Tribun Techno

Permintaan VPN di Iran Meroket Setelah Muncul Aturan Pembatasan Internet

Warga Iran beralih ke jaringan pribadi virtual (VPN) untuk menghindari gangguan internet yang meluas karena pembatasan oleh Pemerintah Iran.

Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Permintaan VPN di Iran Meroket Setelah Muncul Aturan Pembatasan Internet
OZAN KOSE / AFP
Seorang pengunjuk rasa memegang potret Mahsa Amini selama demonstrasi mendukung Amini, seorang wanita muda Iran yang meninggal setelah ditangkap di Teheran oleh polisi moral Republik Islam, di jalan Istiklal di Istanbul pada 20 September 2022. Amini (22) saat itu melakukan kunjungan bersama keluarganya ke ibukota Iran ketika dia ditahan pada 13 September oleh unit polisi yang bertanggung jawab untuk menegakkan aturan berpakaian ketat Iran untuk wanita, termasuk mengenakan jilbab di depan umum. Amini dinyatakan meninggal pada 16 September oleh televisi pemerintah setelah menghabiskan tiga hari dalam keadaan koma. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
 

TRIBUNNEWS.COM, TEHERAN - Warga Iran beralih ke jaringan pribadi virtual (VPN) untuk menghindari gangguan internet yang meluas, saat Pemerintah Iran berusaha menyembunyikan tindakan kerasnya terhadap protes massal rakyatnya.

Pemadanan internet pertama kali melanda jaringan telekomunikasi Iran pada 19 September, menurut data dari perusahaan pemantau internet Cloudflare dan NetBloks, dan telah berlangsung selama dua setengah minggu terakhir.

Dikutip dari CNBC, kelompok pemantau internet dan aktivis hak digital mengatakan mereka melihat gangguan jaringan “curfew-style” setiap hari, dengan akses yang dibatasi dari sekitar pukul 4 sore waktu setempat hingga larut malam.

Iran juga memblokir akses dua dari layanan media sosial tanpa sensor terakhir yang tersisa di negara tersebut, yaitu WhatsApp dan Instagram.

Twitter, Facebook dan YouTube serta beberapa platform media sosial lainnya telah dilarang hadir di Iran selama bertahun-tahun.

Akibatnya, warga Iran berbondong-bondong menggunakan VPN, layanan koneksi yang memberikan penggunanya akses ke situs web secara aman dan pribadi dengan mengubah jalur koneksi melalui server dan menyembunyikan aktivitas online penggunanya.

VPN memungkinkan pengguna memulihkan koneksi ke situs web dan aplikasi yang dibatasi.

Baca juga: 75 Orang Tewas Akibat Kerusuhan di Iran, Ribuan Warga Ditangkap, Aktivis Protes Polisi Tembaki Warga

Layanan VPN paling populer selama protes di Iran adalah Lantern, Mullvad dan Psiphon, menurut Top10VPN, dengan ExpressVPN juga mengalami peningkatan besar.

Pada 22 September lalu, sehari setelah WhatsApp dan Instagram dilarang di Iran, permintaan layanan VPN meroket 2,164 persen dibandingkan dengan 28 hari sebelumnya, menurut data dari Top10VPN.

Pada 26 September, permintaan layanan VPN di iran memuncak pada 3,082 persen, tambah Top10VPN.

Baca juga: Penyebab Kematian Mahsa Amini yang Jadi Pemicu Gelombang Protes di Iran hingga Tewaskan 50 Orang

“Media sosial memainkan peran penting dalam protes di seluruh dunia. Ini memungkinkan pengunjuk rasa untuk mengatur dan memastikan pihak berwenang tidak dapat mengendalikan narasi dan menekan bukti pelanggaran hak asasi manusia.

Keputusan otoritas Iran untuk memblokir akses ke platform ini saat protes meletus telah menyebabkan permintaan VPN meroket,” kata  kepala penelitian di Top10VPN, Simon Migliano.

Permintaan jauh lebih tinggi dibandingkan selama pemberontakan yang terjadi pada tahun 2019, yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar dan menyebabkan pemadanan internet total hampir selama 12 hari.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas