Elon Musk: Neuralink Siap Produksi Massal Implan Otak Mulai 2026
Elon Musk umumkan Neuralink akan memulai produksi massal implan otak pada tahun 2026
Penulis:
Bobby W
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Neuralink targetkan produksi massal implan otak pada 2026, dengan prosedur bedah yang hampir sepenuhnya otomatis menggunakan robot.
- Implan dirancang membantu pasien dengan kelumpuhan atau gangguan neurologis, memungkinkan kontrol perangkat digital hanya melalui pikiran.
- Uji coba manusia dimulai 2024 dan hingga kini 12 pasien lumpuh telah berhasil menggunakan implan untuk aktivitas seperti browsing, bermain gim, dan mengontrol kursor
TRIBUNNEWS.COM - Era baru teknologi antarmuka otak-komputer (brain-computer interface) segera memasuki babak baru.
Hal ini terjadi setelah miliarder Elon Musk mengumumkan bahwa perusahaan rintisannya, Neuralink, akan memulai produksi massal perangkat implan otak pada tahun 2026.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam unggahannya di platform media sosial X pada hari Rabu malam waktu setempat (31/12/2025).
"Neuralink akan memulai produksi massal perangkat sensor otak dan beralih ke prosedur bedah yang lebih simpel serta hampir sepenuhnya otomatis pada tahun 2026," ungkap Musk di X.
Musk menyatakan bahwa Neuralink tidak hanya mengejar volume produksi yang besar, tetapi juga akan beralih sepenuhnya ke prosedur bedah robotik otomatis pada tahun 2026 ini.
"Kabel halus pada perangkat tersebut akan dipasang menembus selaput otak (dura) tanpa perlu mengangkatnya terlebih dahulu. Ini adalah pencapaian yang sangat besar," pungkas Elon Musk dalam cuitannya tersebut.
Implan otak Neuralink sendiri dirancang khusus untuk membantu orang dengan kondisi medis berat, seperti cedera sumsum tulang belakang.
Teknologi ini memungkinkan pasien untuk mengoperasikan perangkat digital hanya dengan kekuatan pikiran.
Keberhasilan teknologi ini telah dibuktikan oleh pasien manusia pertama Neuralink.
Hingga saat ini, pasien lumpuh yang menggunakan implan otak tersebut telah berhasil untuk melakukan beberapa hal antara lain:
- Bermain video game.
- Menjelajahi internet (browsing).
- Mengunggah konten di media sosial.
- Menggerakkan kursor pada laptop secara akurat.
Langkah besar menuju produksi massal di 2026 ini menyusul dimulainya uji coba manusia pada awal 2024.
Sebelumnya, Neuralink sempat menghadapi tantangan regulasi setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menolak permohonan mereka pada 2022 karena masalah keamanan.
Baca juga: Elon Musk Gratiskan Starlink untuk Korban Banjir di Sumatera, Bantah Keruk Cuan dari Musibah
Namun, setelah melakukan perbaikan protokol, Neuralink berhasil mengantongi izin resmi.
Pada September lalu, Neuralink melaporkan bahwa sudah ada 12 orang di seluruh dunia dengan kondisi kelumpuhan parah yang telah menerima implan tersebut.
Mereka kini aktif mengontrol alat digital maupun fisik melalui pikiran.
Ambisi Musk untuk memproduksi massal teknologi ini didukung oleh kepercayaan investor yang besar.
Pada putaran pendanaan bulan Juni lalu, Neuralink berhasil mengamankan dana segar sebesar USD 650 juta (sekitar Rp10 triliun).
Dana ini diyakini akan mempercepat otomatisasi prosedur bedah dan skalabilitas produksi chip otak tersebut.
Profil Proyek Neuralink
Neuralink didirikan pada tahun 2016 oleh Elon Musk bersama Max Hodak, Benjamin Rapoport, dan sejumlah tim ilmuwan dan insinyur lainnya.
Perusahaan ini berfokus pada pengembangan teknologi brain-computer interface (BCI) dengan teknik pemasangan implan.
Penggunaan implan ini bertujuan untuk menghubungkan otak manusia langsung dengan komputer.
Tujuan awal Neuralink adalah membantu pasien dengan kondisi neurologis berat, seperti kelumpuhan, cedera tulang belakang, atau gangguan seperti ALS.
Namun, visi jangka panjang Musk lebih ambisius: menciptakan "symbiosis" antara manusia dan AI, bahkan meningkatkan kemampuan kognitif manusia menjadi "superhuman".
Baca juga: Komunikasi Medis Terganggu: 15 Perangkat Starlink Dipasang pada Faskes Wilayah Bencana Sumatera
Implan Neuralink, yang disebut N1 atau "The Link", berukuran sebesar koin dengan ribuan elektroda ultra-tipis (threads) yang lebih halus dari rambut manusia.
Elektroda ini ditanamkan oleh robot bedah khusus untuk meminimalkan kerusakan jaringan otak.
Perangkat ini wireless, diisi daya secara nirkabel, dan memungkinkan pengguna mengontrol perangkat digital hanya dengan pikiran.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.