Tribun Techno

Pakar Siber Desak RUU Pelindungan Data Pribadi Segera Disahkan

Kebocoran data di Indonesia sudah dalam tahap kritis seperti ini seharusnya Pemerintah dan DPR bisa sepakat untuk menggolkan UU PDP

Penulis: Fandi Permana
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Pakar Siber Desak RUU Pelindungan Data Pribadi Segera Disahkan
Ist
Pakar Keamanan Siber, Pratama Persadha. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fandi Permana 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bocornya 2 juta data nasabah BRI Life menambah daftar panjang kasus serangan siber di Indonesia. 

Kasus yang bermula dari unggahan Perusahaan pemantau kejahatan cyber, Hudson Rock menyebutkan dalam akun twitternya bahwa pencurian data telah dialami BRI Life.

Dalam screenshot atau tangkapan layar yang dibagikan, terlihat banyak domain dan subdomain dari BRI yang datanya diambil.

Saat dicek di raidforums, sebuah akun bernama Reckt sempat mengupload sampel data yang dia jual, namun beberapa saat kemudian dihapus.

Akun tersebut menjual Database Nasabah BRI LIFE INSURANCE (2 juta lebih nasabah) dan Scan Dokumen (lebih dari 463 ribu).

Pakar siber dan Chairman CISSReC, Pratama Persadha mengatakan klaim dari Hudson Rock itu terindikasi valid.

Baca juga: Sebelum Cairkan BLT UMKM Rp 1,2 Juta, Cek Penerima di Laman BRI atau BNI, Cair Juli-September 2021

Sebab dari sampel yang didapat, terdapat data mutasi rekening, bukti trasnfer setoran asuransi, KTP, ada juga tangkapan layar perbicangan WA nasabah dengan pegawai BRI Life. 

“Klaim Hudson Rock kemungkinan besar benar, mereka yang menginformasikan pertama kali soal kebocoran maupun pelaku penjual data, kemungkinan besar benar.

Bahwa data yang mereka klaim tersebut memang berisi berbagai data dari nasabah BRI Life,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (28/7/2021).

Ditambahkan olehnya tentu ini menjadi perhatian serius bagi BRI Life untuk memperkuat sistem keamanannya.

Sebab, Hudson Rock bisa memperlihatkan jelas data yang diambil karena pembobolan situs.

Bisa dilihat bagaimana situs-situs BRI Life disebutkan bahkan beserta username atau akun login, password dan IP.

“Perlu dilakukan forensik digital untuk mengetahui celah keamanan mana yang dipakai untuk menerobos, apakah dari sisi SQL (Structured Query Language) sehingga diekspos SQL Injection atau ada celah keamanan lain.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas