Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Techno
LIVE ●

Tak Perlu Tunggu Bertahun-tahun, Teknologi Baru Percepat Uji Mutu Pangan

Proses pengujian masa simpan dan keamanan pangan yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan kini bisa dipangkas menjadi hanya 30 hingga 60 hari

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Dodi Esvandi
zoom-in Tak Perlu Tunggu Bertahun-tahun, Teknologi Baru Percepat Uji Mutu Pangan
HANDOUT
Jonathan A. Widakdo, Head of Sales and Marketing Alvalab menjelaskan inovasi terbaru dalam dunia pengujian mutu dan keamanan pangan di ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 di ICE BSD, Serpong, Tangerang, Banten 

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG — Proses pengujian masa simpan dan keamanan pangan yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan kini bisa dipangkas menjadi hanya 30 hingga 60 hari. 

Inovasi ini diperkenalkan dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 oleh Alvalab, sebuah laboratorium pengujian yang memperkenalkan alat uji percepatan kadaluwarsa bernama Climatic Chamber ASLT (Accelerated Shelf Life Testing).

“Alat ini kami datangkan langsung dari Eropa. Bentuknya menyerupai lemari pendingin satu pintu, namun dilengkapi sistem pemantauan suhu, kelembaban, dan cahaya yang dapat disesuaikan untuk simulasi kondisi penyimpanan berbagai jenis produk,” ujar Jonathan A. Widakdo, Head of Sales and Marketing Alvalab, di sela pameran TEI, Jumat (17/10/2025).

Dengan akurasi yang diklaim mencapai 99,5 persen, alat ini memungkinkan produsen makanan dan minuman untuk mempercepat proses uji mutu dan keamanan produk sebelum diedarkan ke pasar. 

Hasil pengujian mencakup umur simpan, perubahan fisik dan rasa, hingga potensi paparan mikrobiologi.

“Sebagai contoh, ketika sebuah perusahaan meluncurkan produk permen dengan varian rasa baru, maka sebelum mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk tersebut wajib diuji oleh lembaga independen seperti Alvalab,” jelas Jonathan. “Kami memberikan analisis objektif mengenai kelebihan dan kekurangan produk sebelum diserahkan ke otoritas terkait yang bisa dipertanggungjawabkan dengan sertifikat analisa atau biasa disebut CoA.”

Baca juga: Kemendag dan BPKH Jalin Kerja Sama Perkuat Ekspor ke Arab Saudi

Menurutnya, alat ini sangat relevan bagi pelaku industri yang menargetkan pasar ekspor. 

Rekomendasi Untuk Anda

Sertifikat hasil uji dari Alvalab telah digunakan oleh banyak perusahaan karena memenuhi standar internasional dan diakui oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), BPOM, serta telah mengantongi akreditasi ISO 17025.

Untuk memperluas akses layanan, Alvalab membuka sistem pengiriman sampel dari empat kota besar—Jakarta, Surabaya, Lampung, dan Pontianak. 

Pelaku usaha cukup mengirimkan produk melalui ekspedisi disertai dokumen seperti NPWP, NIB, dan SPPKP. 

Proses pengujian dapat dipantau secara daring melalui akun khusus yang diberikan kepada klien.

Selain pengujian, Alvalab juga menyediakan konsultasi gratis bagi pelaku usaha, termasuk UMKM, untuk memahami standar mutu produk yang berlaku di dalam negeri maupun pasar global. 

Biaya pengujian bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung kompleksitasnya.

Tak hanya produk pangan, Alvalab juga melayani pengujian untuk produk agrikultur, rempah, minyak atsiri, hingga makanan dan minuman impor. 

“Hingga saat ini, sudah ribuan produk dari berbagai sektor yang kami uji demi menjamin kenyamanan dan keamanan konsumen,” tegas Jonathan.

Partisipasi Alvalab di TEI 2025 menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem mutu nasional, terutama di tengah meningkatnya permintaan pasar global terhadap produk-produk Indonesia.

Sebagai catatan, Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menyampaikan bahwa hingga hari kedua penyelenggaraan TEI 2025, nilai transaksi sementara telah mencapai USD 17,27 miliar atau sekitar Rp286 triliun. 

Produk yang paling diminati antara lain batu bara, energi biru, emas, biodiesel, furnitur, minyak sawit, rempah, serta makanan dan minuman.

Tahun ini, TEI diikuti oleh 1.619 peserta dan 8.045 pembeli dari 130 negara, dengan pameran terbagi dalam tiga zona utama: pangan dan pertanian, manufaktur, serta jasa dan gaya hidup.

Kementerian Perdagangan menargetkan total capaian transaksi dagang TEI tahun ini mencapai USD 16,5 miliar atau setara Rp273,5 triliun.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas