Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Techno
LIVE ●

Pemahaman Etika AI dan Literasi Digital Senjata Penting Melawan Kejahatan Deepfake

Praktik penipuan deepfake untuk memangsa korbannya dengan memanfaatkan kecanggihan AI belakangan marak dikeluhkan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Pemahaman Etika AI dan Literasi Digital Senjata Penting Melawan Kejahatan Deepfake
Tribunnews.com/Jeprima WD
TERSANGKA DEEPFAKE - Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen. Pol. Himawan Bayu Aji bersama Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko dan perwakilan dari Komdigi saat menggelar konferensi pers dugaan tindak pidana penipuan dengan memanfaatkan aplikasi Deepfake AI di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (7/2/2025). Dari praktik jahat ini para tersangka meraup pendapatan Rp65 juta. 

Ringkasan Berita:
  • Praktik penipuan deepfake untuk memangsa korbannya dengan memanfaatkan kecanggihan AI belakangan marak dikeluhkan.
  • Risiko tetap dapat muncul apabila  pengguna AI tidak memahami batasan dan tanggung jawab etis dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
  • Kolaborasi antara pemerintah dan swasta menjadi kunci dalam membangun ekosistem AI yang aman dan tepercaya. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Praktik penipuan digital di Indonesia semakin canggih seiring makin dalamnya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). 

Belakangan, contoh praktik penipuan yang marak dikeluhkan adalah deepfake untuk memangsa korbannya.

Penipuan deepfake didefinisikan sebagai modus kejahatan yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memanipulasi atau menciptakan konten audio, video, dan gambar palsu yang sangat mirip dengan aslinya.

Baca juga: Deepfake Asusila dan Krisis Kepercayaan Digital

Sindikat pelaku penipuan ini bekerja dengan metode deep learning untuk meniru wajah, suara, hingga gerakan seseorang agar terlihat meyakinkan. 

Berdasar data Kementerian Kominfo, Indonesia mencatat peningkatan peredaran konten deepfake hingga 550 persen berdasarkan data Sensity AI dalam lima tahun terakhir.

Rekomendasi Untuk Anda

Kondisi ini sudah menjadi perhatian pemerintah, khususnya Komdigi, yang terus mendorong kesinambungan antara inovasi dan regulasi agar pemanfaatan AI tidak disalahgunakan sebagai sarana penyebaran konten hoaks. 

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada 2025 lalu sudah meminta platform digital global untuk dapat memberikan dukungan kepada Indonesia dengan menghadirkan fitur pengecekan konten yang dibuat dengan memanfaatkan kecanggihan AI.

Kemudahan akses terhadap teknologi generative AI yang mampu menciptakan gambar, video, dan audio secara instan, turut meningkatkan  potensi penyalahgunaan.

Tanpa dibarengi kesadaran etika dan regulasi yang memadai dan adaptif, teknologi ini berpotensi menyebarkan misinformasi, merusak reputasi individu, serta menimbulkan kerugian bagi berbagai sektor industri.

 Inovasi AI Menuntut anggung Jawab Pegguna

Konten manipulatif seperti deepfake yang kian meyakinkan semakin marak beredar di media sosial dan platform digital. Fenomena ini menyulitkan publik membedakan informasi yang autentik dan hasil rekayasa. 

Di tengah laju pesat kemajuan teknologi AI, peningkatan literasi dan tanggung jawab digital menjadi kunci agar masyarakat dapat memanfaatkan inovasi ini secara aman dan bertanggung jawab.

Sejumlah pemimpin industri menilai bahwa kesadaran manusia sebagai pengguna menjadi faktor krusial dalam pengelolaan risiko AI.

Catherine Lian, General Manager & Technology Leader IBM ASEAN, menekankan pentingnya peran manusia dalam mengawasi sistem AI, terutama seiring dengan semakin luasnya adopsi teknologi ini di berbagai sektor. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas