Gus Aguk, Sastrawan-Budayawan dari Nahdliyin Paling Moncer
KH Aguk Irawan atau Gus Aguk adalah seorang sastrawan dan budayawan dengan segudang prestasi yang lahir dari rahim Nahdliyin.
Editor:
Husein Sanusi
Dalam hajatan Muktamar Sastra Pesantren yang diadakan di Pesantren Salafiah-Syafi’iyah Asembagus, Situbondo (2018), kiai Kharismatik dan budayawan KH. Mustofa Bisri, atau Gus Mus, termasuk yang menyebut nama Gus Aguk, sebagai santri-sastawan yang karyanya layak dibaca dan patut dibanggakan, karena tahu sopan-santun terhadap kitab Suci al-Qur’an.
Sementara di lingkungan Nadhliyin, beliau memulai sebagai pengurus NU ketika masih remaja, dan aktif di IPNU/IPPNU anak ranting di kampungnya. Kelak ketika ia hijrah ke Cairo-Mesir (1997/1998), tercatat sebagai ketua bidang organisasi PCINU Cairo. Kemudian sepulangnya ke tanah air (2002), ia juga menjadi pengurus distruktural NU, mulai di PP-LKKNU Pusat dan Lesbumi PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta.
Gus Aguk juga tidak hanya berkiprah distruktrual NU, tetapi juga banyak terlibat dijaringan kulturalnya, terutama di LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) pada awal tahun 2000-an. Tercatat, ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Bulletin al-Ikhtilaf, LKiS, 2005. Dari pergaulan di LKiS inilah, saat itu dia sangat produktif menulis di sejumlah media masa Nasional. Ia mengaku mendapat inspirasi, karena intens belajar dan bergaul pada senior dan intelektual muda NU Yogyakarta.
Di NU, nama Gus Aguk mulai dikenal sejak pra-Mukatamar NU di Makasar. Sebagaimana yang terdokumentasi oleh Harian Umum Republika (Sabtu 27 Maret 2010), Gus Aguk beserta pengurus harian Lesbumi DIY-lainya, mengkritik keras pada visi dan misi Kandidat Ketua NU saat itu, menurutnya, tak satupun visi dan misi dari tujuh kandidat ketua umum pada Muktamar ke-32 di Makassar memiliki pertimbangan kebudayaan.
Padahal, lanjut Gus Aguk yang saat itu didampingi oleh Kiai Zastrow dalam konprensi presnya, Jumat 26 Maret 2010, NU sejak semula merupakan gerakan kebudayaan yang berbasis pada tradisi pesantren yang sangat panjang. Sementara, menurut dia, kebudayaan bagi NU adalah tindakan yang berdasarkan fikiran yang jernih dan hati nurani, berorientasi pada kearifan, menghindari prasangka dan tolong-menolong demi kebaikan bersama.
Sehingga tak mengherankan jika pada sosok pendiri NU, kebudayaan dikedepankan daripada sekadar pertimbangan dan langkah politik semata yang dikenal dengan nama politik kebudayaan. Fakta ini perlu ditegaskan karena gerakan kebudayaan NU belakangan hanya berupa retorika, sehingga NU sebagai jam'iyah semakin asing dari warganya sendiri.
Pulang dari Muktamar Makassar, Gus Aguk dan kawan-kawan di Yogyakarta, menerbitkan Jurnal Kebudayaan Kalimah (Lesbumi), dengan jargon meneguhkan Ahlusunnah wal-jamaah wal bid'ah Hasanah. Jurnal ini ditulis oleh banyak aktifis kebudayaan NU, yang sebelumnya sudah sering berkumpul sebulan sekali, keliling seluruh Pesantren-Pesantren sekitar Yogyakarta. Dijajaran redaktur Kang Aguk kebetulan sebagai pimpinan redaksi.
Sementara sebagai Akademisi, Gus Aguk mengajar di banyak kampus, juga aktif menulis pada berbagai jurnal, baik yang sudah punya reputasi Nasional, maupun Internasional. Tulisannya terbaru "Art Practice At The Time of The Prophet, dimuat di Indonesian Journal of Interdisciplinary Islamic Studies (IJIIS, 2020), sementara karya disertasinya Akar Sejarah Etika Pesantren diterbitkan penerbit Imania (Mizan Group, 2019) dan menjadi rujukan penting mengenai Pesantren.
Karena itu, dengan kiprah dan karya-karyanya itu, penulis berpendapat beliau adalah salah satu kader NU yang sangat langka, yaitu sebagai akademisi, kiai, sastrawan, budayawan dan penulis produktif, maka wajarlah kalau ia disebut sebagai salah satu aset berharga NU, khususnya bidang kesusastraan dan kebudayaan. Tak berlebihan disebut sebagai penerus estafet Gus Mus. Wallahu’alam Bishawab.
*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan