Buku Versus Globalisasi
Kini zaman telah canggih dan tajam dengan ilmu, semakin banyak hal-hal baru berbau teknologi muncul dalam peran yang begitu memabukkan.
Editor:
Anita K Wardhani
TRIBUNNEWS.COM - Kini zaman telah canggih dan tajam dengan ilmu, semakin banyak hal-hal baru berbau teknologi muncul dalam peran yang begitu memabukkan. Bagaimana tidak? Semakin berganti hari hidup semakin mudah dengan ilmu teknologi didalamnya.
Kondisinya kini, siapa yang lemah dia yang kalah, siapa yang tak mampu mengikuti zaman dialah yang tertinggal, dan siapa yang tak berilmu dialah yang tak mampu. Inilah zaman persaingan, banyak orang berlomba-lomba mencari bahkan menciptakan pengetahuan baru.
Negeriku kini telah maju, begitupun dengan para manusianya. Baru-baru ini saja hadir kabar terkemuka bahwa siswa SMK mampu menciptakan mobil, bukankah itu sebuah karya yang luar biasa?.
Perkembangan masa ini adalah secepat perjalanan awan, yang tak dapat diperkirakan jadinya seperti apa. Yang jelas sudahlah terbukti, apabila tersusun sejarahnya secara detail mengenai perkembangan zaman ini mustahillah dengan manusia yang tak takjub mendengarnya. Teknologi yang kerap memenuhi lingkaran bumi ini tentu banyak sekali manfaatnya, namun bukan berarti manfaatnya dapat menutupi kerugian dari perkembangannya itu.
Seperti halnya dahulu buku yang menjadi pusat para pelajar mendapati ilmu, serta mengerjakan tugas dari guru. Namun kini, tanpa harus mencari dan membolak balikkan lembaran yang penuh tulisan itu, dengan mudahnya sebuah media canggih dapat menggantikan usaha manusia dalam penjelajahannya yang cepat.
Kini pelajar lebih mengandalkan internet dibandingkan buku. Pelajar lebih banyak menggandeng laptop dari pada setumpuk buku. Kalau sudah begini, timbul pertanyaan, "Masihkah sebuah buku bernilai tinggi dikalangan perlajar?". Sementara sedikit demi sedikit manusia terus bergantung dengan internet yang didalamnya meluap banyak ilmu. Tinggal ketik, klik atau enter, begitulah mudahnya menemukan sesuatu yang dicari didalamnya.
Buku kian menjadi nomor yang terbelakang untuk masalah kecepatan menemui ilmu, apalagi bagi seorang yang senangnya instan. Belum lagi kita perhatikan dan bandingkan antara Warung Internet (Warnet) dengan Toko Buku, manakah yang lebih banyak pengunjungnya?. Warung Internet lebih banyak dikunjungi dan diminati kaum pelajar dari pada toko buku atau perpustakaan.
Akibatnya ketika kita lebih bergantung dan memanfaatkan internet adalah munculnya rasa malas dalam diri. Bukan hanya itu, minat baca yang seharusnya dimiliki semua orang apalagi oleh para pelajar kini kian surut. Kaum pelajar lebih memilih duduk santai dihadapan monitor kemudian mengetik kata demi kata yang dicari lalu langkah selanjutnya mengcopy hasil, ketimbang membaca kata demi kata dalam sebuah buku yang penuh ilmu, menggaris bawahi poin penting didalamnya kemudian mencatatnya dalam catatan kecil.
Kalau minat baca yang tinggi dimiliki para pelajar maka Koran atau media cetak lainnya yang mencakup wawasan luas telah menjadi sarapan rutin para pelajar, namun kenyataannya media semacam Koran menjadi cemilan rutin para orangtua. Buku memanglah tua namun sampai kapanpun ia kan tetap berharga. Tulisannya terangkai baik dalam lembaran-lembaran yang tersusun hingga menjadi kumpulan ilmu.
Dalam tulisannya pengetahuan yang kita dapati dalam sebuah buku telah terangkai baik oleh penulisnya, mencakup pengetahuan yang luas dan berharga. Buku itu memiliki ilmu tetap, tidak akan membingungkan si pembaca, terangkai dengan alur, dan makna yang tajam. Banyak perpustakaan umum berdiri untuk kaum pelajar, sebagaimana kebutuhan ilmu para pelajar. Tidakkah buku itu penuh ilmu?
Membaca itu lebih menyenangkan, menghayati ilmu itu lebih memuaskan ketimbang para pelajar melihat tajam kearah monitor. Perkembangan zaman memanglah tidak akan sampai disini. Seiring melajunya usia zaman ini maka akan terus menerus muncul kekayaan teknologi maupun yang hal lainnya yang mampu menghilangkan kekayaan lama yang seakan tertinggal zaman. Kalau buku semakin tertinggal maka dapat dipastikan minat baca para pelajar dapat hilang. Atau dapat dinyatakan, apabila minat baca para pelajar yang tidak dipelihara dan tidak mampu dikembangkan maka mampu dipastikan itulah yang menjadi penyebab terbelakangnya buku.
Mengenai kebaikan internet dan keburukannya.?
Internet merupakan salah satu media canggih yang manfaatnya banyak, diantaranya adalah memudahkan kita dalam mencari pengetahuan atau ilmu-ilmu lainnya secara cepat, mudah sekali hanya ketik sesuatu yang hendak dicari lalu enter, secara kilat software cerdas itu akan menunukan hasil pencarian kita. Selain itu ia juga mampu mengungkap informasi secara terinci, mecakup pengetahuan umum, berita tersorot dan lain halnya yang selalu uptodate. Media canggih ini telah menjadi teman remaja, begitulah kesannya ketika ada tugas sekolah yang rumit maka dengan sigap para pelajar mencari keperluannya di media itu.
Selain itu, internet juga mencakup jaringan yang sangat luas bahkan sanpai ke mancanegara. Dalam hal ini, tidak ada sama sekali larangan mengenai penggunaan internet, hanya saja kita tidak boleh bergantung pada sistem canggihnya. Karena akan membuat kita lebih santai untuk sebuah usaha. Beruntung memang dalam kondisi serba rumit ada jejaring yang menghubungkan manusia dengan komunikasi dan ilmu yang luas.
Namun, hal yang tidak lain dengan kualitas canggihnya internet mampu mengambil hati para penggunanya. Tentu saja pelajar lebih memilih cara cepat itu, dan sadarilah! Kalau telah demikian pelajar lebih malas membaca, artinya bisa jadi akan rendahnya kualitas si kutu buku. Banyak situs-situs yang berbahaya didalamnya. Seperti situs-situs porno yang dengan mudah diakses pelajar dan mampu merusak pelajar.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.