Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Jalan-jalan ke kawasan Pecinan Lampung, Ini Daerah dan Sejarahnya

Kota Bandar Lampung juga memiliki daerah yang ditahbiskan sebagai Chinatown, atau masyarakat setempat biasa menyebutnya Pecinan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Jalan-jalan ke kawasan Pecinan Lampung, Ini Daerah dan Sejarahnya
Tribun Lampung
Vihara Thay Hin Bio, tertua di Lampung. 

Menurut penuturan Cik Mat etnis Tionghoa yang masuk ke Lampung, terdiri dari tiga marga yaitu, Hokkian, Ken Chin Sha, dan Kong Siew Tong.

"Dari tiap marga tersebut mayoritas pekerjaannya seragam, seperti Hokkian mereka rata-rata menjadi saudagar, Ken Chin Sha pekerjaannya pedagang, dan Kong Siew Tong pekerjaannya sebagai buruh tukang," ungkapnya.

Cik Mat Zein juga menuturkan, pada waktu itu kampung Cina dikepalai oleh Tiga orang Bek (Bek berasal dari bahasa Belanda yang berarti Lurah) yaitu bek Tan In, Bek Bumpong, dan Bek Choa Cham.

Mereka bertiga dipilih oleh Belanda sebagai pemimpin atau pengorganisir di kampung Cina. Pada tahun 1945, Bek-bek tersebut diganti namanya menjadi Lurah, dan nama Kampung Cina diganti menjadi Kelurahan Pasawahan, Kecamatan Telukbetung sampai sekarang.

Pada waktu itu, salah satu penampilan khas pada etnis Tionghoa di Lampung adalah gadis-gadisnya berkaki kecil atau kaki lipat. "Semua gadis-gadis Tionghoa dulu kakinya kecil bulat, seperti tidak memiliki kaki saja.

Kalau berjalan tidak bisa cepat. Namun perempuan berkaki kecil terakhir terlihat pada tahun 1955, selanjutnya tidak ada lagi tradisi mengikat kaki pada etnis Tionghoa," tutur Cik mat.

Rekomendasi Untuk Anda
Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas