinginannya agar AS mengambil alih kendali Greenland, wilayah otonom milik Denmark.
Pengguna X, Glenn Tunes, menulis: "NEGARA YANG MENGANCAM PERDAMAIAN DUNIA SETIAP HARI SEHARUSNYA TIDAK MENJADI TUAN RUMAH PIALA DUNIA ATAU OLIMPIADE."
Politisi Inggris George Galloway menulis: "Hanya orang gila yang akan pergi ke #AS untuk @FIFAWorldCup. Anda beruntung jika bisa keluar hidup-hidup. Bahkan jika Anda berkulit putih!"
Piala Dunia adalah ajang sepak bola paling populer di dunia, dengan lebih dari 3,4 juta penonton berkumpul di Doha, Qatar, untuk menyaksikan pertandingan pada tahun 2022.
Menurut FIFA, hingga 5 Desember 2025 lalu hampir dua juta tiket telah terjual untuk Piala Dunia 2026.
Donald Trump Blokir Iran dan Haiti
Iran dan Haiti dua tim yang lolos ke Piala Dunia 2026 masuk dalam daftar negara yang warganya dilarang masuk ke Amerika Serikat oleh Presiden Donald Trump.
Namun Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwasannya Amerika akan menyambut seluruh kontestan Piala Dunia 2026.
“Amerika akan menyambut dunia. Semua orang yang ingin datang ke sini untuk menikmati, bergembira, dan merayakan pertandingan akan dapat melakukannya,” katan Infantino dikutip dari BBC.
Akibatnya penggemar Iran yang lolos ke Piala Dunia 2026 untuk ketujuh kalinya serta Haiti yang kembali ke panggung Piala Dunia setelah 51 tahun, berpotensi tidak dapat menghadiri turnamen secara langsung.
Ini bukan pertama kalinya Piala Dunia menghadapi ancaman boikot. Menjelang Piala Dunia 2022 di Doha, berbagai upaya boikot dan gerakan protes diorganisir karena kekhawatiran tentang hak asasi manusia.
Aktivis, kelompok hak asasi manusia, dan beberapa tokoh publik menyerukan boikot turnamen untuk memprotes perlakuan Qatar terhadap pekerja migran, dan untuk kebebasan LGBTQ+ dan hak-hak sipil yang lebih luas. Homoseksualitas ilegal di Qatar.
Baca tanpa iklan