Stop Salah Paham! Bukan Terbuat dari Spons, Ini Cara Membuat Es Gabus
Seperti apa ya cara membuat es gabus sehingga teksturnya bisa menyerupai busa? Simak selengkapnya di sini.
Penulis:
Yosephin Pasaribu
Editor:
Content Writer
TRIBUNNEWS.COM – Lapisan warna-warni dengan tekstur empuk dan berpori menjadi ciri khas es gabus. Tak sekeras es potong dan juga selembut es krim, jajanan tradisional ini belakangan ramai dibahas di jagat media sosial.
Isu ini mencuat usai kasus penjual es gabus asal Depok, Suderajat (49), yang difitnah menjual es berbahan polyurethane foam (PU) atau yang biasa digunakan sebagai spons cuci. Peristiwa tersebut bermula dari laporan seorang warga melalui call center 110. Menindaklanjuti laporan itu, anggota Polri dan TNI sigap mendatangi lokasi Suderajat berjualan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.
Dalam video yang beredar, Suderajat tampak diintimidasi dan menerima tuduhan yang mengisyaratkan bahwa dagangannya menggunakan bahan berbahaya. Usai kejadian tersebut, ia mengaku belum berani menjajakan es gabus karena takut dikeroyok oleh sekelompok orang.
Guna menemukan titik terang, Polres Metro Jakarta Pusat menyerahkan sampel dagangan Suderajat ke tim Pusat Kedokteran dan Kesehatan (DOKKES) Polri, Dinas Kesehatan, dan Laboratorium Forensik Polri.
Hasilnya, es gabus yang dijual tidak mengandung zat berbahaya dan dinyatakan layak konsumsi. Buntut kejadian ini, Suderajat mendapat ganti rugi atas barang dagangan yang diamankan selama proses pemeriksaan.
Baca juga: Produsen Ungkap Proses Pembuatan Es Gabus Suderajat: Dijual Rp500 Per Buah, Tanpa Spons
Apa Itu Es Gabus?
Es gabus atau disebut juga es kue merupakan salah satu jajanan tradisional yang pertama kali dipopulerkan di Indonesia sejak tahun 1970-an.
Terkait daerah asalnya sendiri, ada sumber yang mengatakan bahwa es gabus berasal dari Yogyakarta, ada pula yang mengatakan dari Pontianak, Kalimantan Barat.
Meski begitu, jajanan jadul yang menyegarkan ini terbilang cukup terkenal di berbagai daerah, khususnya di kalangan anak-anak, sehingga erat dengan masa kecil masyarakat Indonesia.
Saat ini, keberadaan es gabus bisa dibilang cukup sulit untuk ditemukan. Namun, kamu bisa membuatnya sendiri di rumah. Bahan yang digunakan serta proses pembuatannya pun cukup mudah.
Bahan yang kamu perlukan yaitu tepung hunkwe, santan, gula pasir, dan pewarna makanan. Cara membuatnya:
- Masukkan air dan gula ke dalam wadah. Aduk sampai sedikit larut.
- Masukkan santan dan pewarna makanan, sambil diaduk rata.
- Tambahkan tepung hunkwe, lalu masak sambil diaduk hingga mengental dan tidak ada yang menggumpal.
- Tuang adonan ke dalam loyang yang sudah dialasi plastik. Ratakan, lalu biarkan dingin dan mengeras.
- Keluarkan adonan dari loyang, potong-potong dengan ketebalan sesuai selera, lalu bungkus dengan plastik yang sudah disiapkan.
- Simpan ke dalam freezer dan biarkan sampai membeku.
Mengapa Tekstur Es Gabus Sering Disangka Spons?
Banyak warganet mempertanyakan mengapa es gabus memiliki tekstur yang menyerupai busa. Secara ilmiah, tekstur tersebut sepenuhnya dapat dijelaskan dari proses pembuatannya.
Dalam unggahan Instagram Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jakarta, dijelaskan bahwa tekstur es gabus yang mirip spons merupakan hasil dari proses interaksi antar bahan penyusunnya, terlebih dari penggunaan tepung hunkwe (pati kacang hijau) dan santan.
Ketika kedua komponen tersebut menyatu, terjadi gelatinisasi pati, yakni menyerap air, mengembang, lalu membentuk tekstur adonan yang kental. Ketika adonan ini kemudian didinginkan dan dibekukan, air di dalamnya membentuk kristal-kristal kecil yang menciptakan rongga mikro.
Rongga inilah yang menghasilkan tekstur kenyal, lembut, dan sedikit berpori, sehingga secara visual kerap disalahartikan sebagai bahan spons. Padahal, tekstur tersebut sepenuhnya alami dan berasal dari reaksi pati serta proses pembekuan.
Baca juga: Serda Heri Dijatuhi 2 Sanksi Sekaligus usai Tuduh Suderajat Pedagang Es Gabus, Sempat Minta Maaf
Dari kasus es gabus yang viral ini, kita kembali diingatkan akan pentingnya literasi pangan dan cara menyikapi informasi. Pesatnya kemajuan teknologi seharusnya membuat kita lebih jeli dan tidak mudah percaya pada klaim yang belum terverifikasi kebenarannya.