Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Techno
LIVE ●

Keterbukaan Terhadap Teknologi Tingkatkan Daya Saing Global Industri Makanan & Minuman di Indonesia

Masih banyaknya manufaktur mamin Indonesia yang beroperasi secara manual dengan kendali manusia secara penuh

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Keterbukaan Terhadap Teknologi Tingkatkan Daya Saing Global Industri Makanan & Minuman di Indonesia
Tribunnews/Herudin
Pedagang disabilitas melayani pembeli di kedai Difabis Coffee & Tea, kawasan Terowongan Kendal, Jakarta Pusat, Selasa (26/1/2021). Kedai yang memperkerjakan para penyandang disabilitas dari Difabel BAZNAS (BAZIS) itu menjual berbagai produk makanan dan minuman hasil olahan dari berbagai UMKM. Tribunnews/Herudin 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Sebagian besar pelaku usaha belum sepenuhnya menerapkan praktik Industri 4.0 seperti yang dicita-citakan dalam rencana “Making Indonesia 4.0” oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang diluncurkan pada tahun 2018.

Salah satu alasan dari lambatnya adopsi tersebut adalah kurangnya pasokan teknologi yang sesuai dan penyedia teknologi yang mahir di Indonesia, seperti yang dibahas pada live webinar, Industry 4.0: How smart plant technologies support efficiency, safety and competitiveness of F&B manufacturing for the global
stage yang diselenggarakan oleh New Zealand Trade & Enterprise (NZTE).

Keterbukaan terhadap teknologi yang lebih maju oleh perusahaan asing akan membangkitkan dan meningkatkan daya saing global industri manufaktur Makanan & Minuman (mamin) Indonesia.

Hal ini secara signifikan mendukung peningkatan efisiensi dan keselamatan pada bidang operasi pabrik, yang mana Selandia Baru unggul dalam menerapkan teknologi pabrik pintar (smart plant technologies).

Operasional pabrik, sebagai salah satu dari lima pilar utama yang diukur oleh Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), secara langsung mendukung keseluruhan sistem manufaktur bersamaan dengan empat pilar INDI 4.0 lainnya, yaitu manajemen dan organisasi; sumber daya manusia dan budaya; produk dan layanan; dan teknologi.

“Selandia Baru telah memanfaatkan perpaduan teknologi yang menggabungkan aspek fisik, digital, maupun kombinasi antara kedua aspek tersebut. Badan pemerintah dan perusahaan asing di Selandia Baru menyediakan peluang untuk mendukung manufaktur mamin Indonesia menerapkan teknologi pintar yang bertujuan meningkatkan efisiensi serta keselamatan operasional pabrik.

Baca juga: Tiga Sektor Primadona Beri Kontribusi Besar Ekspor Manufaktur Indonesia, Apa Saja?

Jika dijelaskan lebih lanjut teknologi pintar tersebut antara lain teknologi sistem keamanan tinggi yang dapat membantu mengelola keselamatan dengan mengurangi kontak antar sesama manusia, sistem pendingin udara yang fleksibel, rekayasa industri virtual yang mempermudah analisa data dan pengambilan keputusan, dan teknologi virtual untuk K3L (Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Lingkungan),” terang Diana Permana, Komisaris
Perdagangan Selandia Baru untuk Indonesia.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut data yang dipaparkan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI), Adhi S. Lukman, 49,2 persen dari PDB Indonesia adalah pengeluaran makanan dan 16,9 persen berasal dari makanan olahan. Pertumbuhan industri mamin mengalami penurunan dari 7,8 persen pada tahun 2019 menjadi 1,5 persen pada tahun 2020 akibat adanya gangguan dari pandemi COVID-19.

Hal ini dikarenakan masih banyaknya manufaktur mamin Indonesia yang beroperasi secara manual dengan kendali manusia secara
penuh.

“Industri mamin memainkan peran penting dalam perekonomian nasional dan pandemi COVID19 telah menyebabkan gangguan besar dalam nilai pertumbuhan dan kompetitif secara global. Teknologi Industri 4.0 menghadirkan digitalisasi dan Human Machine Interface (HMI).

Inovasi tersebut akan memajukan industri mamin Indonesia dari operasional secara manual menjadi serba otomatis, lalu menjadi operasional secara otonom, sehingga mendukung manufaktur menjalankan operasionalnya dengan hemat biaya, waktu, aman dan berkelanjutan,” jelas Adhi.

Dengan beragam praktik baru yang muncul akibat COVID-19, kegiatan operasional yang lebih aman menjadi semakin penting dan diperkirakan akan terus berlaku kedepannya.

Baca juga: Marak Jelang Idul Fitri, Ketua DPD RI Imbau Masyarakat Waspada Makanan Mengandung Zat Kimia

Teknologi tidak hanya mengoptimalkan peran manusia, tetapi juga memungkinkan perusahaan untuk mengelola
risiko di bidang operasional.

Travis Lee, Manajer Business Development Asia Tenggara dari Gallagher Security, perusahaan sistem keamanan dari Selandia Baru, menjelaskan, “pandemi telah
mengembangkan bagaimana cara mengukur keselamatan praktik bisnis dengan kebijakan prosedur yang lebih ketat untuk mengelola risiko dari segi keamanan dan kesehatan.

"Mengadopsi teknologi berbasis smart security dapat mendukung pabrik untuk mencegah dan memitigasi potensi resiko dari kontaminasi manusia, dimulai dengan penyaringan di pintu masuk, mengelola pergerakan manusia, mengelola kapasitas ruangan, hingga pelacakan kontak (contact
tracing) – semua dikelola melalui system berbasis aplikasi," kata Travis.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas