Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

GenAI di Perguruan Tinggi: Mahasiswa Butuh Regulasi Diri

GenAI mengubah cara belajar di kampus, tapi juga memicu risiko turunnya nalar kritis. Dosen didorong tanamkan literasi AI dan self-regulated learning.

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in GenAI di Perguruan Tinggi: Mahasiswa Butuh Regulasi Diri
Surya/Purwanto
MAHASISWA DAN AI - Mahasiswa mengerjakan tugas di kawasan Perpustakaan Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Rabu (8/4/2026). GenAI mengubah cara belajar di kampus, tapi juga memicu risiko turunnya nalar kritis. Dosen didorong tanamkan literasi AI dan self-regulated learning. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Tomy Kartika Putra, M.Pd.
Pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang

KECEPATAN perkembangan teknologi Generative Artificial Intelligence (GenAI) rasanya tidak bisa terbendung.

Dengan kemampuannya yang ‘luar biasa’ untuk memproduksi konten, baik audiovisual maupun teks, GenAI muncul sebagai penolong bagi pekerjaan-pekerjaan manusia. Jika kita amati, konten buatan GenAI terus meningkat secara kualitas dari waktu ke waktu.

ChatGPT, Gemini, Co-pilot, dan Grok menjadi contoh GenAI yang populer digunakan.

Sejatinya, teknologi GenAI tidak dirancang untuk tujuan pendidikan, melainkan bisnis dan komersial.

Perkembangan teknologi GenAI terwujud karena investasi besar dari perusahan-perusahan seperti Google dan Microsoft. 

Dengan investasinya, mereka berharap mendapatkan return on investment yang menguntungkan melalui sejumlah kepentingan komersial, misalnya konten iklan dan marketing, bahasa pemograman (coding), customer service, dan otomatisasi. 

Rekomendasi Untuk Anda

Perlu diakui bahwa GenAI memang tidak dirancang secara khusus untuk mengakomodasi nilai-nilai pendidikan yang berupaya menumbuhkembangkan pikiran, karakter, dan tanggung jawab.

GenAI juga tidak bermaksud membantu mahasiswa menjadi pembelajar sepanjang hayat (long-span learners). Namun, terlepas dari itu, integrasinya dalam konteks pendidikan menghadirkan cara pandang dan praktik baru dalam memperoleh, menyampaikan, dan mengevaluasi ilmu pengetahuan. 

Misalnya, dahulu mahasiswa perlu pergi ke perpustakaan, menyeleksi bahan bacaan yang relevan, dan membacanya secara intensif untuk menulis sebuah artikel ilmiah. Dengan bantuan GenAI, mahasiswa hanya memerlukan beberapa klik saja untuk mengakses referensi.

Bahkan, GenAI mampu melakukan kajian pustaka dan dengan cepat menyuguhkan hasilnya. Selain itu, penggunaan GenAI juga kerap ditemukan selama kegiatan diskusi presentasi, terutama yang dilakukan secara daring.

GenAI bisa dimanfaatkan untuk merangkum materi presentasi dan membantu merumuskan pertanyaan dan jawaban ketika sesi tanya jawab. 

‘Kehebatan’ Gen AI tidak hanya dimanfaatkan oleh mahasiswa, tetapi juga dosen, misalnya untuk menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS), soal tugas, UTS dan UAS, dan menilai keterampilan menulis mahasiswa. 

Cara pandang dan praktik baru tersebut menghadirkan peluang sekaligus kekhawatiran. Kekhawatiran datang dari fakta bahwa pekerjaan GenAI kerap menyajikan hasil yang seolah-olah akurat tapi sebenarnya tidak, dan menampilkan pekerjaan orang lain tanpa memberikan rekognisi.

Banyak orang menyebutnya sebagai halusinasi AI. Jika tidak ada niat dan upaya yang tulus untuk menyeleksi dan menyempurnakan pekerjaan AI dari pengguna (baca: mahasiswa dan dosen), teknologi ini justru akan menghambat perkembangan pembelajaran dan profesionalisme. 

Selain itu, terdapat sejumlah banyak penelitian yang mewanti-wanti pentingnya penggunaan AI secara lebih bijak dan bertanggungjawab. Jika tidak, banyak efek negatif yang akan muncul, misalnya menurunnya kemampuan pengambilan keputusan, berpikir kritis, kreativitas, serta meningkatnya tingkat kemalasan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas