GenAI di Perguruan Tinggi: Mahasiswa Butuh Regulasi Diri
GenAI mengubah cara belajar di kampus, tapi juga memicu risiko turunnya nalar kritis. Dosen didorong tanamkan literasi AI dan self-regulated learning.
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha

KECEPATAN perkembangan teknologi Generative Artificial Intelligence (GenAI) rasanya tidak bisa terbendung.
Dengan kemampuannya yang ‘luar biasa’ untuk memproduksi konten, baik audiovisual maupun teks, GenAI muncul sebagai penolong bagi pekerjaan-pekerjaan manusia. Jika kita amati, konten buatan GenAI terus meningkat secara kualitas dari waktu ke waktu.
ChatGPT, Gemini, Co-pilot, dan Grok menjadi contoh GenAI yang populer digunakan.
Sejatinya, teknologi GenAI tidak dirancang untuk tujuan pendidikan, melainkan bisnis dan komersial.
Perkembangan teknologi GenAI terwujud karena investasi besar dari perusahan-perusahan seperti Google dan Microsoft.
Dengan investasinya, mereka berharap mendapatkan return on investment yang menguntungkan melalui sejumlah kepentingan komersial, misalnya konten iklan dan marketing, bahasa pemograman (coding), customer service, dan otomatisasi.
Perlu diakui bahwa GenAI memang tidak dirancang secara khusus untuk mengakomodasi nilai-nilai pendidikan yang berupaya menumbuhkembangkan pikiran, karakter, dan tanggung jawab.
GenAI juga tidak bermaksud membantu mahasiswa menjadi pembelajar sepanjang hayat (long-span learners). Namun, terlepas dari itu, integrasinya dalam konteks pendidikan menghadirkan cara pandang dan praktik baru dalam memperoleh, menyampaikan, dan mengevaluasi ilmu pengetahuan.
Misalnya, dahulu mahasiswa perlu pergi ke perpustakaan, menyeleksi bahan bacaan yang relevan, dan membacanya secara intensif untuk menulis sebuah artikel ilmiah. Dengan bantuan GenAI, mahasiswa hanya memerlukan beberapa klik saja untuk mengakses referensi.
Bahkan, GenAI mampu melakukan kajian pustaka dan dengan cepat menyuguhkan hasilnya. Selain itu, penggunaan GenAI juga kerap ditemukan selama kegiatan diskusi presentasi, terutama yang dilakukan secara daring.
GenAI bisa dimanfaatkan untuk merangkum materi presentasi dan membantu merumuskan pertanyaan dan jawaban ketika sesi tanya jawab.
‘Kehebatan’ Gen AI tidak hanya dimanfaatkan oleh mahasiswa, tetapi juga dosen, misalnya untuk menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS), soal tugas, UTS dan UAS, dan menilai keterampilan menulis mahasiswa.
Cara pandang dan praktik baru tersebut menghadirkan peluang sekaligus kekhawatiran. Kekhawatiran datang dari fakta bahwa pekerjaan GenAI kerap menyajikan hasil yang seolah-olah akurat tapi sebenarnya tidak, dan menampilkan pekerjaan orang lain tanpa memberikan rekognisi.
Banyak orang menyebutnya sebagai halusinasi AI. Jika tidak ada niat dan upaya yang tulus untuk menyeleksi dan menyempurnakan pekerjaan AI dari pengguna (baca: mahasiswa dan dosen), teknologi ini justru akan menghambat perkembangan pembelajaran dan profesionalisme.
Selain itu, terdapat sejumlah banyak penelitian yang mewanti-wanti pentingnya penggunaan AI secara lebih bijak dan bertanggungjawab. Jika tidak, banyak efek negatif yang akan muncul, misalnya menurunnya kemampuan pengambilan keputusan, berpikir kritis, kreativitas, serta meningkatnya tingkat kemalasan.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan