Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

UYM Sosok Teladan Bagi Generasi Milenial Nahdliyyin

Gus-gus keren dari NU ini dapat diandaikan sebagai “Waratsatul” Wali Songo, yang tidak saja seniman, ilmuan, tapi juga wirausahawan.

UYM Sosok Teladan Bagi Generasi Milenial Nahdliyyin
Tribunnews/JEPRIMA
Ustadz Yusuf Mansur selaku pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an (tengah) didampingi Imam Masjidil Haram, Syeikh Adil Alkabani beserta rombongan saat menghadiri Wisuda Akbar Indonesia Menghafal Quran (IMQ) ke 5 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (25/10/2014) silam. (Tribunnews/Jeprima) 

UYM, Sosok Teladan Bagi Generasi "Milenial Nahdliyyin"

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Anugerah Tuhan pada warga Nahdliyyin tidak pernah ada putusnya. Setelah menghadirkan sosok pakar literatur klasik seperti Gus Baha’, da’i seniman seperti Gus Miftah, sejarawan seperti Gus Muwafiq, ilmuan seperti Gus Nadirsyah, ada pengusaha sukses seperti Ustad Yusuf Mansur (UYM).

Anugerah itu mengingatkan kompleksitas generasi milenial kita, yang enggan bergumul dengan perkara monoton. Gus-gus keren dari NU ini dapat diandaikan sebagai “Waratsatul” Wali Songo, yang tidak saja seniman, ilmuan, tapi juga wirausahawan. Bukankah, dai-dai muslim pada era Islamisasi awal juga para saudagar?

Metode dakwah UYM lintas batas. Fokus bidang ekonomi menjadi “lingua franca”, yang bisa dipahami oleh semua orang di jaman sekarang. Menyebarkan Islam melalui dunia bisnis, usaha, perdagangan, keuangan, investasi, dan semacamnya, dapat dipahami oleh mayoritas umat secara lebih luas, lintas ormas, partai politik, bahkan suku dan pulau.

Sejatinya, figur UYM hanya representasi kecil saja. Di dunia pesantren, sepanjang sejarah, kiai-kiai dan santri NU jauh sudah lama membangun ekonomi masyarakat. Ada benarnya ucapan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang mempersulit pencairan dana kredit bagi lembaga-lembaga usaha yang terafiliasi pada NU. Kata Sri Mulyani, terlalu banyaknya unit usaha NU, melebihi angka sepuluh jutaan.

UYM hanya bagian kecil. Bidang garapan dakwahnya mencontoh teladan para Wali juga para Kiai. Guru Mansur (kakek buyut UYM) juga seorang saudagar sukses di jamannya. Dengan begitu, UYM hadir melengkapi ruang-ruang kosong yang belum digarap oleh Gus Baha’, Gus Miftah, Gus Muwafiq, Gus Nadir, dan lainnya.

Bisnis bukan saja “lingua franca” untuk menyampaikan misi Islam. Dunia perdagangan, bisnis, investasi, dan semacamnya dapat menjadi “manhaj fikr”, yang jauh lebih kompleks dan memang sangat mendesak. Bayangkan saja, dalam masa-masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, negara tampak kewalahan. Sri Mulyani mengkhawatirkan jumlah pengangguran dan kemiskinan yang terus bertambah.

Indeks Kinerja Manufaktur (Prompt Manufacturing Index) di April 2020 sudah pada angka 27, padahal Maret masih di angka 47. Sementara itu, mayoritas warga Nahdliyyin adalah komunitas terpinggirkan secara ekonomi. Jika bukan kiai, santri, dan pesantren yang bergerak lebih cepat mendahului negara, lantas siapa lagi yang akan mengurus umat?

Pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi satu-satunya “bahasa” yang dibutuhkan generasi milenial. Muda-mudi muslim umumnya dan warga Nahdliyyin khususnya dapat mencari figur-figur teladan masing-masing, termasuk seperti UYM. Membicarakan perbedaan khilafiah di bidang furu’, seperti bid’ah kurafat, khilafah versus NKRI, memang penting. Tetapi, “ilmul hal” juga penting.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas