Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Techno
LIVE ●

Deepfake Picu Lonjakan Penipuan Mobile, Perlindungan Aplikasi Jadi Penting

Praktik penipuan digital di plaform online dengan teknik deepfake kini makin menjadi-jadi.

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Deepfake Picu Lonjakan Penipuan Mobile, Perlindungan Aplikasi Jadi Penting
Kolase Tribunnews/FRONTIERSIN.ORG
DEEPFAKE - Contoh perbandingan foto asli (kiri) dan foto deepfake (kanan). Penipuan deepfake memanfaatkan kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu menciptakan gambar, suara bahkan video palsu yang bisa terlihat sangat meyakinkan untuk menipu targetnya. 

Di sisi lain, banyak aplikasi belum mampu mendeteksi perangkat tidak dikenal secara real time, sehingga pengguna kerap baru sadar setelah pembobolan terjadi.

Serangan ransomware pada Pusat Data Nasional (PDN) tahun 2024 menjadi contoh nyata.

Peretasan tersebut melumpuhkan layanan vital, termasuk prosedur imigrasi bandara, dan membuktikan betapa mudah infrastruktur kritis suatu negara bisa dikompromikan.

Sistem Keamanan yang Masih Terbatas

Dengan proyeksi 204,97 juta pengguna digital payment di Indonesia pada 2028, kebutuhan perlindungan aplikasi mobile kian mendesak.

Sayangnya, sebagian besar solusi keamanan masih bertumpu pada peringatan OS sederhana, bukan pemantauan berkelanjutan di level aplikasi. Hal ini menciptakan banyak titik lemah yang dapat dimanfaatkan penyerang.

Menurut Jan Sysmans, Mobile App Security Evangelist di Appdome, identifikasi perangkat secara persisten di level aplikasi menjadi hal penting untuk menangkal penipuan deepfake.

“Proses otentikasi biometrik selama ini terlalu banyak mengandalkan asumsi, padahal tanpa verifikasi perangkat yang berkelanjutan, risiko login palsu sangat tinggi,” ujarnya, Selasa, 14 Oktober 2025.

Rekomendasi Untuk Anda

Sysmans mencontohkan, solusi seperti Appdome IDAnchor mampu langsung mendeteksi akses tidak sah terhadap aplikasi mobile.

Melalui notifikasi sederhana “Is this you?”, pengguna bisa segera tahu jika ada pihak lain mencoba menyamar. Mekanisme ini dinilai efektif mencegah peretasan sebelum kerugian terjadi.

Prioritas Nasional 

Indonesia sendiri diproyeksikan menjadi pasar ponsel terbesar kedua di Asia Pasifik. Artinya, pertahanan aplikasi mobile harus menjadi prioritas nasional.

Hal itu didukung oleh data prediksi bahwa akan ada 381 juta pengguna smartphone aktif di Indonesia pada 2030.

Jan Sysmans mengatakan, para pengembang aplikasi dapat mengadopsi teknologi seperti Appdome IDAnchor yang mengikat identitas pengguna dengan perangkat secara permanen, bahkan setelah aplikasi dihapus, OS diperbarui, atau perangkat di-reset.

Di sektor perbankan, e-commerce, hingga pembayaran digital, penerapan IDAnchor akan membantu menekan kerugian finansial, menjaga reputasi, serta mendukung kepatuhan pada regulasi keamanan siber.

Selain itu, pemerintah juga tengah mengimplementasikan Rencana Aksi Nasional Keamanan Siber (RAN Kamsiber).

Strategi ini berfokus pada perlindungan infrastruktur informasi kritis, peningkatan talenta keamanan siber, serta penguatan kapabilitas deteksi dan respons.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas