Bos Como 1907 Jelaskan Sulitnya Membawa Pemain Indonesia ke Serie A
Tak sekadar soal kualitas, regulasi Serie A membuat Como harus sangat selektif memilih pemain non-Eropa.
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Arif Tio Buqi Abdulah
Ringkasan Berita:
- Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso menjelaskan sulitnya membawa pemain Indonesia ke Serie A karena ketatnya aturan slot non-Eropa di Italia.
- Como disebut harus bersaing dengan talenta dari Brasil, Argentina hingga Afrika dalam memperebutkan dua slot pemain asing.
- Di balik itu, Mirwan membangun Como dengan sistem berbasis data hingga menjadi salah satu klub paling progresif di Italia.
TRIBUNNEWS.COM - Kesuksesan Como 1907 sebagai salah satu klub kejutan di Liga Italia turut memunculkan harapan besar publik Indonesia.
Tim asuhan Ces Fabregas ini finis di urutan keempat klasemen Liga Italia seria A 2025-2026 di bawah Inter Milan, Napoli dan AS Roma. Como pun berhak bermain di Liga Champions musim 2026-2027.
Seperti diketahui, Como dipimpin pria asal Indonesia, Mirwan Suwarso. Namun demikian, dalam skaud Como, tak ada pemain berdarah Indonesia yang bermain di sana.
Mirwan Suwarso mengungkapkan dirinya kerap mendapat pertanyaan kenapa belum membawa pemain Tanah Air ke kompetisi kasta tertinggi Italia.
Menjawab hal tersebut, Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso menegaskan peluang pemain Indonesia tetap terbuka, tetapi regulasi Serie A terkait pemain non-Uni Eropa (non-EU) menjadi tantangan yang sangat berat.
“Kalau peluang selalu pasti ada. Namun kendalanya seperti ini. Di Italia itu hanya boleh ada dua pemain non-Eropa, dua pemain asing,” ujar Mirwan dalam podcast YouTube Helmy Yahya Bicara, dikutip Rabu (27/5/2026).
Mirwan menjelaskan aturan tersebut bukan hanya berlaku di level tim utama, melainkan juga hingga level pemain muda dan akademi.
Artinya, setiap keputusan merekrut pemain non-Eropa harus diperhitungkan secara sangat matang karena berkaitan langsung dengan slot jangka panjang klub.
“Kalau gua ngambil pemain muda usia 16 tahun, di tim senior jatahnya tinggal jadi satu. Jadi kita harus benar-benar mencari bakat yang paling bagus,” katanya.
Menurut Mirwan, persaingan mendapatkan slot non-Eropa di Serie A juga sangat ketat karena Como harus bersaing dengan talenta dari negara-negara kuat sepak bola dunia seperti Brasil, Argentina, Uruguay hingga kawasan Afrika.
Baca juga: Teruntuk Pebola Indonesia, Presiden Como Bongkar Rahasia Rekrutmen Klub Serie A
“Persaingannya bisa masuk dari Brasil, Argentina, Uruguay, Afrika. Jadi siapapun yang masuk ke sini harus benar-benar spesial,” ujarnya.
Ia mengungkapkan Como sebelumnya sempat merekrut pemain muda dari Irak dan Gambia.
Namun proses adaptasi di sepak bola Italia disebut tidak mudah sehingga keduanya akhirnya tersingkir dari persaingan skuad.
Kini, pemain non-Eropa yang dimiliki Como merupakan pemain Brasil yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman di klub-klub Eropa seperti Aston Villa dan Sevilla.
“Pilihan kami sekarang apakah mengambil pemain muda dengan bakat luar biasa atau pemain pengalaman yang bisa menjaga level tim,” katanya.
Meski belum menghadirkan pemain Indonesia ke skuad utama Como, Mirwan menilai kontribusi Indonesia di klub tersebut sebenarnya sudah berjalan melalui berbagai lini lain di luar lapangan.
Ia menyebut terdapat analis asal Bandung yang bekerja di Como, sementara legenda sepak bola Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto juga pernah menjadi bagian staf pelatih klub tersebut.
Selain itu, sejumlah pekerja Indonesia juga terlibat di sektor produksi kreatif dan media sosial klub.
“Kita lebih banyak memberikan kesempatan buat pelatih atau analis. Dari tim sosial media dan produksi juga ada orang Indonesia,” ujarnya.
Di bawah kepemimpinan Mirwan, Como memang berkembang bukan sekadar sebagai klub sepak bola biasa. Klub yang sempat bermain di Serie D itu kini menjelma menjadi salah satu proyek sepak bola modern paling menarik di Italia.
Manajemen Como
Mirwan mengungkapkan Como dibangun menggunakan pendekatan berbasis data atau data-driven football management yang terinspirasi konsep Moneyball.
Como bahkan sempat bekerja sama dengan Billy Beane, sosok yang dikenal sebagai pelopor revolusi analisis data olahraga Amerika Serikat dan kisahnya diangkat dalam film Moneyball.
Selain itu, Como juga mempelajari sistem milik Brighton dan Liverpool sebelum akhirnya membangun model sendiri.
“Kita menggunakan sistem data sebagai landasan semua keputusan sepak bola,” kata Mirwan.
Menurut dia, seluruh proses perekrutan pemain di Como dilakukan berlapis, mulai dari analisis data ribuan pemain, pemantauan tim pencari bakat, analisis perilaku, hingga evaluasi finansial.
“Kalau mau cari pemain sayap kanan atau kiri, data bisa melihat 500 sampai 1.000 pemain sangat cepat. Baru disaring lagi,” ujarnya.
Como juga menerapkan konsep “DNA permainan” untuk menentukan profil ideal setiap posisi pemain.
Klub bahkan membuat business plan khusus untuk setiap pemain yang direkrut, termasuk target perkembangan hingga potensi nilai jual di masa depan.
Pendekatan tersebut membuat Como mampu bersaing di Serie A tanpa bergantung pada belanja pemain bintang mahal.
Musim ini, Como menjadi salah satu tim yang mencuri perhatian setelah mampu bersaing di papan atas Liga Italia dan menjaga peluang tampil di kompetisi Eropa.
Tak hanya di lapangan, dampak Como juga mulai terasa terhadap ekonomi kawasan Danau Como.
Mirwan mengatakan klub sengaja membangun ekosistem sports tourism dengan menggandeng komunitas lokal, sektor retail hingga industri perhotelan.
“Orang bilang kita membangun kota. Sebenarnya kita membangun ekosistem sports tourism,” katanya.
Mirwan menyebut dalam beberapa tahun terakhir jumlah hotel mewah di kawasan Como terus bertambah seiring meningkatnya popularitas kota tersebut.
Rahasia Rekrutmen Serie A
Mirwan Suwarso membongkar sistem rekrutmen pemain yang membuat klub milik Grup Djarum itu mampu menjelma menjadi salah satu kekuatan baru Liga Italia hanya dalam waktu singkat.
Di tengah persaingan ketat Serie A, Como memilih meninggalkan pola lama berbasis insting dan membangun sistem perekrutan pemain berbasis data, analisis perilaku, hingga proyeksi bisnis jangka panjang.
“Kita menggunakan sistem data sebagai landasan semua keputusan sepak bola,” ujar Mirwan.
Pendekatan tersebut terinspirasi konsep Moneyball, metode analisis statistik olahraga yang dipopulerkan Billy Beane di bisbol Amerika Serikat.
Mirwan mengaku sengaja mempelajari sistem itu karena merasa keputusan investasi klub tidak bisa hanya bergantung pada intuisi.
“Masa kita berinvestasi besar tapi semua keputusan hanya dijelaskan berdasarkan feeling dan insting. Enggak masuk akal,” katanya.
Untuk membangun sistem tersebut, Como sempat bekerja sama dengan Billy Beane, pemilik Brighton Tony Bloom, hingga mempelajari model analitik Liverpool.
Mirwan menyebut Como kemudian melakukan “reverse engineering” terhadap berbagai sistem tersebut sebelum akhirnya membangun model sendiri.
“Kita pelajari sistem mereka, kita godok ulang, kita cari kelemahannya apa, bagusnya apa,” ujarnya.
Kini, menurut Mirwan, sistem analitik milik Como bahkan mulai dipakai sejumlah klub Eropa lain, termasuk peserta Liga Champions.
“Ada beberapa klub Liga Champions sudah pakai sistem kita sekarang,” katanya.
Mirwan menjelaskan proses perekrutan pemain di Como dilakukan berlapis dan sangat ketat.
Tahap awal dilakukan tim data yang memindai ratusan hingga ribuan pemain di berbagai liga dunia sesuai kebutuhan posisi yang dicari klub.
“Kalau kita mencari pemain sayap kanan atau kiri, data bisa melihat 500 sampai 1.000 pemain dengan sangat cepat,” ujar Mirwan.
Dari ribuan data tersebut, sistem Como kemudian menyaring sekitar 30 nama pemain yang paling sesuai dengan DNA permainan tim. Setelah itu, nama-nama tersebut masuk ke tahap pemantauan tim scouting.
Tim pencari bakat lalu mengecek apakah performa pemain benar-benar cocok dengan gaya permainan yang diinginkan pelatih Como, termasuk skema taktik milik pelatih kepala Cesc Fàbregas.
Jika lolos, pemain masuk tahap behavior analysis atau analisis perilaku untuk melihat karakter, psikologi, hingga kecocokan dengan kultur tim.
“Secara psikologis cocok enggak sih sama tim kita?” kata Mirwan.
Tahap berikutnya adalah evaluasi finansial. Manajemen menghitung apakah harga transfer dan gaji pemain sesuai dengan kemampuan anggaran klub.
Baru setelah seluruh tahapan selesai, dewan sepak bola Como menyerahkan sekitar tiga hingga enam nama akhir kepada tim pelatih untuk dipilih.
“Nih, lu mau sayap kanan atau kiri, enam pemain ini pilih yang mana,” ujar Mirwan.
Semua Pemain Punya “Business Plan”
Tak hanya merekrut pemain, Como juga membuat peta pengembangan jangka panjang untuk setiap transfer yang dilakukan.
Mirwan mengungkapkan setiap pemain memiliki business plan tersendiri, mulai dari target perkembangan, estimasi menit bermain, hingga proyeksi nilai pasar di masa depan.
Sebagai contoh, ketika Como merekrut bek Kroasia Ivan Smolčić, manajemen langsung menentukan target perkembangan sang pemain dalam dua hingga tiga musim.
“Berapa tahun sebelum dia jadi pemain inti, apa yang diperlukan supaya perkembangannya dipercepat, semua dibuat programnya,” kata Mirwan.
Pendekatan itu membuat Como mampu membangun skuad kompetitif tanpa harus bergantung pada pemain bintang mahal.
“Makin enggak dikenal pemainnya, makin senang, makin murah,” ujar Mirwan sambil tertawa.
Pendekatan berbasis data tersebut menjadi salah satu fondasi keberhasilan Como dalam beberapa musim terakhir.
Klub yang sempat bermain di Serie B itu kini mampu bersaing di papan atas Serie A dan bahkan memastikan tiket Liga Champions musim depan.
Mirwan mengatakan Como tidak dibangun dengan pendekatan instan, melainkan melalui sistem kolektif yang melibatkan dewan sepak bola berisi berbagai divisi, mulai dari perekrutan, pengembangan pemain, strategi sepak bola, performa, hingga keuangan.
“Tidak ada satu orang yang mengambil keputusan sendiri,” ujarnya.
Selain membangun klub, Como juga mengembangkan ekosistem sports tourism di kawasan Danau Como melalui sektor retail, komunitas, dan pariwisata.
Di balik keberhasilan tersebut, Mirwan menilai sepak bola modern kini semakin bergerak menuju era pengambilan keputusan berbasis data, bukan sekadar intuisi.
“Sepak bola sekarang bukan cuma soal feeling,” katanya.
(*)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.