Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Tribunners / Citizen Journalism

Buku Versus Globalisasi

Kini zaman telah canggih dan tajam dengan ilmu, semakin banyak hal-hal baru berbau teknologi muncul dalam peran yang begitu memabukkan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Hal lainnya disamping keburukan internet adalah mampu membuat orang yang mengolah jaringannya mabuk sehingga sulit untuk meninggalkan monitor, maka tak heran kalau seseorang mampu menghabiskan banyak waktu atau berlama-lama menyibukkan dirinya dalam hal cari mencari ilmu atau hiburan di internet.

Bagaimana dengan buku...?
Apabila para pelajar telah terhipnotis dengan kecanggihan media internet, lalu bagaimana dengan keadaan buku yang menyimpan kajian ilmu. Akankah buku hanya menjadi referensi saat dibutuhkan saja? Atau malah hanya menjadi pajangan saja?

Tapi, perlu diperhatikan bahwasannya para penulis yang hebat tidak akan kehilangan ide untuk menyajikan kualitas buku yang oke! Mereka akan terus menari-kan pena untuk menuliskan ilmu-ilmu indah begitu juga dengan pesan yang menyimpan makna sehingga menjadi berlembar lembar dan membentuk karya tebal. Apakah kita akan menyia-nyiakan tenaga dan pikiran mereka? Padahal telah tampak karya mereka dengan fisik yang dibuat indah agar pembaca tertarik mencari manfaat didalam lembarannya.

Hadirnya buku bukan hanya menghantarkan ilmu, namun dengan hal demikian, sosok kotak berlapis-lapis kertas ini memacu seseorang untuk giat membaca. Memang bicara tentang minat baca ini maka tidak akan ada habisnya dalam waktu singkat. Seharusnya membaca adalah hobi para pelajar. Dalam usia muda para pelajar harusnya mampu memupuk minat baca, agar sampai dewasa mampu dikembangkan dan menjadi terbiasa. Bayangkan saja betapa rendahnya minat baca sekarang ini.

Remaja lebih menyukai duduk berlama-lama di depan bioskop untuk menonton sebuah film ketimbang membaca novel yang telah diluncurkan penulisnya. Alasannya adalah "lebih enak nonton bioskop dari pada baca novel yang tebalnya gak karuan" atau "gak ada waktu untuk baca novel setebal itu" dan alasan terakhir adalah malas membaca.

Bagaimana jadinya kalau sebuah novel saja malas untuk dibaca, bagaimana nantinya kalau dengan novel saja remaja atau para pelajar tidak terrtarik? Bagaimana dengan buku-buku yang lain, yang berhubungan dengan pengetahuan umum? apakah hanya dibaca dalam keadaan perlu?  

Khusus para pelajar, ingatlah! Manfaat dari sebuah buku, benda mati yang mampu menghidupkan pikiran. Seorang guru pun yang senantiasa memberikan ilmu kepada muridnya, tidak lepas dari sebuah benda kotak ini, artinya seorang guru pun masih memegang buku, membacanya, dan mempelajarinya.

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam tulisan ini berbicara kepada para pelajar, Apakah kita bisa pandai tanpa buku dan tanpa membacanya? Apakah kita mampu selalu menghubungkan diri dengan internet disaat kita terhimpit membutuhkan ilmu? Sementara buku adalah benda yang mampu dibawa kemanapun. Maka, jangan biarkan buku dimakan zaman. Karena buku adalah gudang ilmu. Dan buku adalah sumber pengetahuan yang permanen.

Ditulis Oleh    : Endah Fazriah, Siswi SMK Prudent School

Halaman 2/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas