Tribun Techno

Menanti Penantang Baru Dunia Telekomunikasi

Merger antara Indosat Ooredoo dengan Hutchison 3 Indonesia menjadi konsolidasi yang cukup fenomenal di tahun 2021.

Editor: Hendra Gunawan
Menanti Penantang Baru Dunia Telekomunikasi
Tribun Jabar/GANI KURNIAWAN
Ilustrasi ruangan customer services XL Axiata di Bandung 

TRIBUNNEWS.COM -- Merger antara Indosat Ooredoo dengan Hutchison 3 Indonesia menjadi konsolidasi yang cukup fenomenal di tahun 2021.

Bergabungnya dua perusahaan telekomunikasi tersebut membuka peluang Indosat-3 jadi penantang penguasa telekomunikasi Indonesia saat ini Telkomsel.

Dengan mergernya dua perusahaan jadi PT Indosat Ooredo Hutchison Tbk, kini jumlah pelanggan mereka menjadi sekitar 104-an juta, sementara pelanggan Telkomsel 160-an juta.

Kamilov Sagala, Ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi mengatakan, konsolidasi tersebut bisa membuat Indosat-3 melesat.

Baca juga: Susul Indosat, Fren Jajaki Merger dengan XL Axiata

“Potensi jumlah pelanggan bisa mendekati Telkomsel, tidak perlu menunggu hitungan tahun. Industri ini bergerak sangat cepat, hitungan bulan sudah bisa terlihat. Total penggbungan 104 juta pelanggan bisa melejit seiring dengan peningkatan pelayanan yang akan berefek pada peningkatan pendapatan operator,” ungkap mantan  Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) itu.

Merger Indosat dengan Tri diakui menteri membawa kebaikan karena akan terjadi efisiensi dan industri akan lebih produktif.

“Ada efiensi dalam pemanfaatan infrastruktur dan sumber daya manusia, dan, permodalan yang lebih hebat,” ujarnya akhir pekan lalu.

Konsolidasi dalam bentuk merger atau akuisisi memang menjadi syarat jika industri ingin efisien, apalagi untuk 350 juta pelanggan dengan 230 juta penduduk pemilik kartu enam operator, terlalu banyak. Dari enam menjadi hanya lima, sudah bagus dan akan sangat bagus jika menjadi tiga atau setidaknya empat operator.

Baca juga: Merger Indosat Tri Jadi Kunci Pemerataan Pendidikan hingga Buka Peluang Ekonomi di Daerah Terpencil

Beberapa negara bisa jadi contoh, dua operator masing-masing di India (Vodafone dengan Airtel) dan di Malaysia (Celcom dan Telenor) sudah melakukan merger agar bisnis mereka efisien.

Pengamat telekomunikasi, Joseph M Edward kepada media, merger antara Indosat dan Tri menciptakan industri telekomunikasi yang lebih sehat, sekaligus menguntungkan konsumen.

Mereka dapat menikmati layanan telekomunikasi dengan tarif terjangkau dan berkualitas, karena terciptanya struktur pasar dan industri yang lebih kompetitif.

Menurut sebagian masyarakat pelanggan, mereka tidak terlalu peduli adanya merger, yang penting nomor mereka tidak harus berubah, dan tarif tidak menjadi mahal, terutama bagi milenial yang selama ini menikmati tarif internet termurah dari Tri.

Bahkan bekas pelanggan Tri akan menikmati pengalaman baru, mulai bisa menelepon atau menerima telepon di daerah yang tadinya hanya dikuasai Indosat, misanyua di NTT, Maluku dan Papua.

Kawasan-kawasan tadi bukannya tidak punya milenial, pelajar dan mahasiswa, hanya karena tidak ada jaringan Tri mereka tidak kenal layanan Tri. Akan terjadi penambahan pelanggan karena pelanggan Tri di Jawa misalnya, bisa minta kerabat mereka di kawasan tadi untuk berlangganan Indosat Ooredoo Hutchison. Asal saja Indosat Ooredoo Hutchison membuka segmen milenial, bukan sekadar memasukkan ke IM3 yang murahnya masih murah borjuis.

Pemerintah pun mendapat PNBP (penerimaan negara bukan pajak) lebih besar karena akan terjadi perluasan layanan ke seluruh wilayah dengan jumlah BTS yang bertambah. Transaksi bisnis pun tidak hanya terjadi di Tanah Air, karena dua raksasa, Ooredoo dan Hutchison, merupakan pemain global.

Halaman
12
Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P

Wiki Terkait

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas