Politik Masa Kini dan Kisah Joko Tingkir
Saat Damarwulan sudah sukses menjadi raja, maka hubungan antara Damarwulan dan Patih Lugender mertuanya tidak diceritakan lagi.
Penulis:
Gusti Sawabi
Lugender tak bisa mengelak lagi, akhirnya Damarwulan diperlihatkan kepada Sri Suhita untuk menjadi duta pamungkas mengatasi perlawanan Wirabumi. Kisah pun berlanjut dengan kematian Wirabumi di tangan Damarwulan.
Nah, seperti halnya soal kerbau dan buaya dalam cerita Joko Tingkir yang menguap begitu saja saat Joko Tingkir sudah menjadi sultan, kisah hubungan antara Lugender dengan Damarwulan pun selesai ketika Damarwulan memenangkan pertarungan dengan Wirabumi dan kemudian berhak menjadi raja di Majapahit.
Padahal, dalam cerita Jawa, Lugender adalah mertua dari Damarwulan. Begitulah cerita yang selalu menarik diceritakan kembali saat-saat politik atau terlebih perebutan kekuasaan sedang terjadi. Tanpa Lugender mungkin Damarwulan tidak bisa bertemu Sri Suhita. Tanpa kerbau gila dan 40 ekor buaya, mungkin Joko Tingkir tidak bisa menjadi Sultan di Pajang.
Tetapi demikianlah sebuah cerita perjalanan hidup. Ada yang dimenangkan dan ada yang dikorbankan. Mungkin kondisi saat ini juga akan menjadi lakon ketoprak dalam pentas dari kampung ke kampung, dari gedung ke gedung. Nanti anak cucu kita akan memerankan kita dan mungkin akan mengolah cerita menurut versi mereka sendiri-sendiri. Bisa jadi yang sekarang dianggap sebagai pecundang besok ratusan tahun kemudian akan dikisahkan sebagai pahlawan, atau sebaliknya. Semua tergantung kepentingan. (*)
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.