Menapak Jembatan PFA Sukoharjo: Kisah Dafa Zaidan Menaklukkan Standar Tinggi Timnas U-17
Dafa Zaidan menaklukkan intensitas latihan tinggi Timnas U-17 berkat pondasi disiplin dan Winning Mentality yang ditempa sejak di PFA
Penulis:
Niken Thalia
Editor:
Arif Tio Buqi Abdulah
Ringkasan Berita:
- Dafa Zaidan yang telah dibimbing oleh Pandawa Football Academy (PFA) Sukoharjo punya modal apik ketika dipanggil tim nasional (Timnas)
- Pemain asal Balikpapan ini sudah dibekali oleh PFA Sukoharjo dengan latihan intensitas tinggi dan kedisiplinan
- Kebiasaan Dafa di PFA Sukoharjo yang membuatnya menurunkan potensi culture shock ketika berada di timnas
TRIBUNNEWS.COM - Banyak pemain muda berpotensi mengalami culture shock saat dipanggil ke pemusatan latihan Tim Nasional (Timnas).
Tampaknya, hal itu tidak berlaku bagi Dafa Zaidan El Fikri. Alumni Pandawa Football Academy (PFA) Sukoharjo asal Balikpapan ini justru menganggap Sekolah Sepak Bola (SSB) sebagai batu loncatan.
PFA Sukoharjo-lah yang membuat transisi Dafa ke level internasional (Piala Dunia U17 2025) dan klub Liga 1, Borneo FC U-20, berjalan mulus.
Ia menjelaskan bagaimana disiplin di PFA menjadi kunci ketahanannya di tengah kerasnya persaingan sepak bola elit ketika diwawancarai Tribunnews.
PFA sebagai Fondasi
Jauh sebelum dilirik pemandu bakat nasional, Dafa sudah ditempa dengan standar tinggi di PFA Sukoharjo.
Baginya, PFA bukan sekadar tempat berlatih, melainkan wadah pembentukan karakter profesional.
Baca juga: Misi John Herdman Bawa Timnas Indonesia Lolos Piala Dunia, Sebut Skuad Garuda Underdog
"Nilai paling penting di PFA itu disiplin waktu. Datang latihan dan agenda tim tepat waktu itu wajib," terangnya saat ditanya pada Rabu (18/2/2026).
"PFA benar-benar menanamkan winning mentality kepada siswanya. Kami diajarkan untuk tidak mau kalah di lapangan," kenang Dafa.
Dukungan pelatih dan manajemen saat ia mengalami masa sulit juga menjadi penguat mental agar tidak mudah menyerah sebelum mencapai cita-cita.
Menghadapi Intensitas Timnas U-17
Bekal mental dan fisik dari PFA terbukti krusial ketika Dafa dipanggil ke skuad Timnas U-17 untuk Piala Dunia di Qatar 2025.
Ia mengakui bahwa level Timnas menawarkan intensitas lebih tinggi, tetapi merasa sudah memiliki modal cukup sehingga tidak mengalami culture shock yang berarti.
"Di Timnas, intensitasnya memang lebih tinggi. Tapi beberapa detail latihan sudah saya dapatkan sebelumnya di PFA," ungkapnya.
Ia mencontohkan pola latihan harian: jogging untuk ketahanan, sesi gym untuk kekuatan, hingga latihan taktis di lapangan.
Di tengah padatnya agenda, Dafa sudah terbiasa menjaga pola makan dengan menghindari gorengan serta tidur teratur sebelum pukul 23.00 WIB.
"Kita harus menjaga pola makan. Tidak berminyak atau gorengan. Tidur pun harus teratur, di bawah jam 11 malam," tegasnya.
Baca tanpa iklan