Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Menumpu Asa pada Selembar Kasur Hangat
Mungkin, jika merenung lebih dalam, tak ada yang lebih menyakitkan dari bencana selain tangis sendu di sela tumpukan kehancuran usai bencana menerjang
Kehancuran harta benda yang harus diterima, sangat betul mengganggu jiwa dan pikiran mereka.
Bayangkan saja, sedikitnya ada puluhan rumah di hari-hari pascabanjir, nampak habis seluruh harta bendanya.
Baju hancur, kotor, sobek tak bisa lagi digunakan, lemari kayu tak berbentuk lagi diterjang derasnya bah setinggi genteng rumah.
Jangan tanya bagaimana bentuk kasur mereka, barang wajib yang sudah dipastikan ada di setiap rumah itu basah, lembab, berubah berbau busuk tak bisa lagi digunakan.
Mungkin milyaran kuman, bakteri dan sumber penyakit lain sudah bersarang permanen di sana, terendam air banjir selama lebih dari 2 hari itu.
“Kasur kerendam lah semua, dibuang sudah, dek bise dipakai lagi,” ucap Anita sambil mengusap peluh dijeda membersihkan sisa lumpur tebal di dalam rumahnya.
Anita adalah satu dari ribuan warga Kelurahan Pintu Air yang terendam banjir hebat Senin (8/2/2016) silam.
Lain lagi dengan Joni, warga Pintu Air yang tinggal persis di gang belakang Posko Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jalan Mentok, Pangkal Pinang.
Di depan rumah Joni yang hancur berantakan, nampak berjejer 5 kasur ukuran besar yang basah total terendam air banjir.
Entah, Joni tampak masih ragu mau diapakan lagi kasur-kasur basah dan bau lumpur tersebut. Jika terpaksa dibuang, ia tak mengerti darimana uang untuk membeli kasur-kasur baru.
Bahkan hampir delapan puluh persen barang-barang di rumahnya pun tak berbentuk lagi dihempas banjir. Menjadi onggokan sampah.
Kini anak dan istrinya sementara diungsikan ke rumah saudara terdekat, sembari menunggu Joni memutar otak mencari alas tidur yang hangat untuk anak dan istrinya.
Kasur memang jadi kebutuhan paling mendesak bagi warga terdampak banjir di Pangkal Pinang untuk saat ini.
Saat bantuan makanan dan baju-baju layak pakai sudah menumpuk, satu hal yang luput bahwa korban banjir Pangkal Pinang ini masih meringkuk di antara dinginnya ubin rumah yang masih lembab dan berbau lumpur.
Butuh ribuan kasur baru untuk menjadi obat penghangat hati dan pikiran, melupakan sejenak derita banjir dalam lelapnya mimpi.
Mari bergabung dalam Program Seribu Kasur untuk Pangkal Pinang.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.