Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Catatan Kritis Acara Halal bi Halal Nasional JATTI 2020

JATTI sebagai sebuah organisasi mengelola sebuah website resmi, www.jatti.org, yang memberikan informasi visi-misinya.

Catatan Kritis Acara Halal bi Halal Nasional JATTI 2020
Istimewa
TGB DR. Muhammad Zainul Majdi, MA Ketua OIAAI menerima anugerah Al-Azhar (Ja'izat Al-Azhar) dari Grand Sheikh Al-Azhar, Prof. DR. Ahmed Muhamed Ahmed Al-Tayeb, atas dedikasinya mengukuhkan nilai-nilai wasathiyyah (moderasi), muwathanah (kebangsaan) dan ta'ayusy silmy (kerukunan antar umat beragama) di Indonesia. 

Keberatan penulis sederhana: mendukung siapa pun berpolitik dan menolak pencatutan nama alumni Timur Tengah ke dalam politik pragmatis. Sebab, politik kebangsaan jauh berbeda secara konseptual dan praktik dari politik kekuasaan. JATTI lebih cenderung pragmatis dan mengejar kekuasaan ketika tahun 2019 secara terbuka mendukung Prabowo-Sandi. Hal ini tidak akan pernah ditemukan dalam OIAAI.

Namun demikian, penulis tidak lantas pro-OIAAI sepenuhnya karena aspirasi sebagian anggota yang berpikir bahwa lembaga ini masih dapat tumbuh lebih besar dan berperan lebih luas, semisal menjadi sebagai advokator, mediator, dan lokomotif gerakan alumni Mesir, juga rasional dan kebutuhan realistis. Tetapi, karena OIAAI adalah cabang dan representasi kebutuhan al-Azhar, maka kebutuhan sebagian alumni Al-Azhar tidak terpenuhi oleh OIAAI. Masuk akal apabila kemudian hari lahirlah JATTI.

Artinya, kehadiran OIAAI maupun JATTI sama-sama tidak memenuhi ekspektasi para alumni Timur Tengah. Satu terkesan kaku, dan satu lagi terkesan pragmatis. Jika figur-figur penting di satu lembaga mendukung Jokowi-Ma’ruf, figur-figur penting di lembaga satunya lagi mendukung Prabowo-Sandi. Di sini maksud penulis terkait hancurnya citra alumni Timur Tengah secara umum.

Harus ada jalan keluar lain, rekonsiliasi. Yakni, satu sikap bersama di antara seluruh alumni Timur Tengah yang harus dan betul-betul fokus pada kepentingan luas komprehensif seluruh alumni, serta lebih mengedepankan sinergi dari pada fragmentasi. Eksistensi OIAAI yang dikesankan lebih “TGB Zainul Majdi-Oriented” dapat saja diartikan sebagai alasan fundamental lahirnya  JATTI, terutama ketidak puasan politis sebagian alumni.

Katakanlah nanti ada resolusi ini menjadi alternatif yang lebih netral, mengakomodir semua lapisan generasi, dan menampung segala aspirasi konseptual maupun praktis, kebudayaan maupun sosial-politis. Netralitas dan independensi bukan sebatas di slogan dan pencantuman visi misi melainkan terbukti dalam tindakan. Supaya organisasi alumni tidak terkesan bermuka dua. Wallahu a’lam bis shawab.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas