Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Catatan KH Imam Jazuli Tentang Kontroversi Ceramah UAS

Hanya bermodal satu kosa kata ‘kafir’, alumni Universitas al-Azhar itu memerankan diri bagaikan da’i multitalenta.

Catatan KH Imam Jazuli Tentang Kontroversi Ceramah UAS
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Alumnus Univeraitas al Azhar Mesir, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Wakil Ketua Rabithah ma'ahid Islamiyah- asosiasi pondok pesantren se Indonesia- Pengurus Besar Nahdlatul ulama (PBNU) periode 2010-2015. 

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., M.A

Sangat disayangkan, wacana agama tampil seram. Ustad Abdul Somad (UAS) terjebak dalam arus tersebut. Setelah ujaran bernuansa SARA, yakni patung Salib dihuni jin kafir, kali ini UAS menilai penggemar K-Pop dan Drama Korea bagian dari kafir.

Hanya bermodal satu kosa kata ‘kafir’, alumni Universitas al-Azhar itu memerankan diri bagaikan da’i multitalenta. Seni dan kesenian, seperti musik, tari dan film, dikategorisasi menjadi Islami dan kafir. Like and dislike menjadi metode penilaiannya. Bentuk-bentuk kesenian yang disukai disebut Islami dan yang tidak disukainya dituduh kafir. Sehingga penggemar kesenian kafir pun menjadi bagian dari kafir.

Pandangan UAS bisa dirunut pada sebuah hadits yang berstatus kontroversial. Rasulullah saw bersabda:

“Aku diutus menggunakan pedang, hingga Allah disembah tanpa sekutu, rejekiku berada di bawah bayang-bayang tombak, kehinaan dan kerendahan teruntuk orang-orang yang menyalahi perintahku. Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia bagian dari mereka,” (HR. Ahmad, Musnad, 5114; Abu Daud, Sunan, 4031; Baihaqi, Syu’b al-Iman, 1199; Thabrani, Musnad al-Syamiyyin, 216, etc).

KH. Imam Jazuli,  Lc. MA besama Syekh Fadhil al-Jaelani saat beliau berkunjung ke Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon.
KH. Imam Jazuli, Lc. MA besama Syekh Fadhil al-Jaelani saat beliau berkunjung ke Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon. (Istimewa)

Sanad hadits di atas kontroversial. Al-Iraqi menyebutnya shahih (Takhrij li al-Ihya’, 851), jayyid menurut Ibnu Taimiyah (al-Iqtidha’, 269), sholih menurut al-Dzahabi (al-Sair, 15/509), hasan menurut Ibnu Hajar (Fath al-Bari, 10/271), dha’if menurut al-Thahawi (al-maqashid al-hasanah, 1101), bahkan laisa bi syai, hadits yang tidak berguna, menurut Abu Hatim ar-Razi (al-‘ilal, 1/319).

Di dalam  sanad hadits “man tasyabbaha bi qaumin fa huwa minum” terdapat seorang perawi bernama Az-Zabidi, yakni Muhammad bin al-Walid as-Syamiy. Dia suka berdusta (annahu yakdzibu). Hadits kontroversial ini, menurut ulama, bagian dari angan-angannya, fa la’alla hadzal haditsa min awhamihi (al-hukm al-jadirah bil idza’ah, 50-56).

UAS mirip dengan al-Walid as-Syamiy yang suka berangan-angan. Bagaimana mungkin penggemar K-Pop dan Drama Korea disebut bagian dari kafir, sedangkan UAS hanya bermodal memelintir konteks hadits, dari hadits  jihad menjadi komentar tentang kesenian. Dunia musik, tari-tarian, dan perfilman dituduh mengandung muatan nilai-nilai keimanan dan kekufuran.

KH. Imam Jazuli, Lc. MA bersama Syekh Zakariya Moh al Marzuq, dari Universitas al Azhar Mesir ketika beliau berkunjung ke Pesantren Bina Insan Mulia.
KH. Imam Jazuli, Lc. MA bersama Syekh Zakariya Moh al Marzuq, dari Universitas al Azhar Mesir ketika beliau berkunjung ke Pesantren Bina Insan Mulia. (Istimewa)

Pendapat UAS tidak didukung oleh sumber bacaan yang luas. Dalam sejarah kesenian, art for art’s sake (l’art pour l’art) menjadi slogan yang popular sudah sejak abad ke-19. Nama-nama seniman seperti Harry Carlson, John Atwood, Bertha Delisi, Alice Zimmermann, Patrick Duchamp, Max Rey, Jing Wu, Otto Wagner, Ursula Larsen, Sofia Rossi, dan Sofia Delano menjadi pioner pengusung gerakan seni bebas nilai (Antoon van den Braembussche, Thinking Art, 2009: 88). Mustahil senian modern dicampur aduk dengan keimanan dan kekufuran seseorang.

UAS tampak suka dan tidak pernah kapok mengajarkan keimanan Islam yang rentan dan riskan. Setidaknya ada dua alasan mengapa penggemar musik K-Pop dan drama Korea tetap muslim dan bukan bagian dari kafir. Pertama, apresiasi tidak lantas mengubah identitas. Saya kagum dan mengapresiasi pemikiran UAS tidak lantas saya jadi bagian dari UAS. Kedua, seni dan kesenian dilahirkan dari estetika, bukan dari teologi.

KH. Imam Jazuli lc. MA bersama Syekh Mohammad al Basyouni dari Universitas al Azhar Mesir ketika beliau berkunjung ke Pesantren Bina Insan Mulia.
KH. Imam Jazuli lc. MA bersama Syekh Mohammad al Basyouni dari Universitas al Azhar Mesir ketika beliau berkunjung ke Pesantren Bina Insan Mulia. (Istimewa)
Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas