Cuaca Ekstrem Ubah Peta Kekuatan Piala Dunia, Rasiman: Inggris Mudah Keok vs Tim Amerika Latin
Suhu ekstrem dan kelembapan tinggi di Amerika Utara diprediksi menjadi "lawan tersembunyi" dapat mengubah peta persaingan Piala Dunia 2026
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Muhammad Nursina Rasyidin
Ringkasan Berita:
- Cuaca panas dan kelembapan tinggi diprediksi menjadi faktor krusial yang memengaruhi persaingan di Piala Dunia 2026
- Pelatih sekaligus pengamat sepak bola Rasiman menilai kondisi tersebut berpotensi menguntungkan negara-negara Amerika Latin
- Sekaligus menyulitkan tim-tim Eropa yang terbiasa bermain di iklim lebih dingin
TRIBUNNEWS.COM - Piala Dunia 2026 diprediksi tidak hanya ditentukan kualitas pemain, strategi pelatih, maupun kedalaman skuad.
Faktor cuaca disebut bisa menjadi elemen penting yang berpotensi mengubah peta kekuatan sepak bola dunia.
Pelatih dan pengamat sepak bola Rasiman menilai kondisi musim panas di Amerika Serikat, yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko, akan memberikan keuntungan tersendiri bagi negara-negara Amerika Latin.
"Kondisi di Amerika yang cukup ekstrem tentunya akan menguntungkan Argentina ataupun Brasil. Di luar itu mungkin Prancis yang bisa mengatasi kondisi tersebut," ujar Rasiman diwawancarai pada Rabu (3/6/2026).
Menurut dia, cuaca panas dan tingkat kelembapan yang tinggi akan menjadi tantangan besar bagi banyak tim, khususnya negara-negara Eropa yang mayoritas pemainnya terbiasa bermain dalam kondisi cuaca lebih dingin.
Rasiman menilai sejumlah tim unggulan Eropa berpotensi mengalami kesulitan bukan karena kualitas permainan mereka menurun, melainkan akibat tuntutan fisik yang jauh lebih berat selama turnamen berlangsung.
Ia mencontohkan Inggris yang mayoritas diperkuat pemain kelahiran asli Inggris dan sepanjang musim berkompetisi di lingkungan sepak bola Eropa dengan karakter cuaca relatif lebih sejuk.
"Berbeda dengan Inggris yang mayoritas penduduk asli Inggris, kemungkinan akan jauh lebih sulit," katanya menyorot faktor humidity sebagai tantangan.
Menurut Rasiman, suhu ekstrem dan kelembapan tinggi akan menguras energi pemain secara signifikan, terutama ketika mereka harus menjalani jadwal pertandingan yang padat dalam rentang waktu singkat.
"Saya rasa negara-negara unggulan dari Eropa akan terpleset bukan karena persoalan teknis dan taktis, tetapi soal kelelahan," ujarnya.
Baca juga: Lengkap! Inilah Daftar Skuad 48 Negara Peserta Piala Dunia 2026, Ada 1.248 Pemain
Meski demikian, ia menilai masih ada beberapa negara Eropa yang berpotensi beradaptasi lebih baik, seperti Prancis dan Jerman.
Prancis dinilai memiliki keunggulan fisik berkat banyaknya pemain keturunan Afrika yang terbiasa menghadapi kondisi cuaca panas.
Sementara Jerman dianggap memiliki kultur pembinaan fisik yang kuat sehingga tetap kompetitif dalam berbagai situasi.
Di sisi lain, Rasiman melihat Argentina dan Brasil sebagai dua tim yang paling diuntungkan oleh kondisi geografis dan cuaca di Amerika Utara.
Menurut dia, pemain-pemain dari kedua negara tersebut memiliki pengalaman bermain dalam iklim panas dan tingkat kelembapan tinggi sejak usia muda, sehingga proses adaptasi diyakini tidak akan serumit yang dialami tim-tim Eropa.
"Kalau melihat kondisi Amerika sekarang, tentunya negara dari Amerika Latin akan lebih diuntungkan karena situasi geografis mereka yang hampir sama," kata Rasiman.
Ia bahkan memprediksi Piala Dunia kali ini berpotensi menjadi panggung dominasi negara-negara Amerika Latin.
"Kemungkinan Piala Dunia kali ini adalah milik negara-negara Latin karena soal humidity saja," ujarnya.
Selain faktor cuaca, Argentina juga dinilai memiliki keuntungan nonteknis berupa dukungan besar komunitas Latin yang tersebar luas di Amerika Serikat.
Kelembapan dan Strategi FIFA
Prediksi Rasiman sejalan dengan berbagai kajian iklim yang menunjukkan bahwa kelembapan berpotensi menjadi tantangan utama selama Piala Dunia 2026.
Mengutip BBC, para ahli cuaca menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), yakni pengukuran yang menggabungkan suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan radiasi matahari untuk mengetahui tingkat tekanan panas yang sesungguhnya terhadap tubuh manusia.
Dalam kondisi kelembapan tinggi, suhu udara sekitar 30 derajat Celsius dapat terasa mendekati 38 derajat Celsius karena tubuh kesulitan mendinginkan diri melalui penguapan keringat.
Kondisi tersebut diperkirakan paling terasa di sejumlah kota tuan rumah seperti Miami, Houston, Dallas, dan Monterrey yang dikenal memiliki kombinasi suhu tinggi dan kelembapan tinggi selama musim panas.
Para peneliti bahkan menggambarkan kondisi lapangan di beberapa wilayah tersebut berpotensi menyerupai lingkungan "sauna" ketika pertandingan digelar pada siang hari.
Sejumlah proyeksi menunjukkan sekitar seperempat pertandingan Piala Dunia 2026 berpotensi berlangsung dalam kondisi yang melampaui ambang batas WBGT ideal, terutama untuk laga yang dimainkan pada siang hingga sore hari.
Baca juga: Jepang Bukan Lagi Tim Kuda Hitam di Piala Dunia: Inggris, Brasil, dan Spanyol Pernah Disikat
Kelembapan tinggi tidak hanya berdampak terhadap kenyamanan pemain, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap performa di lapangan.
Ketika penguapan keringat terganggu, suhu inti tubuh meningkat lebih cepat sehingga pemain cenderung mengalami penurunan daya tahan, berkurangnya intensitas sprint, serta penurunan jarak tempuh selama pertandingan.
Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kram panas, kelelahan ekstrem, pusing, hingga serangan panas yang dapat mengancam keselamatan pemain.
Dari sisi taktik, pertandingan berpotensi berlangsung lebih lambat karena pemain harus menghemat energi.
Kesalahan individu akibat kelelahan juga diperkirakan meningkat, terutama pada fase-fase akhir pertandingan.
Sebagai antisipasi, FIFA telah menyiapkan sejumlah protokol cuaca panas, termasuk jeda hidrasi di setiap babak serta penyesuaian jadwal pertandingan ke slot malam hari untuk mengurangi risiko tekanan panas terhadap pemain dan penonton.
Dengan kombinasi suhu tinggi, kelembapan ekstrem, dan padatnya jadwal pertandingan, cuaca diperkirakan menjadi salah satu faktor nonteknis paling menentukan dalam perjalanan tim-tim peserta menuju gelar juara dunia tahun 2026.
Badai petir berpotensi paling besar menyebabkan gangguan visual pada pertandingan.
Badai petir di musim panas tersebar luas tetapi sangat umum terjadi di kota-kota seperti Miami, Houston, dan Atlanta, di mana kondisi hangat dan lembap dapat memicu badai yang sering terjadi di siang dan malam hari.
Jika petir terdeteksi dalam radius 10 mil dari stadion, rekomendasi resmi dan praktik standar di AS adalah pertandingan dihentikan hingga 30 menit setelah sambaran petir terakhir.
Baru-baru ini, Grand Prix F1 Miami dimajukan tiga jam karena risiko badai petir dan kilat.
Sirkuit ini terletak bersebelahan dengan Hard Rock Stadium, yang akan menjadi tuan rumah beberapa pertandingan Piala Dunia.
Meskipun waktu pertandingan dapat disesuaikan, badai petir pada dasarnya sulit diprediksi secara tepat, menjadikannya salah satu risiko yang paling sulit diprediksi yang dihadapi penyelenggara.
Masih ada lagi potensi musim kebakaran hutan tahun 2026 yang telah dimulai lebih awal di AS dengan jumlah kebakaran hutan yang sudah terjadi di atas rata-rata.
Pada tahun 2023, kebakaran hutan besar di Kanada menyebabkan asap menyebar ke sebagian besar wilayah Amerika Utara , memengaruhi kota-kota yang berjarak ribuan mil jauhnya.
Kualitas udara mencapai tingkat berbahaya di beberapa bagian Amerika Serikat, termasuk New York, yang menyebabkan gangguan meluas dan pembatalan acara olahraga.
Tidak ada ambang batas tetap dari FIFA untuk kualitas udara yang mengharuskan pertandingan dihentikan, sehingga setiap keputusan untuk menunda atau menghentikan pertandingan akan dibuat berdasarkan kondisi terkini dan saran kesehatan masyarakat setempat.
Bagi para pemain dan penyelenggara, mengelola cuaca ekstrem akan menjadi bagian berkelanjutan dari turnamen ini. Bagi para penggemar, dampaknya mungkin dirasakan dengan cara yang berbeda.
Suhu tinggi dapat membuat kondisi di stadion dan zona penggemar menjadi tidak nyaman, sementara badai petir dapat menyebabkan penundaan atau evakuasi sementara.
Namun, penundaan dan pengunduran jadwal juga dapat mengganggu rencana transportasi, dengan pertandingan berakhir hingga larut malam dan pemesanan hotel juga terpengaruh.
Bagi penggemar yang menonton di rumah di Inggris, perbedaan waktu sudah berarti banyak pertandingan akan berlangsung di malam hari atau tengah malam - gangguan terkait cuaca dapat memperpanjang waktu menonton dan membuat sebagian orang begadang hingga larut malam.
(*)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.